
"wusshh" terpaan angin menyapu wajah ayu seorang gadis yang hampir mati di tengah laut.
Puing puing kapal yang hancur lebur berserakan di pinggiran pantai di dekat tubuhnya, gadis itu membuka matanya pelan dan merasakan sakit luar biasa di seluruh tubuhnya, rasa haus dan lapar juga ikut menggerogoti tubuhnya dari dalam.
Matanya terus berkedip dan berusaha menyadarkan dirinya sendiri agar segera bangkit, tapi apa daya tubuh kurus kering karena berhari hari terombang ambing di lautan benar benar membuat tubuhnya sangat menyedihkan, tubuh itu sama sekali tidak memiliki tenaga walau sekedar untuk mengangkat jarinya.
"saa .. kiit" rintihnya hampir tak terdengar.
Beberapa hari yang lalu
"DUAARR"
"BOOM"
Sebuah energi yang sangat besar dari langit menghantam kapal sampai hancur berkeping keping, setelah 2 minggu melewati perjalanan dengan lancar tiba tiba cuaca berubah drastis, langit tertutup awan gelap angin besar dan ombak yang bergejolak terus menghadang laju kapal yang Dirga tumpangi.
Baru saja kapal itu terbebas dari sebuah pusaran air, energi seperti petir dengan kekuatan besar dari langit menghantam kapalnya, kapal dan seluruh penumpang yang ada di sana entah seperti apa nasibnya.
. . . .
Seekor kepiting kecil merayap di antara jari jarinya, setelah mencoba tenang dan mengalirkan sisa tenaga dalam ke seluruh tubuhnya Emely duduk termangu di pinggiran pantai, beberapa luka yang meradang di tubuhnya karena selama beberapa hari terendam air laut, serta pakaiannya yang compang camping seperti seorang gembel tidak Emely hiraukan.
Gadis itu terus berpikir keras tentang kejadian mengerikan beberapa hari yang lalu, Emely sangat ingat saat kapal mulai stabil setelah keluar dari pusaran air dia mengantarkan Dirga ke kamarnya untuk kembali istirahat karena mabuk lautnya sangat parah, lalu dia keluar sebentar karena tiba tiba perutnya mual dan ingin muntah setelah kapal berputar putar dalam pusara.
Saat gadis itu berdiri di area pinggir kapal tiba tiba kapal bergoyang membuatnya tergelincir dan jatuh ke air, tapi saat mencoba naik ke permukaan dan ingin meminta tolong gadis itu dengan jelas melihat kilat seukuran pohon kelapa menyambar tengah tengah kapal.
Belum sempat dia menjerit histeris tubuhnya sudah lebih dulu kejang karena merasakan sengatan listrik berskala besar mengalir di tubuhnya, gadis itu langsung tak sadarkan diri dan begitu sadar dia sedang terombang ambing di lautan dengan tubuhnya berada di atas puing kapal.
Meski sempat tersadar namun Emely kembali pingsan karena cedera yang dia terima, selain terkena sengatan listrik Emely juga tertimpa puing kapal yang membuat beberapa bagian tubuhnya terkoyak.
"hhh ba-bagaiman a ini bisa terjadi?" Emely masih tak percaya.
Dengan kekuatan seadanya Emely merangkak menjauh dari bibir pantai karena lukanya terasa sangat perih setiap air laut mengenai tubuhnya, di depannya ada sebilah kayu panjang yang mirip tongkat, dia mengais kayu itu dan mencoba berdiri dengan bantuan kayu tersebut.
Sakit .. sangat sakit, seluruh bagian tubuhnya terasa sangat sangat sakit, tak ada satu bagianpun yang terasa baik baik saja.
"uhh ... akuhh ti dak bi s.."
"BRUKKK" tubuhnya kembali ambruk.
"hhh sepertinya aku akan mati" batinnya sebelum kembali pingsan.
. . . . .
__ADS_1
"dak dak dak" terdengar suara pukulan dari luar ruangan.
Emely membuka mata dan menarik nafas berat saat menyadari dia berada di sebuah ruangan sederhana, dinding kayu dan atap jerami membuatnya terheran di mana dia sekarang berada.
"uhh shhhh"
"ehh kakak! kakak sudah bangun" ucap seorang gadis kecil tiba tiba.
"yah ayah ibu kakak ini sudah bangun" teriaknya sambil berlari keluar.
Tak lama datang seorang pria berbadan kekar bersama seorang wanita cantik yang mengintip di belakang punggungnya, warna kulit mereka terlihat sangat kontras karena si wanita memiliki kulit putih bersih dan si pria berkulit coklat dan memiliki banyak bekas luka.
"apa yang kau rasakan? apa ada bagian tubuhmu yang sakit?" tanyanya.
"se-mua"
"ya?"
"semuanya sa-kit" jawabnya pelan.
"Kiara bisa ambilkan ramuan yang tadi ibu ramu di dapur?" ucap si pria pada gadis kecil di depannya.
"iya ayah, akan aku ambilkan" ucapnya bergegas pergi.
Wanita yang anak itu panggil dengan sebutan ibu masih terus mengintipnya dari belakang punggung suaminya, Emely cukup penasaran dengan sikapnya tapi dia tak memiliki banyak tenaga untuk banyak bertanya.
"terimakasih sayang"
"ahh s*alan aku iri sekali dengan gadis kecil itu" batin Emely saat melihat pria itu sangat menyayangi anaknya.
"sayang kalau kamu malu biar aku saja yang memberi ramuan ini"
Istrinya hanya mengangguk dan keluar dari kamar, Emely bisa melihat rambut wanita itu berwarna putih seputih kulitnya.
"mari biar ku bantu duduk" ucap si pria langsung membantu.
"uhh shhh" keluhnya saat tubuhnya terasa sakit.
"ya sudah tiduran saja, Kiara ambilka sendok" anak itu langsung berlari dan kembali dengan membawa sendok, laki laki itu menyuapi Emely dengan ramuan kental yang terasa agak pahit.
"pa-hit tuan" eluhnya.
"namanya saja obat" jawabnya singkat.
"telan saja kakak, nanti aku akan memberimu sup rumput laut terenak buatan ibuku" ucap gadis di sebelahnya ceria.
__ADS_1
"biar aku yang menyuapi kakak yah" pinta si gadis langsung merebut sendok dari tangan ayahnya.
Yah asal benar obat itu mampu mengobatinya maka Emely akan menelannya walau sepahit apapun, dia harus segera sembuh dan pergi mencari Dirga dan Neesa.
"kakak apa yang terjadi pada kakak sampai bisa terluka seperti ini?"
"kapal yang aku naiki tersambar petir" jawabnya lirih.
"tersambar petir?"
"emm"
"apa kakak tau saat aku menemukan kakak ku pikir kakak mayat" ceplosnya.
"uhukkk .. apa maksudmu?" tanya Emely kaget.
"tubuh kakak di kerubuti banyak lalat dan binatang binatang kecil, untung saja binatang binatang laut ity tidak memakan daging kakak"
"lalat? binatang laut? jadi andai bocah ini tidak menemukanku maka aku akan benar benar jadi mayat?" batin Emely menenggak ludah.
"oh iya nama kakak siapa? aku Kiara, Kiara Althia" ucapnya dengan sumringah.
"Emely"
"Emely? wah nama kakak bagus sekali"
Emely beristirahat total selama lebih dari dua minggu, badannya benar benar masih sulit bergerak karena seperti mati rasa, secara teratur Kiara akan membantunya makan mengajak ngobrol dan mengoleskan obat pada luka di sekujur tubuhnya, Emely juga tau bahwa ibu dari Kiara adalah seorang Elf, bangsa yang sudah di kira punah ratusan tahun lalu.
Setelah dua minggu hanya berdiam diri di kamar Emely di bantu oleh ibu Kiara untuk berjalan keluar, wanita itu lebih pendek dan kecil darinya tapi dia sama sekali tidak terlihat kesulitan menopang tubuhnya.
Rumah yang dia tempati lumayan jauh dari laut, merupakan suatu keberuntungan Emely di temukan oleh Kiara sebelum benar benar jadi mayat, tidak ada satupun rumah di sekitarnya dan hanya ada rumah yang berdiri di pinggir pantai ini.
Tanpa di jelaskanpun Emely tahu bahwa mereka hidup menyendiri demi ketentraman hidup mereka, akan muncul keributan besar kalau sampai dunia tau masih ada Elf yang hidup di jaman ini.
"nona apa keadaanmu sudah membaik?"
"iya, ini berkat pertolongan nyonya sekeluarga" jawab Emely sopan.
"sejujurnya waktu itu aku tidak setuju saat putriku bersikeras menolongmu, aku takut kalau sampai ada orang yang mengetahui jati diriku maka kehidupan kami yang bahagia akan segera hancur, tapi.."
"nyonya, aku tau ketakutanmu, aku janji akan menyembunyikan fakta tentang keberadaanmu" ucap Emely menggenggam tangn wanita itu.
"terima kasih, rasanya sangat melegakan🙂"
"astaga senyumnya, aku yang wanita normal saja sangat terpesona oleh senyumnya, bagaimana kalau dunia tau, bisa menjomblo seumur hidup aku kalau wanita secantik ini di ketahui dunia" batinnya.
__ADS_1
.....bersambung.....