
Di Apartemen Fazril.
Diruang tamu apartemen, tampak tubuh Fazril, sedang duduk di salah satu Sofa sambil menggenggam benda pipihnya. Tampaknya ia sedang menerima panggilan dari seseorang. Raut wajahnya langsung berubah, ketika sambungannya telah terputus. Bahkan ia tampak begitu kebingungan, hingga ia mondar-mandir di ruang tamunya tersebut.
"Aduh, gimana nih? Kata Papah Mas Azril sudah dalam perjalanan kesini? Kayaknya aku belum siap untuk bertemu dengannya. Dan Aku juga sudah merasa nyaman berada di dalam tubuhnya," gumam Qanita, tampak sekali ia begitu gelisah.
"Gimana ini? Aku harus apa? Ayo Qanita cepatlah berpikir!" katanya lagi, sambil memukul-mukul pelan pada kepalanya dengan kedua tangannya.
"Aah.. apa sebaiknya aku pergi saja ya dari sini? Soalnya aku nggak rela kalau melihat tubuh Mas Azril dimiliki orang lain! Jadi sebaiknya Aku bawa saja tubuh Mas Azril Pergi saja! Iya! Itu yang benar!" gumamnya lagi dengan wajah yang terlihat begitu mantap dengan keputusannya.
"Ya sudah! Sebaiknya aku secepatanya pergi! Sebelum Mas Azril sampai sini!" katanya lagi, lalu ia pun mengambil salah satu credit cardnya milik Fazril yang berada didalam dompetnya. Namun lalu ia meninggalkan handphone milik Fazril dan ia letakkan berdampingan pada dompetnya.
Setelah meletakkan hpnya diatas nakas, Qanita pun langsung bergegas menuju ke pintu Apartemennya dengan terburu-buru. Dan disaat ia baru saja hendak membuka pintu apartemennya, tiba-tiba saja pintu tersebut sudah terbuka dengan sendirinya. Dan seketika matanya langsung terbelalak saat melihat seorang wanita cantik sudah berdiri tepat di depan pintu apartemennya.
"A-anda?! Su-sudah da-datang?"
Mendengar suara miliknya yang terdengar gagap, membuat wanita yang tak lain adalah Fazril, langsung tersenyum tipis, "Heh.. tetap saja ya bicara kamu gagap begitu walaupun berada di tubuhku?" sindirnya dengan suara milik Qanita.
__ADS_1
"Aah.. ma-maaf Mas! Sa-saya ti-tidak bermaksud merebut tubuh Mas Azril," ucap Qanita sambil menundukkan wajahnya.
Membuat Fazril yang melihat itu amat tidak suka. Karena melihat dirinya tertunduk seperti itu. Karena ia memang tak pernah sekalipun menundukkan wajahnya didepan siapapun. Makanya ia langsung terlihat kesal melihat dirinya sedang menunduk dihadapan seorang wanita. Ditambah lagi ternyata Bob juga ada disana.
"Permisi Tuan muda, Nyonya Muda! Saya datang mengantarkan tas koper Nyonya," ujar Bobby, dengan tatapan heran, saat melihat tubuh Fazril yang saat ini berdiri di hadapan tubuh Qanita, sambil menundukkan wajahnya. Dan ini adalah pertama kalinya ia melihat wajah Bosnya itu menundukkan didepan istrinya.
melihat wajah Bob yang keheranan membuat Fazril malah kesal melihat Bob, yang sepertinya ia terlalu kepo dengan dirinya dan juga istrinya.
"Letakkan di situ saja Bob! Dan kamu boleh pergi sekarang!" ujar Fazril terdengar ketus.
"Eh! Baiklah Nyonya!" balas Bobby, seraya ia meletakkan tas koper tersebut didekat pintu apartemennya. Setelah itu ia pun langsung bergegas pergi. Dan seketika itu juga Fazril langsung menutup pintu apartemennya, bahkan langsung dikunci olehnya. Setelah itu Fazril kembali menatap wajahnya sendiri yang terlihat masih tertunduk.
Tubuh Fazril kembali tersentak, saat mendengar suara Qanita yang terdengar begitu lantang, dan seketika ia mengangkat wajahnya. Namun ada rasa takut yang tersirat diwajahnya itu.
Melihat ada ketakutan diraut wajahnya, Fazril pun langsung teringat akan perbuatan ibunya. Jadi wajar saja, apabila Qanita memiliki rasa takut yang berlebihan menurutnya. Dan seketika itu juga, ia pun merasa bersalah. Lalu tanpa memberi aba-aba tubuh Qanita langsung memeluk tubuh Fazril.
"Maaf Maaf Aku sudah..." ucap Fazril. Namun tiba-tiba saja ia merasakan hal yang Aneh.
__ADS_1
"Eh! Apakah kita sudah kembali ke tubuh kita masing-masing?" tanyanya sambil melepaskan pelukannya. Lalu ia pun melihat kedua tangannya yang tampaknya sudah kembali membesar. Lalu seketika ia langsung menatap wajah istrinya, yang terlihat Qanita juga sedang memperhatikan tangan dan juga tubuhnya.
"Aah.. syukurlah kita sudah kembali pada tubuh kita sendiri. Tapi kok wajah kamu seperti tidak senang begitu sih? Apakah kamu tidak suka mendapatkan tubuh kamu kembali, hm?" tanya Fazril sambil menatap wajah Qanita yang memang terlihat jelas. Kalau Qanita sepertinya tidak senang kalau Arwahnya kembali ketubuhnya sendiri.
Qanita langsung tersentak saat mendengar pertanyaannya suaminya, "Eh! Ti-tidak kok Mas! Sa-saya senang kok!" balasnya, masih terdengar gagap dan wajanya juga masih terlihat ketakutan.
Fazril mengerutkan keningnya, saat melihat wajah takut istrinya, "Setakut itukah kamu padaku, hm? Sampai-sampai, tubuh kamu gemetaran begitu?" tanyanya, dengan nada suara yang terdengar begitu lembut, membuat Qanita langsung menatap wajah suaminya. Ia seperti tak percaya, saat mendengar penuturan yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Aku tahu, kesalahanku sangatlah fatal. Karena selama ini aku tidak pernah menunjukkan itikad baik kepada kamu. Dan aku serta keluargaku selalu saja melakukan hal yang buruk padamu. Untuk itu, Aku memohon maaf sebesar-besarnya padamu," ucap Fazril, seraya ia meraih kedua tangannya Qanita, sambil matanya menatap dalam kewajah Qanita dengan kelembutan.
"Maafkan Aku Qanita, maafkan atas perbuatanku selama ini. Kamu maukan Memaafkan aku Qanita?" lanjut Fazril, masih terdengar lembut. Dan dengan wajah yang kini terlihat sedang memohon, tampak sekali ia begitu berharap maaf dari Qanita.
Melihat hal itu, mata Qanita langsung berkaca-kaca, ia terlihat begitu terharu melihat suaminya. Namun dihatinya Seperti ada keraguan, membuat ia begitu sulit untuk memberikan jawabannya pada Fazril.
"Kenapa diam Qanita? Maukah kamu memaafkan aku?" Fazril kembali mengulangi perkataannya.
"A-aku..A-aku.."
__ADS_1
...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...
Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke 😉 Agar Ramanda bersemangat loh 😉