
"ibu mau kemana?" tanya Dirga.
"ibu harus ke suatu tempat sebentar" jawab Alara.
"aku ikut, yahhh?" rengek Dirga.
"tidak bisa nak" jawabnya.
"kalau aku?" tanya Arya tiba tiba.
"kamu juga tidak bisa ikut, ibu harus pergi sendiri"
"memangnya ibu mau pergi kemana? apa tempat itu jauh?" tanya Dirga terus merengek.
"jauh .. sangaat jauh"
"apa ibu pergi lama?" tanya Arya penasaran.
"kenapa? apa kamu akan merindukan nyanyian tidur ibu?" tanya Alara.
"tidak, hanya penasaran saja" bantah Arya.
"ayah bisa menyanyikannya" sambung Duwan.
"hehh yang benar saja, bukannya tidur justru aku akan menangis kalau ayah menyanyikan lagu itu" ucap Arya.
"ha ha haaa anak ini kalau bicara jjur sekali" tawa Duwan.
"ya sudah ibu harus pergi dulu yah" ucap Alara.
Alara keluar tanpa membawa apapun, wanita itu tidak seperti orang yang akan melakukan perjalanan.
"grep" peluk Arya tiba tiba.
"ehhh kenapa?" tanya Alara.
"tidak apa apa, ibu cepat kembali ya" ucap Arya.
"emm tentu saja, mana bisa ibu meninggalkan anak anak ibu terlalu lama" jawabnya lembut.
Setelah berbagai drama rengekan Dirga akhirnya Alara benar benar pergi, di pergi sendiri tanpa di kawal Kai, dia ingin harimau itu menjaga keluarganya.
Tidak ada yang tau kemana dan berapa lama perginya wanita itu, bahkan Duwan sendiri tak di beri tahu olehnya, yang Duwan tau istrinya hanya pergi untuk mempersiapkan masa depan putra putranya.
Sudah dua minggu berlalu tapi belum ada tanda tanda Alara akan kembali, kedua putranya terus menunggu ibunya dengan menjalankan semua perintah yang sudah di tinggalkan.
Sebelum pergi wanita itu membuat list/jadwal untuk kedua putranya, Kai di tugaskan untuk menjaga sekaligus mengawasi mereka berdua, jika ada salah satu tugas yang tak terselesaikan maka Kai boleh menghukumnya dengan memberi latihan tambahan.
"hosh hosh hosh .. Kai bisa istirahat sebentar?" tanya Arya.
"tidak! kamu tidak boleh berhenti sebelum matahari tenggelam" ucap Kai.
"hah? yang benar saja? kau mau membunuhku hah?" ucap Arya kaget.
"tchh lakukan saja, lagian ini perintah ibumu" jawabnya santai.
__ADS_1
Arya sedang menjalani sebuah pelatihan keras, selama Alara pergi anak itu benar benar melakukan latihan fisik dua kali lipat dari biasanya, jika biasanya anak itu di suruh berlari menaiki bukit sekarang dia sedang menaiki bukit dengan membawa beban seukuran tubuhnya.
Dirga sendiri justru melakukan latihan lebih ringan, Alara menugaskannya untuk mempelajari buku buku yang sudah selesai di pelajari Arya, dan tugas itu benar benar membuat bocah itu frustasi.
Saat gelap mulai datang Arya masih berada di bukit, anak itu belum sanggup turun karena beban yang dia bawa sekarag dua kali lipat berat tubuhnya, tak peduli angin sebesar apa yang menyapu kulitnya, keringatnya masih terus mengalir.
"hah hahh .. brukk"
Anak itu akhirnya mencapai batasnya, tubuhnya tumbang karena terlalu lelah dengan latihan yang di terimanya hari ini, dengan malas Kai memindahkan tubuh anak itu ke punggungnya dan kembali kerumah dengan berjalan santai.
Arya pulang dengan keadaan tak sadarkan diri, Dirga di rumah terus berteriak karena kepalanya terasa seperti mau meledak dengan tumpukan tugasnya, sungguh suatu pemandangan yang sangat luar biasa, karena kedua anak itu sekarang sedang mengalami masa yang sulit.
Arya memang sudah 3 tahun di latih fisik, dan 1 tahun mulai berlatih pedang, tapi selama itu Arya belum pernah benar benar melakukan latihan fisik yang berat, karena Alara sendiri tau kekuatan anak itu dulu sangatlah lemah, berbeda dengan Dirga yang staminanya benar benar kuat, hanya saja anak itu paling malas kalau di beri sebuah buku karena dia tak menyukainya.
Bisa di katakan Arya adalah maniak buku, anak itu bisa belajar ini dan itu berjam jam tanpa mengeluh, dan Dirga kebalikan Arya, anak itu maniak latihan fisik dan anti dengan buku, bisa di bayangkan seberapa tersiksanya kedua bocah itu saat di beri tugas tak sesuai passionnya masing masing.
"tak .. tak" di pagi yang cerah dengan ramainya suara kicauan burung terlihat dua orang bocah sedang berlatih pedang bersama.
Terlihat ayahnya tengah meracik sayuran untuk putra sulungnya, di sebelahnya ada Kai yang sedang menggulung tubuhnya dan melihat kedua anak majikannya dengan malas.
"apa kau tau apa yang di lakukan Alara?" tanya Duwan pada Kai.
"tau" jawabnya singkat.
"apa yang dia lakukan sebenarnya, kenapa dia tak mau menceritakan apapun padaku?" tanya Duwan lagi.
"bukannya tidak mau, hanya saja majikan tidak ingin kamu khawatir" jawabnya.
"khawatir? apa dia melakukan hal yang berbahaya?" tanya laki laki itu panik.
"kenapa dia begitu? aku tau aku bukan suami yang bisa di andalkan tapi tidak bisakah dia membagikan bebannya padaku?" ucap Duwan frustasi.
"heh Duwan sanjaya apa kau meragukan cintanya? kau tak mempercayai majikan?" tanya Kai kesal.
"bukan begitu, hanya saja aku merasa keberadaanku seolah tak bisa membantunya sedikitpun" ucapnya.
"kau salah, majikan melakukan semua itu sendiri bukan karena ragu dengan kemampuanmu, hanya saja apa yang di lakukan kali ini memang hanya dia yang bisa" ucap Kai.
"aku hanya merasa gagal sebagai suami, kenapa aku membiarkannya berjuang sendirian? harusnya itu tugasku" ucapnya lirih.
"kenapa kau berpikir begitu? bukannya kau sudah bersama majikan selama belasan tahun? harusnya kau paham sifatnya, dia tak pernah meremehkan siapapun termasuk dirimu, dia selalu menghormatimu sebagai suami meski kelakuannya buruk, dia hanya ingin melindungi apa yang dia punya dengan caranya sendiri" ucap Kai makin kesal.
"aku tau Kai aku tau, hanya saja aku merasa terlalu payah, terkadang aku merasa tak pantas berada di sampingnya" keluhnya.
"siapa bilang? justru menurutku kau sangat pantas menjadi pendampingnya" jawabnya.
"benarkah? kenapa menurutmu begitu?" tanya Duwan penasaran.
"meski kau payah dan tak bisa bertarung tapi kau memiliki watakdan perilaku yang sangat dewasa, kau juga sangat sabar menghadapi watak menyebalkannya, meski majikan tidak pernah menunjukan perasaannya secara terang terangan padamu, tapi aku tau dia sangat mencintai menghormati dan membutuhkanmu, dan dia benar benar tak pernah meremehkanmu, baginya kau bukan sekedar suami atau ayah bagi anak anaknya tapi lebih dari itu" terang Kai panjang.
"lebih dari itu? sungguh?"
"kau tau sendiri kan dia tak pernah mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya sejak kecil, meski dia sudah mendapat kasih sayang ayahnya tapi hubungan keduanya tetap canggung karena adanya jarak antar keduanya, dan darimu dia mendapat segalanya, kasih sayang dari seorang ayah, ibu juga teman, baginya keberadaanmu sudah melengkapi hidupnya" terangnya lagi.
"benarkah aku seberarti itu?" ucap Duwan tak yakin.
__ADS_1
"kau meragukan ikatan antara aku dan majikan? secara tidak langsung aku bisa merasakan segala emosinya karena adanya kontrak di antara kami berdua, aku bisa merasakan kegelisahan kebahagiaan amarah juga kesedihannya, aku selalu merasakan emosi bahagia setiap dia bersamamu" terang Kai lagi.
"syukurlah jika dia bisa bahagia bersamaku, selama ini aku selalu takut dia tak bahagia" ucapnya lirih.
"percayalah padaku majikan sangat bahagia hidup bersamamu, hanya saja mengingat wataknya yang keras dia tak pernah bisa mengungkapkannya terang terangan" ucap Kai meyakinkan.
"iya aku percaya, apapun yang tengah dia lakukan sekarang aku yakin itu untuk kebaikan kita berdua, sekarang aku tak sabar ingin bertemu dengannya, semoga saja dia segera kembali" ucap Duwan mantap.
"maafkan aku, aku tak bisa mengatakan segalanya padamu, tapi aku yakin kau akan selalu mendukung apapun keputusannya" ucap Kai tertunduk.
Hari terus berjalan dan berganti, sudah hampir satu bulan Alara pergi, Dirga tiada hentinya menanyakan kepulangan ibunya, anak itu terlihat jelas sangat merindukan ibunya, Arya juga selalu tertunduk saat adiknya menanyakan keberadaan ibunya, anak itu juga sangat merindukan ibunya tapi dia tak mau manunjukannya.
"majikan!" ucap Kai tiba tiba.
"ibu? mana?" tanya Arya spontan.
"ibu pulang? wahhh ibu pulang" seru Dirga saat melihat ibunya.
"istriku" sambut Duwan memeluk istrinya tak lama kedua putranya juga ikut bergabung.
Selama ini mereka tak pernah terpisah barang seharipun, jadi sudah pasti keempat lelaki itu sangat merindukannya (termasuk Kai).
"apa kalian melakukan tugas dengan baik?" tanya Alara.
"tentu" jawab keduanya.
"bagus .. kau menjaga anak anak dengan baik Kai" puji Alara.
"apa hanya aku yang tidak mendapat pujian?" protes Duwan.
"tentu saja kau juga memberi mereka makan dengan layak kan?"
"tentu saja" ucap Duwan bangga.
Mereka berlima bersama sama masuk ke dalam rumah, kebetulan makanan sudah tersedia dan mereka akan makan siang bersama.
"kalian makan dulu saja" perintah Alara.
"kenapa ibu tidak makan?" tanya Arya.
"ibu sudah makan, kalian makan saja" ucapnya pergi.
Belum juga melangkah terlalu jauh tiba tiba tubuhnya terhuyung.
"bruukk " tubuhnya ambruk.
"ibu "
"sayaang"
"majikaaan"
teriak mereka panik.
......bersambung......
__ADS_1
maaf karena chapter ini sedikit pendek.