
"aku pesan tiga porsi daging bakar kualitas terbaik"
"baik tuan, apa anda tidak membutuhkan arak?"
"tidak! beri aku air putih saja"
Dirga duduk berdua dengan Emely, hanya dalam semalam lukanya sudah sembuh, hanya meninggalkan bekas di pipinya saja, rambutnya sudah di potong pendek karena sudah terbakar.
Tidak ada dialog apapun antar keduanya karena Emely merasa canggung sekaligis takut pada Dirga, sementara dirga sensiri memang sudah malas berbicara padanya.
"silahkan tuan" ucap pelayan setelah membawa tiga porsi daging bakar.
Aroma wangi dari rempah dan rasa gurih dari bumbu yang di padukan membuat Neesa terbangun, binatang kecil itu langsung menjatuhkan diri ke dalam piring berisi daging yang masih panas.
Dengan lahap Neesa memakan daging yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya, Emely kaget saat melihat tiba tiba ada binatang yang melompat ke daging panas tersebut, tapi dia tak berani bertanya apapun karena melihat wajah Dirga biasa saja melihatnya.
"binatang apa itu? kenapa aku baru melihatnya? apa binatang itu milik pemuda ini" batin Emely.
"makan itu selagi hangat" perintahnya.
"b-baik" jawab Emely kaget.
Ketiganya makan dengan lahap tanpa peduli pandangan sekitar, sebenarnya kedai makanan yang di datangi Dirga adalah kedai besar yang biasa di datangi oleh para orang kaya dan keluarga bangsawan, melihat Dirga menggunakan pakaian biasa dan Emely menggunakan kain penutup kepala membuat orang sekitar merasa aneh.
Mereka terlihat seperti orang miskin yang sok sokan makan mewah di sana, apalagi dengan adanya Neesa di meja itu membuat beberapa orang menganggapnya jijik.
"eewww binatang apa ini?"
Tiba tiba ada seorang pemuda yang mengangkat Neesa dengan menarik tunas di punggungnya.
"papa ini sakit!"
"apa yang kamu lakukan?" decak Dirga langsung merebut Neesa.
Neesa sendiri langsung merambat dan melingkar di leher Dirga, Emely yang melihatnya langsung teringat kejadian semalam, saat dia berniat mencelakai Dirga tiba tiba ada api yang menyembur dari area leher Dirga, jika perkiraan Emely benar maka binatang itulah yang membakar wajah dan rambutnya semalam.
Sontak ingatan itu membuat bulu kuduknya berdiri, sensasi panas yang menjalar di seluruh tubuhnya masih dia ingat dengan jelas, tidak pernah terfikirkan olehnya untuk mengalami hal itu dua kali.
"aku hanya penasaran kenapa kedai ini menerima tamu gembel sepertimu, dan lagi kamu memesan daging kualitas terbaik? apa kamu sanggup membayarnya?" ejeknya.
Ejekan pemuda itu di sambut gelak tawa dari orang di sekitarnya, mereka merasa seolah rasa penasaran mereka di wakilkan oleh pemuda tersebut.
"apa urusanmu?"
"urusanku? tentu saja hal itu merusak pemandangan, tamu di sini kebanyakan orang orang kaya dan para bangsawan, pemandangan gembel sepertimu yang membaur di antara kami benar benar merusak mood ku" ejeknya lagi.
"itu bukan urusanku" ucap Dirga tak peduli.
Anak itu sepenuhnya paham bahwa pemuda di depannya adalah sosok Roman di masa lalu, sosok manusia yang sombong akan gelar dan kekuasaan yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan apapun.
Dirga terus memakan makanannya dan mengabaikan celoteh pemuda tadi, Emely hanya mengikutinya makan saat Dirga makan dan akan berhenti saat Dirga berhenti.
__ADS_1
"praang"
Piring daging milik Neesa pemuda itu lempar ke lantai, tentu saja hal itu karena dia kesal sudah di abaikan oleh Dirga, apalagi beberapa orang mulai menertawakannya karena dia di abaikan.
"papa dagingku" keluh Neesa melihat makanannya di lempar.
"apa anda tidak mempunyai pekerjaan? kenapa anda menggangguku?" tanya Dirga datar.
"kau itu tidak tau sopan santun yah? saat ada orang yang berbicara padamu tidak sepatutnya kamu mengabaikannya, kau pikir kau di mana?" ucaonya dengan nada penuh ancaman.
"aku hanya sedang mampir di sebuah kedai untuk mengisi perutku, tiba tiba ada serangga datang mengganggu dan berceloteh tak jelas, apa menurutmu aku harus meladeni serangga itu? bukannya lebih baik jika aku menyingkirkannya?" ucap Dirga penuh penekanan.
Daging yang ada di tenggorokan Emely langsung tersangkut saat mendegar ucapan Dirga, kembali kenangan pahit berputar putar di kepalanya, gadis itu tau betul pemuda yang di ikutinya itu bukan pemuda sembarangan.
"haaa serangga katamu? wah .. dasar bocah sombong tak tau diri"
"sombong? bukannya dari tadi kamu yang sombong? kamu mengataiku gembel seolah kamu mengenalku" ucap Dirga lagi.
"gembel sepertimu harusnya sadar tempat, kenapa kamu bersikap searogan itu?" ucap pemuda itu geram.
"haaahhh kenapa hidupku selalu di kelilingi anjing yang hanya bisa menggongong" decak Dirga seolah mengejek.
"anjing? hahaaa kau mengataiku anjing?"
"ohh apa kamu merasa kamu mirip anjing?" ledek Dirga lagi.
"k-kau.."
"diam dan kembalilah ke mejamu, jangan menggangguku🤬"
Emely langsung berdiri saat meja di hadapannya hancur sekali gebrakan oleh Dirga, keheningan langsung menyelimuti kedai tersebut karena kaget dengan kekuatan Dirga.
"t-tuan to-tolong bersabarlah" ucap pemilik kedai memberanikan diri.
Barang tentu pemilik kedai itu ketakutan, tapi dia juga tak bisa membiarkan kedainya hancur karena kekesalan pemuda sekuat Dirga, maka mau tak mau dia berusaha menenangkan Dirga untuk mencegah kedainya roboh.
"hahhh hancur sudah"
Dirga mendekati pemilik kedai dan memberi 3 koin emas untuk makanan dan mengganti mejanya, selera makannya sudah hancur karena di ganggu oleh pemuda asih tadi, sementara itu pemuda itu masih terduduk karena kaget saat Dirga menggebrak meja tadi.
"papa aku lapar"
"papa ayo makan" keluh Neesa.
"kenapa kamu cerewet sekali?"
"a-aku tidak bicara apapun" ucap Emely.
"bukan kau"
"oh maaf" ucapnya tertunduk.
__ADS_1
"kalau bukan bicara denganku lalu dia bicara dengan siapa?" batin Emely heran.
Walaupun gadis itu sangat penasaran mulutnya tetap terkunci, dia tidak mau membuat kesalahan dengn membuat pemuda di depannya kesal.
Dirga kembali memasuki sebuah kedai kecil yang letaknya agak jauh dari kedai tadi, walaupun selera makannya hancur rasa laparnya masih tetap ada, jadi harus ada makanan yang masuk ke perutnya untuk menghentikan demo cacing dalam perutnya.
"beri aku lima porsi olahan daging terenak di sini"
"lima? bukannya tuan hanya berdua?" tanya pemilik kedai heran.
"berikan saja" ucapnya sedikit ketus.
"ba-baik, minumnya?"
"air putih"
"baik tuan tunggu sebentar"
Dirga hanya duduk terdiam, matanya terus menatap ke depan dan terlihat sangat kesal.
"papa marah?" tanya Neesa.
"tidak! aku hanya kesal" jawabnya.
"Neesa lebih suka melihat papa tersenyum, jangan terlalu lama kesal ya pa"
"hmmm"
"dia bicara sendiri lagi? mungkinkah dia sedikit gila" batin Emely menerka.
Saat makanan tiba Dirga dan Neesa langsung makan dengan lahap, Emely yang tidak di suruh makan hanya bisa menatapnya heran.
"kau tidak makan?"
"ahh i-iyaa" jawabnya gagap.
"papa ini lebih enak dari daging tadi" ucap Neesa senang.
"apa kamu menyukainya?" tanya Dirga mengisap kepala Neesa.
"iya papa, aku akan makan dua porsi"
"baiklah makan sebanyak yang kamu mau" ucap Dirga lembut.
"apa dari tadi dia bicara dengan binatang itu? tapi aku tak mendengar apapun" batinnya semakin heran.
"BRAKK" suara pintu kedai terbanting dengan keras.
"hhhh serangga s*alan" hela nafasnya terdengar kesal.
....bersambung....
__ADS_1