Anak Serigala

Anak Serigala
Kekalahan masa lalu


__ADS_3

"kuda kudamu kurang lebar"


"baik"


"genggamanmu harus lebih kuat"


"baik"


"pusatkan fikiranmu dan arahkan semua aliran energimu pada tangan" .. "sekarang coba kau lihat"


"hiyaaaa"


"duakk .. boooom" sebatang pohon tumbang oleh satu serangan tinju.


"wuahhh hebat sekali paman guru" ucap Dirga kagum.


"itu masih belum apa apa Dirga, ilmu yang akan aku turunkan lebih hebat dari itu"


"mmm ilmu apa itu paman guru?" tanya Dirga heran.


"tunggulah beberapa waktu lagi, sekarang kembali ke rumah" ucap Rian berbisik.


"baiklah, aku akan kembali sekarang, aku pamit paman guru" ucap Dirga berlari.


Rian mengangguk dan memandangi punggung seorang bocah yang bahkan usianya belum sampai 7 tahun, meski anak itu sedikit ceroboh dan cerewet tapi Rian yakin dia sangat berbakat.


"apa kau tertarik pada anak itu?" tanya seseorang.


"ahh? salam tetua" ucap Rian memberi hormat.


"tak usah kaku begitu, aku kan kakekmu"


"iya" jawabnya singkat.


"apa kau memutuskan dia yang akan meneruskan jurusmu?" tanya kakek itu lagi.


"emm aku belum yakin, tapi sepertinya dia mampu menyempurnakan teknikku kek" jawabnya.


"hmm yaa lakukan yang terbaik" ucapnya pergi.


"kek, mau sampai kapan tua bangka itu memimpin sekte ini?" tanya Rian.


"bersabarlah Rian, saat ini dia belum terlalu kuat dan mampu" ucapnya.


"sampai kapan kek? karena tua bangka itu aku kehilangan satu kakiku dan adikku hampir di nyatakan tewas beberapa minggu lalu" ucap Rian.


"aku juga kesal, tapi dia belum memenuhi standar untuk jadi ketua sekte" ucap kakek itu langsung pergi.


"andai kakiku masih utuh" eluhnya dalam hati.


Semenjak Kemala pulih dia langsung melatih Arya secara penuh, sementara Dirga tetap di latih oleh Rian, dan untuk masalah Kai sampai sekarang harimau itu masih tetap tinggal di hutan, sekte ombak laut memiliki sejarah buruk dengan siluman, jadi cukup sulit memasukkan Kai ke dalam sekte.


Saat malam semakin larut Arya masih belum juga tidur, anak itu kepikiran dengan sesuatu yang ada di dalam cincin ruang milik ibunya.


Anak itu mengendap endap keluar dari kamar, dia duduk sendiri di ruang tengah dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.


Di dalamnya ada sebuah buku dua buah kalung sebuah tanda pengenal dan selembar kertas, dalam kertas itu tertulis "kalung permata merah untuk putra pertamaku Arya dan kalung permata biru untuk putra ke duaku Dirga"


Anak itu mengambil dua kalung dan melihatnya dengan seksama, lalu dia mengenakan kalung permata merahnya dan sesekali menggenggamnya, kalung permata biru dia masukkan lagi ke kotak untuk di berikan pada adiknya besok.


"ini tanda pengenal milik siapa?"


Anak itu memandangi dan dia langsung tau tanda pengenal siapa yang dia pegang.


Lalu sebuah buku usang yang terlihat sudah cukup lama dengan sampul bertuliskan KETIKA AIR LEBIH KENTAL DARI DARAH.


"DEG"


"buku apa ini?" gumamnya.


Di halaman pertama terlihat sebuah tulisan lumayan panjang


Lembar 1


'Hari itu adalah hari pertama aku bertemu dengannya, mahluk kecil yang terlihat lucu tapi sangat pucat, Duwan bilang mahluk kecil itu berada dalam bahaya karena terkena racun, awalnya aku biasa saja tapi saat ibu dari mahluk itu menohon padaku tiba tiba hatiku terasa sangat perih, dengan air mata tiada henti dia memohon padaku untuk menyelamatkan bayinya, dan entah apa yang terjadi tiba tiba aku melihat masa laluku, masa di mana ibuku memohon pada kakekku untuk membesarkanku, mataku terasa panas dan air mataku meleleh begitu saja, aku menunjukkan wujudku padanya tapi dia bilang tak peduli aku manusia serigala atau iblis sekalipun, asal aku bisa menyelamatkan bayinya itu bukan masalah buatnya'


Dengan membaca itu Arya langsung tau kalau mahluk kecil yang ada di dalam tulisan itu adalah dirinya, anak itu tersentuh karena ibunya yang galak bisa menulis sesuatu seperti ini, lalu anak itu kembali membaca lembara kedua.


Lembar 2.


'Duwan memarahiku dia bilang aku kuat tapi bodoh, dia melarangku menggendong mahluk itu'


Tulisan itu membuat Arya senyum senyum sendiri, lewat tulisan ini dia sedikit tau masa muda kedua orang tuanya, bagaimana ibunya yang kaku memiliki sisi lembut dan hangat sesuai perkataan ayahnya.


Lembar 3.


'Lucu sekali mahluk itu menggeliat saat aku menyentuhnya, dia terlihat seperti bayi kambing milik kakek'


"apa ini? ibu menyamakanku dengan bayi kambing?" gerutunya.

__ADS_1


Lembar 4.


'Duwan mengajariku cara menggendong dengan benar, tapi lagi lagi dia memakiku dengan sebutan bodoh, padahal aku hanya perlu menggendong bayi itu, tapi dia bilang caraku menggendong membuat bayi itu tak nyaman'


Lembar 5.


'Aku berhasil membuat bayi itu tidur, tapi kenapa bayi itu ngompol di pakaianku'


Lembar 6.


'Tiba tiba aku bersenandung untuk bayi kecil itu, senandung itu keluar begitu saja dari bibirku, tapi anehnya dia langsung tertidur'


Lembar 7.


'Namanya "Arya Wijaya" Duwan bilang nama itu memiliki arti singa, padahal kan bayi itu seorang pangeran kenapa dia membuat nama yang memiliki arti singa?'


Lembar 8.


'kami bertiga tidur di bawah langit malam yang terang, bulan dan bintang membuat suasana malam terlihat sangat indah, dan bayi itu ehh maksudku Arya, dia terus menempel padaku'


Lembar 9.


'Duwan bilang aku jadi ibu yang baik untuk Arya, aku senang sekali tapi apa Arya juga merasa begitu? hmm kuharap Arya juga bilang aku ibu yang baik'


Lembar 10.


'Lucu sekali! Arya sudah bisa merangkak dan dia semakin terlihat seperti kambing'


"ehhh lagi lagi kambing?" gerutu Aryaa.


Lembar 11.


'Duwan mengajakku menikah, dia bilang aku harus benar benar menjadi ibu Arya, tapi kenapa aku harus menikah dengan laki laki payah itu?'


Lembar 12.


'Menggemaskan sekali, aku benar benar sudah jatuh cinta padanya, aku tidak ingin berpisah darinya, aku akan selalu jadi ibu yang baik untuknya'


"benarkah bu? kau benar benar mencintaiku? aku juga sangat mencintaimu bu, sama seperti yang ayah bilang" gumam Arya.


"hoaaam, aduh ngantuk sekali, aku harus tidur" ucapnya langsung bergegas membereskan barangnya dan menuju ke kamar.


"ohh lihatlah bocah ini, heii aku tidur dimana?" keluhnya saat si adik menguasai seluruh bagian tempat tidur.


Dengan tubuh gontai anak itu kembali ke ruang tengah dan tidur di sana, adiknya itu kalau tidur memang tak pernah bisa diam.


"Arya! Arya!"


"Aryaaaa" teriak Kemala.


"siaap kucing dua sudah bangun nyonya" jawab anak itu spontan.


"apa itu? kucing dua? bwahaha haaa kamu pagi pagi nglawak yah" ucap Kemala terpingkal.


"e ehh bibi guru" ucap Arya kikuk.


"kenapa kamu tidur di sini?"


"ohh itu, aku tak kebagian tempat" jawabnya.


"hmm begituyah, kalau begitu aku akan meminta buatkan satu kamar lagi, nanti temani aku ke balai pengrajin yah"


"kok balai pengrajin?" tanya Arya bingung.


"ahh untuk tukang belum memiliki tempat sendiri, jadi balainya ada bersama para pengrajin" jawab Kemala.


"ohh begituu, ya sudah aku akan membuat sarapan"


"ehh tidak usah, hari ini aku ingin megajakmu dan Dirga pergi keluar" ucapnya.


"hmm kemana?"


"ikut saja, bangunkan adikmu dan kita bertemu di balai pembukuan" ucap Kemala.


"apa paman guru akan ikut?" tanya Dirga tiba tiba.


"oh kau sudah bangun? entahlah tapi kakakku kurang suka keluar sekte" jawab Kemala.


"biar aku yang membujuknya" ucapnya langsung berlari.


"heyyy! aduh maafkan ketidak sopanan adikku bibi guru" ucap Arya.


"tidak apa apa, dia masih kecil, kamu juga jangan terlalu kaku Arya, bukankah aku bibimu?"


"ehh emm iya, kalau begitu aku bersiap sebentar" ucapnya membungkuk.


"hmm anak itu sopan sekali, sikapnya terlalu dewasa" gumam Kemala.


Sesampainya di balai pembukuan terlihat Dirga sedang duduk sendiri, Rian tak terlihat di sana padahal biasanya Rian tak pernah meninggalkan balai itu kecuali saat melatih Dirga.

__ADS_1


"di mana kakakku?" tanya Kemala.


"paman guru sedang ganti pakaian" jawab Dirga.


"ganti pakaian? apa dia mau ikut?" tanya Kemala.


"iya"


"sungguh? kamu membujuknya?" tanya Kemala antusias.


"emm sedikit memaksa" jawabnya malu.


"wahh ini benar benar ajaib, padahal aku selalu gagal membujuknya tapi kamu bisa meyakinkan kakakku" ucap Kemala kagum.


"aku yakin dia pasti merengek" ucap Arya.


"hehehh kakak memang paling tau" ucapnya tertawa.


Meski terlihat lebih dewasa tapi usianya tak berbohong, bocah 6 tahun itu terlihat sangat imut saat merengek dan itu menjadi salah satu senjata andalan Dirga.


Setelah beberapa saat menunggu Rian sudah kembali dengan seseorang yang akan menggantikannya di balai pembukuan, terlihat tongkat yang Rian gunakan lebih bagus, kalau sebelumnya hanya tongkat kayu biasa sekarang tongkat besi dengan warna hitam.


"paman guru suka warna gelap yah?" tanya Dirga.


"iya, aku lebih nyaman menggunakan warna gelap begini" jawabnya.


Sesampainya di gerbang sekte terlihat beberapa orang yang melihat Rian, selama bertahun tahun laki laki itu tak pernah keluar sekte sekalipun, dan hari ini untuk pertama kalinya Rian keluar dengan adik dan dua muridnya.


"senior" sapa seseorang.


"hmm, kau jadwal jaga sekarang?" tanya Rian.


"iya minggu ini jadwalku, senior mau kemana?" tanyanya.


"jalan jalan sebentar menemani adikku"


"ahh kalau begitu semoga kalian bersenang senang" ucapnya.


Setelah keempatnya berjalan jauh terdengar bisik bisik di telinga Dirga, anak itu bisa mendengar jelas bisikan ejekan yang orang orang itu ucapkan di belakang paman gurunya.


"dasar orang orang itu" gumamnya kesal.


"sudahlah, tak usah hiraukan" ucap Rian.


"ehh paman guru mendengarnya" ucap Dirga.


"aku memiliki pendengaran yang bagus" jawabnya.


"paman guru jangan.."


"sudahlah paman tidak apa apa" ucapnya.


Sudah jadi hal umum bisik bisik dari orang yang di dengar Rian, semenjak kakinya cacat hampir seluruh orang membicarakannya, dan itu yang membuatnya enggan keluar dari balai pembukuan.


Bagaimana tidak dirinya menjadi omongan, dulu Rian di gadang gadangkan akan jadi salah satu murid terbaik di sini, tapi semenjak musibah yang menimpanya banyak bisik bisik tak enak tentangnya.


"bibi guru kita mau kemana?" tanya Arya.


"kita pergi membeli makanan enak, ayo kakak kita ke restoran langganan kita dulu" ajak Kemala girang.


Rian hanya tersenyum dengan tingkah adiknya, dia masih ingat betul dulu setelah kematian kedua orang tuanya Kemala sangat jarang bicara, anak cerewet itu seketika jadi pendiam setelah orang tuanya tiada.


Rian yang saat itu sangat khawatir dengan keadaan adiknya memikirkan banyak hal untuk menghibur adik satu satunya, dan saat membawa adiknya ke restoran sedikit demi sedikit keceriaannya kembali.


Rian merasa sekarang adiknyalah yang berusaha mati matian menghiburnya, dia memang sempat membenci adiknya, rasa terpukulnya saat kehilangan satu kakinya membuatnya gelap mata, tapi berkat kesabaran Kemala perlahan Rian kembali membuka hatinya.


"adikku sudah sangat dewasa" gumamnya.


Sementara itu Arya dan Dirga hanya mengikuti kedua gurunya tanpa banyak bicara, kedua anak itu cukup peka dengan situasi Rian dan Kemala.


Setelah puas makan keempatnya bergegas ke meja kasir, Kemala berniat ke toko pakaian membelikan Arya dan Dirga pakaian untuk ucapan terimakasih.


"hoyy" ucap seseorang dari belakang.


"wahh ternyata mataku sangat jeli yah? apa kabar Rian? bagaimana rasanya memiliki tubuh cacat hahaa" ejeknya.


"hmm apa kau mau mencoba jadi cacat?" tanya Rian.


"dasar tak tau diri, sudah cacat masih sombong" ucapnya kesal.


"hentikan! kenapa kau selalu mencari masalah dengan kakakku?" bentak Kemala.


"hei anjing kecil, ini urusanku dengan kakakmu" ucapnya.


"urusan apa lagi? apa kau masih tak terima dengan kekalahanmu dulu? itu sudah lebih dari 10 tahun" ucap Kemala lagi.


"tapi rasa malu itu masih ada sampai sekarang" bantahnya.


"itu urusanmu bukan urusanku" ucap Rian.

__ADS_1


"kepar*t! mati kau hari ini"


"praang"


__ADS_2