Anak Serigala

Anak Serigala
Racun


__ADS_3

"wahh Dirga kemampuanmu benar benar luar biasa" puji Rian.


"hehee terima kasih paman guru" jawabnya canggung.


"paman guru? paman saja, kau kan murid adikku" ucapnya.


"tidak boleh, paman guru kan juga melatihku jadi paman juga guruku" bantah Dirga.


"hmm baiklah terserahmu saja, latih terus gerakanmu aku harus kembali ke balai pembukuan" ucap Rian.


"baik, terima kasih paman guru" serunya.


"paman guru yah? kupikir setelah cacat begini aku tak bisa mendengar panggilan itu" gumamnya tersenyum.


Rian dan Kemala adalah murid yang di bimbing oleh ketua sekte Ombak laut, keduanya merupakan murid jenius yang benar benar bersinar pada masanya, sayangnya kecelakaan yang menimpa Rian 9 tahun lalu membuatnya terpuruk beberapa tahun, untungnya adiknya selalu setia menyemangati kakaknya agar bisa bangkit.


Saat Dirga memanggilnya dengan sebutan paman guru hatinya langsung bergetar, selama ini dia sudah mengubur rapat rapat mimpinya untuk memiliki penerus jurusnya, tapi setelah mendengar panggilan Dirga harapan kembali tumbuh pada dirinya.


Hari terus berjalan sudah 2 bulan Kemala menjalankan misi tapi dirinya tak kunjung kembali, Arya dan Dirga terus berlatih di bawah bimbingan Rian dengan giat, sesekali mereka ijin keluar untuk menemui Kai karena mereka belum mempunyai cara untuk memasukkan Kai ke dalam sekte.


"kakak sebenarnya aku sedikit penasaran, apa jurus pedang itu bisa di gunakan dengan belati milikku?" tanya Dirga.


"hmm aku kurang tau, tapi belati dan pedang kan berbeda dik" jawabnya.


"iya juga sih"


"bukannya paman guru bilang kita mendalami salah satu saja, apalagi paman guru menurunkan ilmunya padamu" jawab Arya.


"hehehh aku hanya merasa kakak sangat keren saat bermain pedang" jawabnya polos.


"keren apanya, gerakanku masih sangat kasar, sudah dua bulan aku berlatih tapi ternyata sulit untuk mendalaminya" ucap Arya.


"kalau begitu kita hanya perlu menambah waktu latihan kita, semakin kita giat berlatih maka semakin besar kemungkinan kita untuk menguasai ilmu kita" usul Dirga.


"ohya kak seingatku bibi guru memintamu jangan terlalu kencang menggenggap pedang" ucap Dirga lagi.


"ahh benar juga, kenapa aku melupakan hal sepenting itu, dan kenapa kamu baru mengingatkan aku sekarang?" ucap Arya.


"hehh aku juga baru ingat, kak aku ke balai pembukuan dulu, ada yang ingin aku tanyakan pada paman guru" ucapnya berlari.


"jangan pulang terlalu gelap, hari ini jatahmu untuk membersihkan rumah" teriak Arya.


"siap bos"


Sesampainya di balai pembukuan terlihat Rian sedang berbicara serius dengan seseorang, raut wajahnya terlihat gelisah dan khawatir.


"salam paman guru, salam tetua" sapa Dirga.


"ehh ini muridmu?" tanyanya.

__ADS_1


"em dia murid adikku tapi sedang di titipkan padaku"


"siapa namamu?"


"Dirga tetua" ucapnya membungkuk.


"hmm jadilah murid yang berbakti" ucapnya pergi.


Dirga kembali membungkuk saat orang tersebut pergi, Rian juga dengan tongkatnya ikut memberi hormat.


"ada apa kamu kesini?"


"emm paman guru, apa ada masalah?" tanya Dirga.


"apa kamu sempat mendengar sesuatu?" tanya Rian.


"ahh ituu .. maaf tadi aku sedikit dengar" jawabnya.


"huftt lagian kamu ini muridnya, cepat atau lambat juga kamu akan tau, bibi gurumu sekarang sedang terbaring di balai pengobatan" ucap Rian serius.


"apa yang terjadi pada bibi guru?" tanyanya.


"dua bulan lalu dia dan rekannya mendapat misi untuk memburu kelompok pendekar ahli racun, awalnya semua berjalan lancar tapi seorang bocah yang dia kira tawanan ternyata adalah anak dari si pemimpin, dan bibi gurumu terkena racun" ucapnya lirih.


"apa? racun? racun apa paman guru?" tanyanya panik.


"tetua bilang Kemala terkena racun jamur darah, seluruh pembuluh darahnya tersumbat dan kondisinya sangat memprihatinkan, mereka hanya bisa mempertahankan nyawanya sementara waktu, para tabib saat ini sedang repot mencari obatnya"


"jamur darah" ucapnya.


"jamur darah jamur darah jamur darah" ucapnya terus berlari.


Rian sendiri bingung dengan murid adiknya, tapi dia memilih menjenguk adiknya di balai pengobatan.


Dengan kecepatan penuh Dirga lari ke kediaman gurunya, dia ingat betul kakaknya sangat banyak tau tentang racun.


"braakk .. kakak" teriaknya.


"aaa copot copot" ucapnya kaget.


"plakkk .. dasar anak nakal" sambungnya lagi.


"hhh hhhh kalo mau menghukum nanti saja, ada hal penting" ucapnya.


"ada apa?" tanya Arya penasaran.


"bibi guru sekarang terluka, dia terkena racun" ucapnya.


"racun? racun apa?" tanyanya.

__ADS_1


"jamur darah, aku ingat dulu kakak pernah membahas itu dengan ayah" ucapnya.


"apa? ayo kita lihat" ajaknya langsung menarik Dirga.


Kali ini giliran Arya yang berlari dengan cepatnya, kecepatannya hampir imbang dengan kecepatan lari Dirga dulu.


Sesampainya di balai pengobatan, terlihat ada dua sosok orang yang tengah terbaring, Rian duduk di sebelah adiknya dengan tatapan sayu, terlihat wajah Kemala sangat pucat dan bibirnya menjadi biru keunguan.


Dua orang tabib terlihat tengah berembug mencari jalan, mereka kebingungan membuat penawar racun jamur darah, selain menyumbat peredaran darah jamur darah juga perlahan merenggut fungsi otak jika di ramu dengan bahan bahan khusus, melihat Kemala dan rekannya masih hidup juga merupakan sebuah keajaiban.


"kakak, apa kakak tau penawarnya?" bisik Dirga.


"aku tau, tapi dari mana kita mendapat bahannya?" bisik Arya.


"bukannya di cincin ruang banyak tanaman herbal?" tanya Dirga.


"oh iya, aku ke rumah dulu, kau disini saja bersama paman guru, kabari aku kalau ada sesuatu" ucap Arya langsung pergi.


Arya dan Dirga di ijinkan masuk karena keduanya merupakan murid Kemala, mengingat keadaan gurunya kritis maka keduanya di ijinkan masuk.


Sesampainya di rumah Arya langsung mengunci pintu dan mengeluarkan peti obat dari cincinnya, dengan gugup anak itu mencari segala tanaman yang dia perlukan


"huhh syukurlah semua bahannya lengkap" ucapnya lega.


Dengan gesit anak itu membersihkan seluruh bahan yang ada, dan dengan teliti menaker setiap bahan yang di perlukan.


"dak dak .. kakak" ketuk Dirga.


"krieet .. ada apa?"


"rekan bibi guru meninggal" jawabnya.


"apa? bagaimana dengan bibi guru?" tanya Arya panik.


"kondisinya terus menurun, mereka sudah siap mengumumkan kematiannya, apa obatnya sudah jadi?" tanya Dirga.


"sudah, tapi tunggu dulu sampai ramuan ini mengendap, kita hanya perlu setetes obatnya saja" jawabnya.


"hanya setetes?" tanyanya.


"iya, kita harus cepat"


Setelah selesai dengan urusan obat kedua bocah itu berlari seperti orang kesetanan, para murid di sekelilingnya sampai heran dengan sepasang kakak beradik itu.


Sesampainya di sana terlihat dua orang membawa keluar satu mayat yang tak lain rekan Kemala, tampak Rian keluar dengan tangis tak tertahan.


"paman guru.."


"masuklah dan ucapkan salam terakhir pada bibi guru kalian" ucapnya pergi.

__ADS_1


"DEG"


.......bersambung........


__ADS_2