
"cepat bawa kedua putraku pergi Kai" perintah Alara.
"tapi majikan.."
"kamu mau membantahku? cepatlah mereka akan segera datang" ucapnya tegas.
Kai lari sekuat tenaga dengan membawa kedua putra majikannya, malam itu saat Alara baru saja terbangun dari pingsan sebuah tragedi besar terjadi, muncul dua orang pembunuh bayaran di rumahnya, para pembunuh itu adalah pembunuh yang di bayar raja Dwi Wijaya untuk melenyapkan Arya.
Entah dari mana dan bagaimana bisa manusia itu mengetahui tentang keberadaan Arya masih tidak terfikirkan oleh Alara maupun Duwan.
Setelah berhasil menunuh dua orang pembunuh bayaran Alara bisa merasakan ada banyak aura pembunuh yang sedang mendekat, dengan segala sisa kekuatannya dia berusaha menghalau para pembunuh itu.
Dengan berurai air mata Arya dan Dirga hanya bisa menuruti perintah ibunya, kedua anak itu hanya menangis di atas punggung harimau yang di tungganginya.
"jleep ... hoek" keluar darah segar dari perut dan mulut Alara.
Duwan sendiri sudah lebih dulu tewas saat berusaha melawan orang orang yang mengroyok istrinya, tepat sebelum ambruk Alara berhasil memberi luka fatal pada pembunuh di depannya, saat perutnya tertusuk pedang dengan sisa tenaganya dia menggenggam tangan si pembunuh dan berusaha memenggal kepalanya.
Meski kepalanya tak sampai putus tapi pembunuh itu juga tumbang karena luka di lehernya memutuskan banyak urat, malam itu menjadi malam berdarah yang tak bisa di lupakan oleh mereka sekeluarga.
"semoga kalian berdua selamat" gumam Alara pelan.
Sebelum matanya tertutup sepenuhnya dia memandang jasad suaminya yang tak jauh darinya, air mata keluar dari pelupuk matanya tanpa bisa di bendung lagi.
"kau sangat bodoh Duwan, harusnya kau pergi bersama anak anak, tapi terimakasih banyak karena selalu berada di sisiku sampai akhir" gumamnya lngsung menutup mata.
Tak pernah terlintas di fikiran Arya maupun Dirga malam seperti itu akan menghampiri keluarga mereka, selama ini mereka berfikir hidup mereka akan selalu bahagia dan damai dalam kesederhanaan, tapi siapa sangka ketamakan seseorang telah menghancurkan kebahagiaan keluarga tersebut.
"aku akan membuhmu aku akan membunuhmu aku akan membunuhmu" kata kata itu terus di gumamkan Arya sepanjang jalan.
Di hati anak itu telah tumbuh api dendam yang membara, bagaimanapun juga sudah dua kali dia kehilangan orang tua, kali ini anak itu akan menuntut balas, api kemarahan di hatinya takkan pernah padam sampai dia bisa membalaskan dendamnya.
"grrrr" geram Kai tiba tiba.
"ada apa Kai?" tanya Dirga yang menyadari kegelisahan Kai.
"kalian berdua tunggu di sini, ada aura siluman mendekat" jawabnya.
Saat ini mereka bertiga masih berada di tengah hutan, setelah dua hari berlari tanpa henti Kai memutuskan untuk istirahat sebentar, baru sebentar dia istirahat instingnya sudah merasakan bahaya.
Seekor singa siluman datang mendekat, dari pengamatan Kai singa itu masih berada di bawahnya, tapi yang jadi masalah Kai saat ini sedang dalam keadaan tak fit, tubuhnya kelelahan dan staminanya sangat turun, apalagi selama dua hari harimau itu tak makan juga minum, kekuatan tubuhnya mungkin hanya tersisa 20% saja.
"si*l kenapa dia datang di saat tidak tepat begini, bagaimana caranya aku melindungi anak anak?" batinnya kesal.
Tanpa mempedulikan apapun lagi harimau itu menerjang singa di depannya, pertarungan sengit terjadi antara si raja hutan dan harimau siluman itu.
"grrr .. graaauum" geram Kai sebelum menerkam.
Kai menggunakan pengalaman berburunya saat berkelana bersama Alara, sayangnya karena fisiknya terlalu lelah serangan yang Kai lakukan itu bisa di hindari oleh si raja hutan dengan mudah, tubuh Kai sudah berlumur darah karena penuh luka cakaran dan gigitan, untung saja berkat kontraknya dengan manusia serigala membuat tubuhnya cepat beregenerasi.
"grr .. grrr" geramnya kian melemah karena energinya terkuras habis.
"grrr .. graaaaum" si raja hutan melompat ke arahnya.
"zleeep .. brukk"
"jlep jlep" tiga anak panah menancap di tubuh si raja hutan.
__ADS_1
Anak panah itu tak lain milik Arya, tepat sebelum singa itu menerkam Kai anak itu berhasil memberi serangan kejutan, si raja hutan yang tak terima merasa marah, dia ingin menyerang anak itu tapi sayangnya tubuhnya tiba tiba terasa kaku.
Dirga dengan gagah mengeluarkan cakarnya dan memberi serangan akhir pada si raja hutan.
"jraaat jraaaat"
"Kai kau tak apa" tanyanya lanhsung menghampiri.
"gr" geramnya langsung menutup mata.
"gawat sepertinya Kai sangat kelelahan, lukanya juga tak menutup sempurna, kita harus mengobatinya" ucap Arya.
"tumbuhan apa saja yang kita perlukan?" tanya Dirga.
"kita harus mencari lumut bulan dan rumput landak, itu obat terbaru racikan ayah yang bagus untuk luka seperti ini" ucap Arya.
"hanya itu?" tanya Dirga.
"iyaa kau tunggulah di sini" perintah Arya pada adiknya.
"tidak! biar aku saja yang pergi, aku sedikit lebih jago bertarung dan melindungi diri dari pada kakak, biar aku yang cari" ucapnya.
"baiklah, kalau ada bahaya kau lari saja jangan melawan" nasehat Arya.
"iya" jawabnya langsung pergi.
Nafas Kai terlihat sangat lemah, selain terluka parah harimau itu juga kelelahan dan kelaparan, sudah pasti kondisinya sangat menghawatirkan.
Tak perlu waktu lama Dirga sudah kembali dengan membawa tumbuhan dan beberapa buah di bersamanya, Dirga meminta kakaknya makan dan dia yang akan meracik obat untuk Kai.
"aku kakakmu, harusnya aku yang mengurus semua ini" protes Arya.
"tapi aku kan kakak, harusnya aku yang melindungi dan melakukan tugas seperti ini" ucapnya terus protes.
"trus kalau aku adik kenapa? memangnya aku tidak boleh melindungi dan membantu kakakku?" tanya Dirga balik.
"bu-bukan begitu.."
"sudahlah kak, sekarang kita bertiga harus bergantung satu sama lain, kau punya otak cemerlang aku punya tubuh yang kuat dan Kai punya tubuh gesit, bukankah bagus kalau kita menggabungkan ketiganya?" ucap Dirga.
"sejak kapan kamu bisa berpikir dewasa begitu?" tanya Arya heran.
"he hee itu terjadi begitu saja" ucapnya.
"apa kau tidak sedih? tidak marah?" tanya Arya mengubah topik pembicaraan.
"bagaimana aku tidak sedih dan tidak marah kak, orang tua kita kemungkinan sudah terbunuh oleh orang orang itu" jawabnya.
"ayah dan ibu sudah terbunuh? bukannya ibu sangat kuat?" tanya Arya tak percaya.
"meski aku sendiri tak percaya tapi aku bisa merasakannya, dan lagi kakak lihat mata Kai sekarang tidak biru lagi, sekarang kontraknya sudah berpindah padaku" ucapnya lirih.
"uhhh maafkan aku, ini semua karena ku" tangis Arya.
"kenapa semua ini karena kakak? semua ini karena orang orang jahat itu" ucap Dirga polos.
"andai aku kuat pasti aku bisa melindungi ayah dan ibu" ucapnya penuh penyesalan.
__ADS_1
"grep .. kakak kita tidak boleh begini, kita harus melaksanakan perintah ibu" ucap Dirga memeluk kakaknya.
"tapi dadaku terasa panas, seperti ada api di sini"
"aku juga merasakannya kak, tapi ibu meminta kita untuk memperkuat diri"
"emmm kamu benar, kita tidak boleh mengecewakan ayah dan ibu" balas Arya.
"kakak apa boleh aku menangis? sekali saja" tanya Dirga.
"ayo menangis sepuasnya, tapi setelah ini berjanjilah jangan menangis lagi" ucap Arya mengacungkan kelingkingnya.
"huaaaa" tangis keduanya akhirnya pecah.
Kai yang kesadarannya sudah kembali juga ikut meneteskan air matanya, selama ini dia sangat bahagia hidup bersama keluarga Alara, dan dia berjanji akan menjaga kedua anak majikannya dengan nyawanya sendiri.
"kak apa daging singa ini bisa di makan? aku sangat lapar" tanya Dirga setelah puas menangis.
"bisa" jawab Arya singkat.
"tapi bukannya tadi kakak menaruh racun di panah itu?" tanya Dirga lagi.
"itu kan cuma racun bunga batu, efeknya hanya membuat tubuh singa itu kaku, lagian efeknya sudah hilang karena sudah berlalu beberapa jam, kau cari saja ranting dan buat api, biar aku yang membakarnya" perintah Arya pada adiknya.
Meski selama ini mereka berdua selalu bertengkar dan tak akur satu sama lain, tapi keduanya saling menyayangi dan menghormati, jadi saat mereka berdua tak memiliki siapapun maka keduanya akan berlomba melindungi satu sama lain.
Hanya saja sikap Arya yang terlalu dewasa sering kali membuat Dirga jengkel, apalagi Arya selalu beranggapan segala tugas berat adalah tugasnya karena statusnya adalah seorang kakak.
"adikk coba berubah jadi serigala"
"kembali lagi jadi manusia"
"kenapa kak?"
"kamu seram, tidak seperti ibuu😒"
"ya mau bagaimana lagi, memang begitu penampilanku" jawab Dirga sedikit tak peduli.
"sampai sekarang aku masih belum mengerti, ibu bilang seluruh keluarganya merupakan manusia serigala putih, makanya saat menjadi manusia mereka memiliki rambut berwarna putih, tapi kenapa kamu berwarna abu?" ucap Arya heran.
"ini sudah tahun ke berapa kak? kamu masih memikirkan itu saja" ucap adiknya heran.
"tidakkah kamu penasaran dengan keadaanmu, kamu lain dari yang lain Dirga, bisa saja kamu punya kemampuan spesial seperti ibu, ibu kan serigala spesial yang kelahirannya sangat di nantikan bagi ras serigala putih maupun hitam"
"trus kenapa kalau ibu spesial?" tanya Dirga lagi.
"bisa saja kan seorang manusia serigala spesial melahirkan serigala spesial juga?" terka Arya antusias.
"kakak kau ini selalu memikirkan hal hal yang tidak terlalu penting, yang terpenting sekarang itu ke arah mana kita harus pergi?" tanya Dirga serius.
"ahh benar juga, ibu hanya bilang kita harus jalan ke arah selatan sampai kita tiba di hutan Odari, dan setelah keluar dari hitan itu kita harus ke arah barat"
"apa kita bisa menemukan tempat yang di maksud ibu? lagian kita tidak tau akan menemui siapa di sana, kenapa ibu tidak menyuruh kita ke rumah kakek atau kakek buyut saja?" ucap Dirga sedikit kecewa.
"kamu kan tau sendiri untuk sampai ke rumah kakek buyut kita harus melakukan perjalanan sangat jauh karena tempat tinggalnya hampir berada di ujung tenggara, dan tempat kakek kamu tau sendiri kan dia tinggal di pulau misterius, bagaimana cara kita mencarinya?"
__ADS_1
"hhhh benar juga, sepertinya memang cuma Sekte Ombak laut yang bisa kita tuju"
......bersambung......