
* * 11 tahun yang lalu * *
"apa? raja siluman kelelawar?" pekik Duwan kaget.
"benar, aku harus mendapatkan permatanya"
"ta-tapi raja? yang benar saja"
"tidak ada cara lain Duwan, aku harus mendapatkannya untuk menghilangkan kutukan itu" ucap Alara.
"tapi apa itu mungkin? bagaimana kamu bisa melawan raja siluman kelelawar?"
"aku bisa"
"kalau tidak?"
"aku harus bisa, jika tidak maka tidak ada kesempatan untuk Arya"
"bukannya asal Arya tidak memiliki kekuatan kutukan itu tidak akan bekerja?" tanya Duwan.
"emm, tapi sampai kapan kita bisa menjaganya? kita memang orang tuanya tapi tidak selamanya kita bisa melindunginya, dia harus memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri"
Tanpa menoleh ke belakang Alara berlari meninggalkan suami dan kedua anaknya, Alara sudah tidak tahan lagi melihat putra pertamanya merintih kesakitan dan ingin mencari permata siluman raja kelelawar untuk menyembuhkannya.
Semenjak usianya 3 tahun Arya mulai mengalami rasa sakit, awalnya hanya demam selama 1 atau dua hari dalam sebulan namun semakin bertambah usianya semakin bertambah juga deritanya, di usianya yang ke 5 tahun hampir setiap hari anak itu pingsan dan kejang, melihat pemandangan seperti itu tentu sangat menyakitkan baginya.
Sebelumnya Alara memanggil Abel (roh air) dan menanyakan tentang rencana menghilangkan kutukan Arya, namun Billi (roh gunung) tidak memiliki sihir yang bisa menghilangkan kutukan, dan sebagai jalan tengah Billi meminta Alara membawakan permata raja kelelawar untuk menyembuhkan Arya.
Setelah pertarungan selama 2 hari tanpa jeda Alara berhasil mendapatkan permata tersebut, tepat setelah menyerahkan permata itu pada Abel Alara tidak sadarkan diri selama 10 hari.
Bisa di bayangkan betapa sulitnya Duwan menjaga istrinya yang tidak sadarkan diri sekaligus menjaga 2 putranya, putra pertamanya selalu pingsan dan kejang setiap waktu, putra keduanya terlampau aktif sampai membuat kepalanya pusing, untungnya Kai dan Abel membantu Duwan menjaga Dirga dan Arya, jadi Duwan bisa fokus pada kesembuhan istrinya.
Setelah Alara sadar Abel dan Billi melalukan kerjasama untuk menghilangkan kutukan pada Arya, Abel bertugas menjaga kesadaran Arya dan Billi bertugas membantu Arya menyerap kekuatan batu permata.
Sehari setelah penyerapan tersebut berhasil, Arya merintih dan terus mengeluarkan keringat dingin selama 5 hari, 5 hari tersebut adalah momen yang paling menegangkan, Arya hrus bisa melawan sihir dari permata siluman dan menyingkirkan sihir kutukan yang ada di tubuhnya.
Bisa di katakan 5 hari tersebut adalah hari penentu dari berhasil atau tidaknya metode yang di lakukan oleh Abel dan Billi, meski kemungkinan berhasilnya tidak sampai 10% karena Arya saat itu masih berusia 5 tahun dan tidak memiliki kemampuan apa apa, nyatanya Arya berhasil melewati 5 hari tersebut dan bisa hidup normal sampai sekarang.
* * * * *
"aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan"
"aku bisa merasakan aura itu meski samar, aku yakin kau lah orang yang telah menyerap kekuatan batu permata milik raja kelelawar"
"ka-kalaupun itu benar kenapa?" tanya Arya ragu.
"aku harus membunuhmu"
"apa? kenapa begitu?"
"kenapa kau bilang? tidakkah kamu tau sekacau apa seorang ratu tanpa rajanya?"
"tidak, aku kan bukan ratu😒"
"chh bedebah, sepertinya kamu memang harus mati di tanganku"
"siapa bilang? aku takkan mati hanya karena siluman sepertimu"
"begitukah? kalau begitu bagaimana dengan ini?"
__ADS_1
Tiba tiba Bimo berdiri dan mengarahkan pedang kepada Arya, anak itu sepenuhnya di kendalikan oleh ratu kelelawar agar membunuh Arya.
"trang"
Dentingan pedang beradu mulai terdengar dari oertarungan Arya dan Bimo, keduanya sama sama di tingkat bumi tapi Arya berada 2 tahap di atasnya.
"aku harus melumpuhkan kak Bimo, tapi walau pingsan sekalipun akan sulit untuk membebaskannya dari sihir pengendali pikiran" Arya terus berfikir.
"sraat"
"ahkkk"
Dalam lamunannya tanpa sengaja Arya mengenai lengan Bimo, dan saat itu juga.
"apa yang kamu lakukan Arya? kenapa kamu menyerangku?" tanya Bimo kebingungan.
"kakak yang lebih dulu menyerangku"
"apa maksudmum mana mung.."
"kakak di kendalikan olehnya" tunjuk Arya pada ratu kelelawar.
"be-besar sekali kelelawar itu" ucap Bimo tercengang.
"kak kita harus menyadarkan yang lainnya"
"bagaimana caranya?"
"sepertinya pengaruhnya tidak terlalu kuat, tadi saat kita bertarung dan lengan kakak terkena pedangku kakak langsung sadar" bisik Arya.
"kau pikir aku tak mendengarmu?"
Bimo yang masih belum paham sangat kebingungan di buatnya, Arya sendiri frustasi karena kemungkinan orang orang di sekitarnya akan menyerangnya atas perintah ratu kelelawar.
"ayo kita bertarung" seru Arya.
"kau? denganku?"
"ya kita berdua, ayo bertarung denganku dan jangan ganggu mereka"
"kenapa aku harus mengikuti keinginanmu? apa kau ragu bisa menyelamatkan mereka dari hipnotisku?" ucap ratu kelelawar sombong.
"tidak, aku hanya ingin menguji kemampuanku"
"kemampuan? kemampuan apa?"
"seperti yang kamu bilang 11 tahun lalu akulah anak yang menyerap kekuatan batu permata raja kelelawar, aku ingin mengujinya"
"bedeb*h, jadi kau benar benar .."
"jangan banyak bicara, ayo bertarung" ucap Arya memasang kuda kuda.
* * *
"uwaaaaa apa apaan banteng ini" ucap Dirga berteriak.
Saat memasuki hutan tiba tiba anak itu di hadang oleh seekor banteng, tepatnya banteng itu sudah jadi siluma karena matanya terlihat merah.
Banteng itu seukuran dengan Kai tapi bisa di pastikan kekuatan meyeruduknya jauh lebih kuat dari Kai.
__ADS_1
"papa lepas bajumu"
"bajuu? ehh suara siapa tadi?"
"ini Neesa papa, cepat lepas bajumu"
"Neesa? sungguh itu kamu yang bicara?" tanya Dirga tak percaya.
"benar papa ini Neesa, sekarang cepat lepaskan baju papa atau banteng itu akan menyerudukmu"
"kenapa aku harus melepas bajuku? dan kenapa juga kamu memanggilku papa?" tanya Dirga sambil terus berlari.
"karena papa laki laki, kalau perempuan Neesa akan memanggil mama, baju papa berwarna merah banteng itu akan terus mengejar kain berwarna merah"
"apa? kenapa tidak bilang dari tadi?" pekik Dirga kesal.
Dengan segera Dirga melepas bajunya dan melompat ke atas sebuah batu besar, bajunya ia jatuhkan dan.
"BOOM" batu itu hancur di seruduk oleh banteng siluman.
Untungnya sebelum batu pijakannya di seruduk Dirga sudah melompat menjauh, tidak terbayangkan bagaimana jadinya anak itu kalau tidak segera pergi.
"hhh hhhh gilaa, batu sebesar itu bisa hancur dengan sekali seruduk? bahkan Kai tidak sekuat itu" ucao Dirga terengah.
"Kai siapa papa?"
"harimau, siluman harimau yang hidup bersamaku"
"sekarang dimana dia?"
"bersama kakakku"
"papa punya kakak?" tanya Neesa antusias.
"yaa, kakak laki laki tapi sampai kapan kamu akan memanggilku papa? aku ini masih bujangan, dan lagi aku baru 13 tahun" gerutu Dirga.
"kau kan papaku"
"papa dari mananya? memangnya sejak kapan aku punya anak?"
"sejak aku menetas di pelukan papa, sejak saat itu Neesa jadi anak papa" jawabnya santai.
"konyol, logika macam apa itu" dengusnya.
"apa aku harus memanggilmu mama?"
"tidak"
"mama"
"hentikan Neesa"
"mama"
"uhh baiklahhh baiklah panggil aku papa jangan mama😒"
"papaa💜💜💜"
"ishhh benar benar, haha kakak sekarang aku memiliki seorang anak gadis🤦" gerutu Dirga.
__ADS_1
....bersambung....