Anak Serigala

Anak Serigala
Anak yang kuat


__ADS_3

"kakak! ayo kita balap lari sampai sungai yang di sana" teriak Dirga di suatu pagi.


"tidak mau" jawab kakaknya singkat.


"ayolah kak"


"tidaak"


"heh kau takut kalah yah?" ejek adiknya.


"enak saja, aku hanya malas" elak Arya.


"lalu hari ini kita mau apa? ibu memberi libur latihan hari ini" ucap si adik.


"hmm bagaimana kalau ... begini"


"gyaa ha haaa hhaa .. kakakk gelii kakaaak aduhhh" keluh Dirga saat kakaknya dengan iseng menggelitikinya.


Alara yang sedang sibuk menjemur pakaiannya tersenyum melihat kedua putranya, tapi tiba tiba saja dadanya terasa nyeri saat mengingat perkataan putranya beberapa hari lalu.


"grep .. istriku apa kamu kelelahan?" tanya Duwan memeluk istrinya.


"tidak" jawab Alara lirih.


"jangan bohong, aku lihat beberapa hari ini kamu terlihat lesu, biar aku saja yang mengerjakan pekerjaan rumah" ucap Duwan.


"tidak perlu, apa kedua putra kita terlihat bahagia?" tanya Alara tiba tiba.


"tentu saja, mereka mendapat kasih sayang berlimpah dari kita berdua" jawab Duwan.


"apa mereka bisa selamanya seperti itu? bagaimana kalau suatu saat Arya membenci adiknya?"


"kamu ini dari beberapa hari yang lalu bicara aneh terus, tentu dia akan selamanya begitu, hubungan mereka takkan pernah berubah, dan Arya tidak mungkin membenci adiknya"


"yaa semoga saja" jawah Alara lirih.


"sayang katakan sejujurnya padaku, apa yang kamu sembunyikan?"


"aku tidak menyembunyikan apapun" elaknya.


"bohong"


"uhh 🥺"


"sayang ayolah, kalau ada masalah jangan kamu simpan sendiri, katakan apa yang kamu sembunyikan" ucap Duwan terus membujuk.


"beberapa hari lalu saat kita ke pasar aku bertemu dengan seorang kakek, tiba tiba saja dia bipang bahwa kedua putra kita tidak akan hidup lebih dari 20 tahun"


"apa? kenapa begitu? Dirga kan sehat dan Arya, bukannya kutukan itu sudah hilang?"


"aku juga awalnya tidak percaya, tapi setelah aku lihat sendiri mereka benar benar akan mati" ucapnya lirih.


"jadi ini alasan kamu selalu murung akhir akhir ini?"


"bukan itu"


"lalu?"


"ada yang lebih mengerikan Duwan, aku melihat mereka saling membenci dan menyalahkan satu sama lain sebelum kematian🥺 itu terlihat sangat menyakitkan, mereka berdua mati dalam keadaan saling membenci huhuuu"


"sayang apa kamu ingat kejadian 6 tahun lalu?" tanya Duwan.


"6 tahun lalu? kejadian apa?" tanya Alara heran.


"hari saat Dirga lahir, hari di mana kita berempat menangis bersama" jawab Duwan.


"hmm kenapa kamu membicarakan hari itu?"


[6 tahun lalu]


"bu kapan adik keluar?" tanya Arya saat berusia 3 tahun.


"emm tidak lama lagi, mungkin beberapa hari ke depan adik sudah lahir" jawab Alara sembari terus menyuapi putranya.


"kenapa lama sekali, aku ingin mengajaknya bermain" ucapnya lesu.


"hihii kamu tak sabar ingin bermain bersama adik?"


"emmm" jawabnya mengangguk.


"sabar yah, pasti sebentar lagi adik lahir, sekarang coba kamu ajak bicara adik, suruh dia cepat keluar"


"hei adik! cepat keluar kita main sama halimau besar"


"gyut gyuut" perut Alala bergerak.


"lihat itu, sepertinya adik juga tak sabar ingin keluar" ucap Alara.


"anak ayah sedang ngobrol apa bersama ibu?" tanya Duwan ikut bergabung.


"tadi Arya minta adik cepat keluar terus perut ibu bergerak yah" ucap Arya antusias.


"oh benarkah? berarti adik mendengarmu" ucap Duwan.

__ADS_1


Lalu mereka bertiga mengobrol dan tertawa bersama, mereka asik mendengar celoteh tak jelas yang keluar dari bibir mungil Arya.


"akhh, sshh aduhh" keluh Alara.


"kenapa sayang?" tanya Duwan panik.


"aduhh perutku sakit" eluhnya terus mengaduh.


"apa kamu akan melahirkan hari ini, ayo kita ke kamar sekarang .. grep" Duwan langsung menggendong istrinya.


"ehh air apa ini? sayang ketubanmu pecah" ucap Duwan panik.


"uhhh kenapa panik begitu, cepat siapkan air dan kain" ucap Alara.


"Arya tungguin ibu yah"


"iya"


"gubrak .. klang" terdengar suara berisik dari dapur.


"ibu kenapa menangis?" tanya Arya bingung.


"sshh huhhh tidak apa apa Arya" jawabnya pelan.


"uhh sakit" gumamnya.


"apanya yang sakit bu? biar Arya tiup" hibur putranya.


"uhh hhh hhh Arya tenang aja, ibu ngga papa"


Duwan sudah kembali dengan membawa berbagai keperluan melahirkan, hari itu adalah hari yang sangat mendebarkar, hari di mana serigala kecil akan lahir dan melihat dunia.


Peluh terus mengalir di sekujur tubuh Alara, erangan dan sesekali teriakan kesakitan keluar dari bibirnya, Arya yang tak mengerti apapun hanya terus memeluk tangan ibunya dan ikut tegang.


Duwan dengan berbagai perasaannya terus menyemangati istrinya, meski sudah pernah sekali membantu orang melahirkan tetap saja pemuda itu merasa sangat tegang karena ini kelahirah anaknya.


"oekk .. oekk" suara tangis bayi terdengar.


"huaahhh syukurlah" ucap Duwan mengelap peluhnya.


Setelah membungkus bayi dengan kain Duwan langsung memberikan bayi itu pada ibunya, dengan cekatan laki laki tersebut membereskan sisa sisa peralatan melahirkan.


Saat memasuki kamar terlihat Alara tengah menyusui bayinya, Arya terus menatap wajah adiknya dan ibunya secara bergantian.


"apa ASI nya langsung keluar?" tanya Duwan.


"iya" jawab Alara singkat.


"ASI itu apa?" tanya Arya.


"ASI itu singkatan dari Air Susu Ibu" jawab Duwan mengelus putranya.


"air susu ibu? apa itu enak?" tanyanya polos.


"apa Arya penasaran?"


"emmm" jawabnya manggut.


"kalau penasaran ayo cobalah"


Dengan polosnya Arya menuruti perkataan ibunya, tapi baru sebentar saja Arya sudah menunjukan wajah tak suka.


"rasanya aneh, Arya tidak suka"


"benarkah?"


"iyaa tidak enak, buat adik saja lahh ASInya"


"baiklah" jawab Alara tersenyum.


Hari itu menjadi hari yang sangat bahagia, sampai tanpa sadar air mata kembali menetes di pelupuk mata Alara.


"ibu menangis lagi? kenapa?" tanya Arya bingung.


"ohh ibu tidak sadar menangis" jawab Alara.


"kamu nakal yah sudah buat ibu menangis" ucap Arya pada adiknya.


"oekk oekkk oeekkkk" tangis bayi itu keras saat Arya mencubit pipinya.


"ehh sayang kenapa adik di cubit?" tanya Duwan.


"adik nakal adik buat ibu menangis" jawabnya polos.


"oeekkk .. huaaaaaa" tangis keduanya pecah.


Alara saling berpandangan dengan Duwan saat melihat tingkah putranya, setelah tanpa sengaja membuat adiknya menangis justru dia sendiri ikut menangis, dan akhirnya keempat menangis bersamaan.


Alara dan Duwan menangis karena bahagia dan merasa lucu, Arya menangis karena takut di marahi karena membuat adiknya menangis, dan si adik menangis karena di cubit kakaknya.


Beberapa hari setelah kelahiran Dirga terlihat Arya sedikit menjaga jarak, meski berkali kali Alara memanggil bocah itu tetap enggan mendekat.


"Arya sayang, kenapa kamu tidak mau mendekat ke adik?" tanya Alara.

__ADS_1


"nanti adik menangis lagi" jawabnya.


"lhoo kata siapa? adik pasti senang kalo Arya temani"


"tapi kan waktu itu adik menangis gara gara Arya" ucapnya tertunduk.


"sini ikut ibu" ajak Alara pada Arya.


"coba sekarang Arya elus pipi adik" ucapnya pelan.


Dengan ragu anak itu mengusap pipi bayi mungil di depannya, Arya langsung menarik tangannya saat bayi itu menggeliat, sepertinya bocah itu takut adiknya kembali menangis.


"jangan takut, selama Arya tidak menyakiti adik maka adik tidak akan menangis" terangnya.


"menyakiti? apa itu?"


"emm kalau Arya membuat adik sakit pasti adik akan menangis, tapi kalau Arya mengajak adik bicara atau mengelus pipinya maka adik tidak akan menangis"


"Arya tidak boleh membuat adik sakit? apa saja yang tidak boleh bu?" tanyanya antusias.


"emmm apa saja yang membuat Arya sakit maka itu juga membuat adik sakit, misalkan saat Arya di cubit terasa sakit maka adik tidak boleh di cubit, apa Arya mengerti?" tanya Alara.


"iyaa, jadi Arya boleh dekat dengan adik?"


"tentu saja dia kan adikmu, bukan hanya dekat tapi Arya juga harus menjaga adik" ucapnya.


"iya, Arya akan jaga adik setiap hari" jawabnya.


Semenjak hari itu Arya selalu berada di dekat adiknya, bocah itu sangat suka mengelus dan mencium rambit adiknya, dia juga suka melihat adiknya saat menyusu, katanya pipinya terlihat lucu.


[end]


"jika kamu ingat hari itu apa mungkin Arya membenci adiknya?"


"entahlah"


"heii Arya itu sangat menyayangi Dirga, terlepas dari sifat mereka yang saling bertolak belakang mereka berdua saling menyayangi satu sama lain" jawab Arya.


"yaahhh tapi sepertinya Arya tau kalau dia bukan anak kandung kita" ucap Alara penuh putus asa.


"deg deg"


"apa maksudmu?" tanya Duwan.


"kemarin saat kamu pergi bersama Dirga tiba tiba saja dia bertanya tentang umurku, kapan aku menikah dan lainnya, dan kamu tau apa yang terakhir dia tanyakan?"


"a-apa? apa yang dia tanyakan"


"dia bertanya, bu! apa aku bukan putra kandungmu?"


"deg deg deg" jantung Duwan seolah berdetak berapa kali lipat lebih cepat.


"lalu kamu jawab apa?"


"apa kamu pikir otakku berfunhsi saat itu? aku tak menjawab apapun, tubuhku membatu saat mendengarnya" ... "saat aku memberanikan diri membuka mulut anak itu terlebih dulu lari menyambut kepulanganmu dan Dirga, dan kamu tau setelah menanyakan itu Arya bersikap biasa saja, dan itu membuatku khawatir"


"jadi itu yang kamu khawatirkan selama beberapa hari ini? lalu apa yang akan kita lakukan?"


"tidak tau, aku tidak tau .. aku belum siap menceritakan semuanya" ucapnya tertunduk.


"kita ceritakan saja pelan pelan, lagipula dia berhak tau siapa dirinya" ucap Duwan.


"tapi bagaimaana reaksinya nanti saat tau semuanya? bagaimana kalau dia jadi berambisi merebut haknya? bukankah Ratu Retno ingin Arya menjauhi kerajaan?" ucapnya panik.


"sayang, apapun keputusannya nanti ya urusan nanti, cepat atau lambat dia juga akan tau jati dirinya, kita sebagai orang tua hanya bisa memberi arahan dan nasehat, dia berhak memilih jalan hidupnya" ucap Duwan menjelaskan.


"kalau dia ingin merebun kerajaan Awan dari tangan pamannya bagaimana?"


"bagaimana, tentu kita harus mendukungnya" jawabnya.


"mendukung? bagaimana bisa rakyat biasa seperti kita mendukungnya merebut tahta? bisa bisa dia lenyap terlebih dulu sebelum menghabisi si brengs*k itu" ucap Alara ngegas.


"Alara istriku sayang, apa kamu tak mempercayai putramu sendiri? kamu sudah membesarkan dia selama 9 tahun, kamu yang mengurusnya dari bayi merah sampai sekarang, harusnya kamu paham bagaimana sifat dan karakternya, kamu juga sangat tau kan seperti apa dia?"


"bukan, bukannya aku tak mempercayainya, tapi aku takut, bagaimana kalau dia terluka?"


"bukankah terluka juga bagian dari kehidupan? kalau dia memilih merebut haknya maka sudah pasti jalannya takkan mudah, sudah jelas anak itu juga akan terluka bahkan terjatuh berkali kali, dan kita sebagai orang tuanya bertugas membantunya berdiri dan mengobati lukanya" jawab Duwan.


"uhhh tapi aku tak bisa membicarakannya, aku tak pandai mengatakan hal sepertimu, apa kamu bisa memberitahunya yang sebenarnya? segala kebenaran yang kita simpan rapat rapat selama ini" ucap Alara.


"emm, aku akan bicara pelan pelan padanya" ucap Duwan lembut.


"tapi jangan sampai kata katamu melukai hatinya, dia masih anak anak" pinta Alara.


"mana mungkin kenyataan seperti itu tak melukai hatinya, kenyataan sebesar itu sudah pasti melukai dan mengguncang dirinya, tapi kamu jangan khawatir putra kita adalah anak yang hebat"


"uhh belum apa apa dadaku terasa sakit" keluh Alara.


"itu wajar kamu kan ibunya, bukan hal aneh kalau kamu juga merasa sakit saat anakmu terluka".


"eemm hufftt baiklah aku percaya padamu, Arya adalah anak yang kuat, bagaimanapun juga darahku mengalir di tubuhnya, jadi dia tetaplah anakku"


........*bersambung*........

__ADS_1


__ADS_2