ANDAI Kau Menjadi Diriku.

ANDAI Kau Menjadi Diriku.
KEKHAWATIRAN FIRMAN.


__ADS_3

Di kediaman keluarga Firman.


Fazril yang masih terjebak di dalam tubuh Qanita. Terlihat begitu menderita, karena ia juga dapat merasakan rasa sakit yang luar biasa, yang tak pernah sekalipun ia rasakan. Dan ia sempat meminta ibunya, agar memanggilkan dokter untuknya. Namun sang Ibu bukannya memanggil sang dokter, ia malah menyuruh dirinya untuk melakukan semua perkerjaan rumah.


Karena begitu kesal, akhirnya Fazril membentak sang ibunya. Membuat Firman yang tampaknya baru pulang begitu terkejut melihat keberanian anak menantunya itu, "Qanita! Berani sekali kamu membentak Mama mertua kamu itu Hah?!" bentaknya, sambil menatap tajam pada Qanita.


"Umm..pasti Papa tidak akan percaya bila aku mengatakan, kalau Aku Fazril! Aah.. bisa! Tapi aku harus menjauhi Papa dari Mama dulu! Setelah itu baru Aku katakan semaunya!" batin Fazril. Namun tiba-tiba saja, kepalanya kembali sakit. Sementara tubuhnya yang pada awalnya memang terasa berat baginya, terasa begitu tegang.


"Ugh!! Sakit!" keluh Fazril, sambil memegang kepalanya.


"Huh! Pasti itu hanya alasannya saja Pah! Biar dia tak diomelin sama Papa tuh!" cetus Maryati, agar suaminya tidak terpengaruh dengan keluhannya Fazril yang berada di tubuh Qanita.


"Kamu pikir Papa akan.." omel Firman, lagi. Namun belum lagi ia menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba tubuhnya Qanita langsung terkulai ke lantai, membuat Firman begitu terkejut.


"Eh! Kamu kenapa Qanita?" tanyanya terlihat begitu panik. Dan ia pun langsung menghampiri tubuh Qanita.


"Pah! jangan terpengaruh padanya Pah! Dia itu pasti hanya berpura-pura saja! Biar dapat simpati dari papa. Kan jadinya kan Papa tidak akan dimarahinnya lagi!" ujar Maryati, masih berusaha mempengaruhi suaminya agar, sang Suaminya, bertambah membenci Qanita.


"Berpura-pura apanya Mah?! Ini mah namanya bukan berpura-pura Mah! Dia ini Sakit beneran tau Mah! Pegang nih, badan Qanita panas banget tau!" bentak Firman, lalu ia pun langsung menggendong tubuh Qanita, lalu ia langsung bergegas menuju pintu keluar.


Sesampainya di luar, "Rudi! Buka pintu mobilnya! Kita ke rumah sakit sekarang!" teriak Firman, tampak sekali ia begitu mencemaskan keadaan Qanita.


"Baik Tuan Besar!" balas Supirnya firman yang bernama Rudi tersebut. Setelah majikannya sudah masuk, Rudi pun mulai melajukan mobilnya. Dan setelah mobil memasuki jalanan raya, ia pun langsung mempercepat laju mobilnya dengan kecepatan maksimum. Dan beberapa menit kemudian mobil mereka terparkir tepat di depan pintu lobiy rumah sakit.

__ADS_1


Setelah mobil terparkir dengan sempurna, Firman langsung memperintahkan Rudi untuk memanggil para perawat. Dan tak berapa lama kemudian dua perawat datang sambil mendorong brankar. Lalu setelah tubuh Qanita diletakkan di atas brankar, kedua perawat itu pun langsung membawanya ke ruangan UGD. Agar secepatnya mungkin mendapatkan penanganan dari sang Dokter.


Sedangkan Firman memilih duduk di kursi tunggu yang berada tepat di depan ruang UGD, "Kenapa Qanita jadi seperti ini? Padahal tadi saat Dia membentak Maryati, dia seperti sedang baik-baik saja. Tapi kenapa saat Aku memarahinya dia jadi seperti ini? Apa sebenarnya yang telah terjadi?" gumamnya, dengan tatapan mata yang sedang mengarah ke pintu ruang UGD yang berada di hadapannya.


"Apa sebenarnya Maryati sudah kelewatan? Karena setahuku Qanita tidak pernah melawan sekalipun. Yaa pasti seperti itu, Dia melawan mungkin karena dia sudah tidak tahan dengan omelannya Maryati. Ditambah lagi kondisi tubuhnya seperti itu, jadi wajar sih kalau dia melawan ibu mertuanya," gumam Firman lagi. Dan disaat bersamaan tampak seorang pria berjas putih, keluar dari ruang UGD tersebut. Melihat itu, Firman pun langsung menghampirinya.


"Dokter, gimana kondisi menantu saya? Dan sebenarnya dia sakit Apa Dok?" tanya Firman, tampak begitu penasaran.


"Kondisi Menantu Anda saat ini sudah mulai stabil Pak. Tetapi saat ini dia belum sadarkan diri itu karena pengaruh dari obat tidur yang Dia konsumsi terlalu berlebihan Pak. Jadi kemungkinan besar dia akan sadar kembali sekitar lima jaman lagi Pak," jelas sang Dokter.


"Eh! Konsumsi obat tidur? Maksudnya Dok?" tanya Firman sedikit terkejut.


"Benar Pak! Dan saya juga salut dia bisa menahannya, padahal banyak yang tidak bisa bertahan kalau meminum obat dengan cara seperti itu. Dan setahu saya, bila seseorang melakukan hal seperti itu, hanya karena berniat bunuh diri Pak!"


"Bisa jadi seperti itu Pak! Tapi syukurnya tak terjadi apapun padanya. Tapi sebaiknya Anda benar-benar memantaunya. Karena takutnya dia bisa melakukannya lagi Pak. Karena bila terjadi lagi saya tidak menjamin keselamatannya lagi!" balas Sang Dokter.


"Baiklah Dok, saya pasti akan memantaunya. Kalau begitu apakah saya sudah bisa melihat menantu saya Dok?"


"Iya sudah bisa Pak! Silahkan bila Anda ingin menjenguknya, karena pasien juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan," balas sang Dokter lagi.


"Terima kasih Dok, kalau begitu saya permisi!" pamit Firman, lalu ia pun bergegas menuju keruangan yang dimaksud sang Dokter.


Sesampainya di ruangan tersebut, Firman langsung menghampiri tempat tidur yang diatasnya terdapat tubuh Qanita, yang terlihat sedang terbaring lemah, lalu ia pun menatap wajah pucat sang menantunya itu.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa dengan kamu Nak? Kenapa kamu sampai bertindak nekat seperti ini?" gumam Firman seraya menatap wajah Qanita yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya.


"Aah iya.. apakah dia melakukan ini karena, karena permintaan Maryati pada Fazril? Apakah dia telah menganggap serius akan perkataan Fazril, yang mengatakan ia menyetujui permintaan Ibunya, untuk menikahi Mona?" gumamnya lagi, yang tiba-tiba ia teringat, pada peristiwa ketika mereka melakukan sarapan bersama. Dan saat bersamaan tiba-tiba saja matanya Qanita terbuka membuat Firman begitu terkejut melihatnya.


"Papah," kata Qanita dengan suara yang terdengar masih lemah


"Eh! Kamu sudah sadar Nak? Tapi bukankah dokter mengatakan kamu akan sadar lima atau enam jam lagi ya? Tapi kenapa sekarang sudah sadar?" tanya Firman terlihat heran.


"Itu tidak penting untuk dibahas Pah!"


Mendengar perkataan Qanita, Firman langsung mengerutkan dahinya, "Apa maksud kamu, Qanita? Mengapa kamu berkata seperti itu Nak? Dan kenapa kamu sekarang memiliki sifat.." tegurnya. Namun belum lagi ia menyelesaikan perkataannya tiba-tiba Qanita langsung menyelanya.


"Pah, saya Azril! Bukan Qanita Pah!" ujar Qanita, dengan tatapan yang terlihat begitu serius.


"Apa!! Kamu jangan mengada-ada ya? Apakah kamu seperti ini.." ujar Firman, dan lagi-lagi Qanita langsung menyelanya.


"Saya juga tidak tahu apa yang terjadi tapi, saya benar-benar Azril Pah! Tubuh kami tertukar!" jelas Qanita, namun Firman tetap tidak percaya


"He Qanita! Papah tahu kamu sakit hati pada.." hardik Firman, tapi kembali lagi Qanita memotong.


"Pah Aku berani sumpah demi apapun! Kalau Aku ini benar-benar Azril! Anak Papah!"


...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke 😉 Agar Ramanda bersemangat loh 😉


__ADS_2