Anak Serigala

Anak Serigala
Di permainkan Roh Salju


__ADS_3

"jadi aku harus menempa diriku di sini?"


"yaa tentu, bersiaplah untuk patah tulang beribu kali anak serigala yang bodoh"


"hehhh bodoh?"


"hahaa yang pintar kan kakakmu😂"


"kenapa kamu selalu mengejekku Bel, aku ingat sejak aku kecil kamu selalu membuliku, roh macam apa yang tingkahnya seperti remaja 10 tahun, padahal usiamu sudah ribuan tahun😒"


"wahh wahhhhh kupikur cuma Arya yang punya mulut pedas begitu, hahaaa sekarang aku percaya kau itu anaknya" tawa Abel.


"tchh"


"sudah sudah hentikan ocehan tak jelasmu itu, lebih baik persiapkan dirimu untuk latihan yang akan kamu terima besok"


"memangnya di mana aku akan berlatih? ini kan di dalam air"


"besok Billy akan menjemputmu"


"Billy? apa aku akan berlatih di gunung?"


"entahlah🤷"


"cincin ruangku di mana?"


"aku sita"


"apa? kenapa?"


"kamu pikir aku tidak tau di cincin itu ada banyak sumber daya😒"


"jadi aku tidak boleh menggunakannya?"


"kamu harus melatih tubuhmu murni dengan kekuatanmu sendiri, tidak boleh menggunakan sumber daya sama sekali"


"kalau aku sekarat bagaimana?"


"bagaimanapun itu yang jelas Billy takkan membiarkanmu mati" jawab Abel santai.


"dasar mahluk tak berperasaan😒" gerutu anak itu sedikit kesal.


Setelah itu Billy datang menjemputnya, Dirga sama sekali tidak tau di mana dia berada saat itu, karena pada dasarnya Dirga berada di dimensi yang berebeda dari manusia, dia di bawa ke dunia Billy yaitu dunia roh.



"naik ke atas sana" perinta Billy.


"tempat apa itu? tinggi sekali🤔"


"naik saja"


"iya iyaaaa"


Dirga dengan susah payah berusaha menaiki tebing tinggi di hadapannya, batuan yang menonjol dia jadikan pijakan sekaligus pegangan, sudah tidak terhitung berapa kali anak itu terjatuh, bahkan anak itu yakin kalau tulang tulangnya sudah mulai retak.

__ADS_1


Billy terus mengawasinya dari kejauhan, roh itu sama sekali tidak membantunya, selama Dirga masih bisa merangkak Billy akan terus memintanya untuk mendaki tebing curam itu.


Sudah berhari hari Dirga berusaha menaiki tebing tapi masih saja gagal, lalu di dduk termenung sambil memakan makanan yang di sediakan Billy untuknya, sesekali kepalanya menengadah ke atas berusaha melihat ujung tebing yang harus dia daki.


"uhh ok .. sekarang mari kita coba lagi"


Daki daki daki .. gubraakkk daki lahi jatuh lagi daki lagi jatuh lagi, begituuu terus sampai Billy bosan melihatnya, tapi Dirga sama sekali tidak menyerah selagi masih bisa bergerak anak itu terus berusaha merangkak naik ke atas.


"huff .. hufff"


"ini gilaa akuh akuu berhasil"


"BRUKKK" tubuhnya ambruk.


"ck ck .. kamu sudah bekerja keras Dirga" ucap Billy.


Di sebuah rumah kecil Dirga terbangun karena perutnya terasa lapar, matanya terperanjat karena ruangan yang dia tempati penuh dengan alat bertarung, mulai dari pedang, panah, tombak, belati dan beberapa alat asing ada di sekelilingnya.


"kau sudah bangun?"


"ehh i-iya"


"makan dulu setelah ini kita pindah ke tempat lain"


"baik"


Billy menggenggam tangannya dan seketika mereka sudah berpindah tempat, jika tadi adalah tebing tinggi yang teris sekarang berubah menjadi dataran penuh salju yang membuatnya menggigil.



"brr ... brr"


"gunakan tenaga dalammu"


"b-bagaimana caranya?"


"dasar anak bodoh, apa otakmu langsung membeku setelah tiba di sini beberapa menit?"


"uhh a-aku benar benar tidak b-bisa berpikir Bill🥶"


"kurasa kalau aku meninggalkanmu di sini kau akan langsung mati membeku😒"


"🥶🥶"


Bibir Dirga sudah membiru, bagaimanapun juga sekarang dia hanya mengenakan pakaian tipis sehingga hawa dingin langsung menusuk ke tulangnya, karena tak tega Billy menyalurkan sedikit energi hangat padanya, pipinya perlahan memerah dan tubuhnya yang gemetar mulai berhenti.


"sekarang dengar! pusatkan pikiranmu dan alirkan tenaga dalammu ke seluruh tubuh, setelah itu rubah energi itu menjadi energi yang hangat, ingat kataku HANGAT jangan panas, tak perlu pusing pusing cukup bayangkan saja"


"b-baikk🥶"


Setelah belajar beberapa saat akhirnya Dirga mulai bisa mengontrol tenaga dalamnya, tubuhnya terasa hangat meski berada di tengah salju dengan pakaian yang tipis, dan sesuai dengan perintah Billy dia pergi mendaki gunung salju di depannya, untuk Billy sendiri Dirga tidak tau kemana perginya roh tanah itu.


Waktu pun terus berjalan, entah sudah berapa lama Dirga mendaki gunung salju di depannya, sebenarnya Dirga sudah mulai terbiasa dengan suhunya tapi saat badai salju datang anak itu hanya bisa pasrah saat terlempar sewaktu waktu.


"uaaarhhhhh gunung si*lan! kenapa sulit sekali mencapai puncakkkk" teriaknya kesal.

__ADS_1


"buaaghhh"


"uaahhh" sebuah gumpalan salju seukuran tubuhnya tiba tiba mengenainya.


"heyy apa yang kau lakukan?" dengus Dirga kesal.


"harusnya aku yang bertanya begitu, apa yang kau lakukan dengan mengeluarkan umoatan bodoh macam itu😒?" ucap Billy membalas.


"aishh aku frustasi, sudah berapa lama aku terjebak di sini?"


"hampir 2 bulan"


"apa? kalau begitu bagaimana aku bisa membantu kakak ku kalau terus terjebak di sini?"


"itu semua tergantung usahamu, dan..."


"dan?"


"waktu di sini dan di sana berbeda, selama apapun kamu di sini fisikmu takkan menua dan waktu di sini berjalan jauh lebih cepat di banding di dunia manusia, jadi mau 100 atau 200 tahunpun kamu di sini mungkin di sana hanya baru berjalan 1 atau 2 tahun, jadi jangan khawatir"


"sungguh? benarkah itu?" tanya Dirga tak percaya.


"untuk apa raja roh tanah menipu mahluk bodoh sepertimu?"


"ishhh kenapa aku hidup di kelilingi oleh mahluk bermulut pedas sih😒"


"suka suka ku lah, mulut mulutku😏"


"ya yaa baiklah, pokoknya aku akan usaha keras untuk sampai ke sana" ucapnya menunjuk puncak gunung salju.


"yaa berjuanglah .. ohya ngomong ngmong roh salju bilang dua hari lagi akan ada badai besar, persiapkan dirimu dan jangan sampai terlempar ke bawah sana"


"ba-apa? roh salju? jangan bilang badai badai itu.."


"ini kan wilayahnya yang suka suka dia mau membuat badai atau apa hahaa🤣🤣" tawa Billy puas dan langsung menghilang.


"hahhahaaaa jadi hampir 2 bulan aku di permainkan oleh roh salju hahahaaa🤣 anjing🤬" ucapnya sangat kesal.



"astaga terik sekali🥵 ini benar benar aneh kakiku mati rasa karena beku tapi kepalaku terasa seperti terbakar oleh matahari, dunia macam apaa ini?" gerutunya sepanjang hari.


Sepanjang hari Dirga hanya menggerutu mengumpat dan teriak teriak sendiri, semua itu terjadi karena dia hanya sendirian di sana, tidak ada siapapun dan apapun di sana kecuali salju di mana mana.


Matanya terus menatap ke depan sambil sesekali mengelap peluh di pelipisnya, mataharinya memang sangat menyengat jadi tak heran kalau keringatnya mengalir deras, dan lagi salju di kakinya membuatnya sesekali mati rasa karena dingin, cuaca dan keadaan seperti itu benar benar hanya terjadi di tempat Dirga sekarang.


"huahaa haahaa akhirnya akuu sampaaaaaaaaiiii" teriaknya puas.


Tubuhnya dia hempaskan ke salju, dengan nafas terengah senyuman mengembang di bibirnya karena merasa sangat puas, tidak peduli panas dan dingin menyerang tubuhnya, asal dia sampai di puncak maka dia bisa segera pindah dari gunung salju itu.


"GRUDUG .. GRUDUG" suara gemuruh datang dari kejauhan.


Matanya memicing berusaha mengamati apa yang ada di balik suara tersebut, gulungan salju berkekuatan besar datang meghampirinya, Dirga langsung frustasi saat melihat badai salju yang besarnya luar biasa datang ke arahnya.


"haha jadi aku akan di lempar ke bawah lagi😏?" senyumnya pasrah.

__ADS_1


"aaargghhhhh roh salju si*lan, kenapa kau mempermainkakku😫😫😫"


........bersambung......


__ADS_2