
"uhukkk akhhh hhh hhh"
"kau lihat? kau tidak bisa mengalahkanku"
"hh apa kau pikir aku sudah kalah?"
"tentu saja, meskipun kamu menyerap batu permata raja kelelawar tapi aku yakin batu itu sudah di murnikan, kamu tau apa artinya itu"
"tentu saja ku tau, aku hanya mendapat setengah kekuatannya"
"bwahahahaaa jadi sekarang kamu tau apa maksudku?" tawa ratu kelelawar menggema.
"hmpp kau salah, aku memang mendapat setengah kekuatan itu tapi apa kamu pikir aku hanya berdiam diri saja selama 11 tahun?"
Bibir Arya menyunggingkan senyum, senyum aneh yang tampak menyeramkan di mata ratu kelelawar, seolah instingnya mengatakan bahwa bahaya ada di depan matanya.
Tepat sesuai dugaannya Arya tiba tiba berdiri dengan bantuan pedangnya, dia memejamkan mata beberapa saat lalu.
"keluar"
Seluruh orang yang diam mematung tiba tiba berbondong bondong keluar, bahkan Bimo yang tadinya tegang menyaksikan pertarungan antara Arya dan ratu kelelawar juga ikut keluar.
Ratu kelelawar menganga tak percaya, baru saja seluruh manusia yang dia kendalikan sudah tidak ada dalam kendalinya lagi, saking kagetnya tanpa sadar tubuhnya menjauh dengan sendirinya.
"heyyy mau kemana kau kelelawar jelek?"
"JLEEB"
Dengan sekali gerakan tiba tiba Arya sudah berada tepat di depannya dan menikam jantungnya.
"KYAAAAAKKKKKKK"
Teriakkan terakhir yang mengerikan sekaligus memilukan sampai menggetarkan seluruh dinding goa, kelompok yang ada di sebelah berlari mendekat dan melihat pemandangan di depannya.
Tubuh Arya yang tertutup oleh darah sedang berdiri di atas bangkai kelelawar yang ukurannya dua kali lipat tubuhnya, tubuh kelelawar tersebut di terlihat berlubang di bagian dada dan kepalanya.
"tetua hh akuh serah kan sisa nya"
"BRUGG" tubuhnya jatuh terkulai.
"Aryaa!"
"se-sebenarnya apa yang terjadi di sini?" ucap salah satu murid.
"tidak penting apa yang terjadi, kalian berdua bawa Arya keluar, kami akan menyelesaikn sisanya" ucap tetua Dani pada dua murid di belakangnya.
__ADS_1
"tapi tetua, di mana tetua Seto dan lainnya? kenapa hanya ada Arya di sini?"
"kita urus itu nanti, kita harus segera menyingkirkan bibit bibit siluman ini" ucap tetua Aryo memberi perintah.
Segera setelah Arya di bawa keluar, seluruh orang membantai ratusan anak kelelawar dan beberapa kelelawar dewasa yang tersisa, tudak ada perlawanan tertentu karena tidak ada satupun kelelawar yang kuat.
"bagaimana bisa mereka ada di sini?"
"ini aneh, periksa mereka"
"mereka masih hidup"
Dua anak yang membawa Arya keluar makin bingung setelah melihat tiga tetuaa dan beberapa temannya ada di luar goa dalam keadaan tak sadarkan diri, mereka memeriksa setiap tubuh yang ada dan hanya ada beberapa saja yang terluka, itupun hanya luka goresan biasa.
"Fit tubuh Arya tiba tiba dingin" seru Dana.
"bukannya tadi suhu tubuhnya biasa saja?" tanya Fito.
"aku rasa ini tidak baik, kita harus segera membawanya ke sekte, aku takut terjadi sesuatu"
"sebentar aku akan masuk dan meminta seseorang untuk berjaga di sini, kamu gosok terus kedua tangan Arya agar sedikit hangat" ucap Fito segera memasuki goa.
Setelah keluar bersama salah satu temannya Fito dan Dana segera bergegas kembali ke sekte, tak lupa mereka berdua membungkus tubuh Arya dengan jubah milik keduanya.
Kepulangan mereka bertiga yang terkesan sangat buru buru, mengundang kekhawatiran bagi seluruh murid dan para tetua di sana, apalagi saat ketiganya langsung berlari ke balai pengobatan dan berteriak meminta di panggilkan tabib.
"kyaaaa .. da-daraah" jerit Kemala saat melihat tubuh Arya penuh darah.
"t-tenang tetua, kami berdua sudah memastikan tidak ada luka di tubuhnya, aku rasa itu darah para kelelawar" ucap Dana menenangkan.
"darah kelelawar? sebanyak ini?"
"emm itu, sebenarnya kami tidak tau apa yang terjadi, saat kami menemukannya Arya sedang berdiri di atas bangkai kelelawar yang ukurannya sangat besar, dan setelah itu dia pingsan"
"sangat besar, sebesar apa?"
"mungkin dua kali lipat lebih besar dari tubuh manusia, dan sepertinya Arya mengalahkan kelelawar itu sendirian" ucap Dana agak ragu.
"astaga sebenarnya apa yang di lakukan anak ini" ucap Kemala sambil mengelus rambutnya.
Selang beberapa lama 17 orang yang tersisa kembali, mereka saling memapah satu sama lain karena lemas, ada beberapa anak yang masih pingsan tapi untungnya tidak ada yang luka serius, hany 2 anak yang telinganya masih sakit karena efek suara ratu kelelawar.
Setelah tabib selesai memeriksa dia memastikan Arya tidak mengalami luka apapun, tapi anehnya tubuhnya masih dingin dan terus menggigil, para tabib sampai bingung di buatnya.
"ahh aku ingat" Kemala tiba tiba berdiri dan berlari dengan kencangnya.
__ADS_1
Pemandangan itu sontak membuat Arga panik karena istrinya yang tengah hamil muda berlari melewati dirinya begitu saja, karena ikut panik Arga pun ikut berlari di belakang istrinya, hanya saja karena kemampuan fisiknya tak sebaik Kemala laki laki itu terengah setengah mati di buatnya.
"hhaahh sayang, kenapa kamu berlari sekencang itu?" tanya Arga saat berhasil meyusul.
"nanti aku jelaskan"
Hanya dengan sepatah kata wanita itu kembali berlari layaknya orang kesetanan, dan kali ini Rian yang panik melihat adiknya berlari secepat itu, dan setelah bertanya kepada salah satu murid Rian tau bahwa murid adiknya sedang ada di balai pengobatan dan kemungkinan terluka.
Sesampainya di sana Kemala langsung membuka botol kecil yang ada di genggamanny, botol seukuran ibu jari itu berisi cairan berwarna ungu dengan aroma yang menyengat, pelan pelan dia meminumkannya pada Arya dengan harap harap cemas.
"Mala apa yang terjadi pada Arya?" tanya Rian saat tiba.
"aku tidak tau kak, tapi aku harap dia segera sadar"
"hahhh sayang, adoohhh napaskuu aiir aiiir" eluh Arga.
Segera laki laki itu menenggak air yang ada di dekat Kemala, nampak sekali perbedaan fisik antara Kemala dan suaminya itu.
"sayang kenapa kamu berlarian seperti itu? tidakkah kamu ingat kamu sedang hamil?" tanya Arga setelah tenaganya kembali.
"ahh ituu aku tadi panik jadi.."
"lain kali jangan begitu, kehamilan di usiamu yag tidak muda itu resikonya tinggi, kamu harus hati hati"
"iya maaf, tadi aku hanya buru buru saja"
"memangnya apa yang tadi kamu ambil di rumah?"
"aku tidak tau, tapi pagi tadi sebelum pergi Arya memberikan botol ini padaku, dia bilang kalau dia kembali dengan keadaan tubuh dingin dan menggigil aku harus memberinya air yang ada di botol ini" terang Kemala sambil menunjukan botol pada suaminya.
"hmm baunya kuat sekali, air apa itu?" ucap Rian.
"entahlah kak, air apapun itu semoga Arya segera bangun, sayang tolong kompres tubuhnya aku akan kembali ke rumah dan mengambilkan pakaian ganti"
"baiklah"
"biar ku bantu" ucap Rian.
"tidak usah kak biar aku saja, lebih baik kakak kembali ke balai pembukuan, bukannya di sana tidak ada orang?"
"ohh iyaa, ya ampun aku sampai lupaš¤¦, ya sudah tolong kamu jaga dia baik baik"
Kemala memasuki kamar Arya, kamar kecil itu terlihat rapi dan ada beberapa buku di dalamnya, ada juga sebuah busur peninggalan ibunya yang dia gantungkan di atas tempat tidur.
Sudah lebih dari 4 tahun Kemala tidak pernah masuk ke kamar itu, kamar yang dulunya kosong kini di penuhi barag milik kedua muridnya.
__ADS_1
"kenapa Arya memberikan itu padaku? seolah dia tau kejadian ini akan terjadi" gumam Kemala heran.
"hhh aneh sekali, aku benar benar tidak tau apapun tentang anak itu" ucap Kemala sedikit murung.