
Fazril tampak masih setia menunggu jawaban dari istrinya itu. Namun Qanita malah terlihat begitu ragu-ragu untuk memberikan jawabannya. Dan ia hanya menatap wajah Fazril, dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca. Sehingga membuat Fazril semakin khawatir, kalau-kalau ia tak mau memaafkan dirinya. Melihat istrinya yang hanya diam sambil berdiri, Fazril pun langsung menarik tangannya dan membawanya ke sofa yang berada di sana. Lalu ia mendudukkan Qanita di sofa tersebut. Setelah itu ia pun bersimpuh di hadapanya.
"Qanita? Apakah kamu sangat membenciku, hm?" tanya Fazril, masih dengan suara lembutnya, sambil ia menggenggam kedua tangannya Qanita. Mendengar pertanyaan tersebut Qanita pun langsung menggelengkan kepalanya saja,
"Aah.. syukurlah! Humm.. kalau begitu kamu maukan memaafkan Aku? Aku janji sama kamu tidak akan pernah mengulangi perbuatanku yang menyakiti kamu lagi. Dan aku juga berjanji akan melindungi kamu, dari Mama. Jadi kamu tidak perlu khawatir, lagi ya? Dan bila perlu kita akan hidup terpisah dari keluargaku. Dan kita akan memulai hidup baru kita, kamu maukan Qani? tanya Fazril lagi, seraya ia menghapus air matanya Qanita yang akhirnya jatuh juga.
"Untuk itu, berilah maaf kamu untukku, agar hatiku merasa lega Qani," lanjutnya lagi, dengan wajah yang terlihat penuh pengharapan. Namun tetap saja Qanita masih terlihat begitu enggan mengeluarkan kata-katanya.
"Qanita? Please jawab Aku, jangan buat hatiku begitu resah begini," kata Fazril lagi, seraya ia mencium kedua tangan istrinya itu.
"Umm..Ni-nita sudah memaafkan Mas kok, bahkan sebelum Mas memintanya," jawab Qanita lirih, namun masih terdengar ditelinganya Fazril.
"Aah.. Syukurlah! Terima kasih, Nita terima kasih!" ucap Fazril senang. Dan ia pun langsung memeluk tubuh Qanita, tanpa meminta persetujuan darinya. Namun seketika ia langsung tersadar.
"Aah.. Maaf Nita! Aku main peluk tanpa persetujuan kamu," katanya sambil ia melepaskan pelukannya.
"Eh, nggak papa kok Mas," balas Qanita pelan.
"Benarkah tidak papa?" tanya Fazril, dan langsung dibalas dengan anggukan oleh Qanita.
"Aah.. kalau begitu, apa aku boleh memeluk kamu lagi?" tanya Fazril, dengan mata yang terlihat begitu berbinar. Mendengar pertanyaan tersebut, wajah Qanita langsung merona, namun ia masih sempat mengangguk kepalanya dengan pelan.
Melihat hal itu, Fazril pun tersenyum tipis, lalu ia pun kembali memeluk tubuh Qanita lagi. Dan disaat bersamaan, tiba-tiba terdengar suara kruuyuuuk dari perut Fazril, membuat Fazril langsung tersentak kaget. Sedangkan Qanita terlihat sedang menahan senyumnya.
__ADS_1
"Eh! Hehehe.. saking terburu-burunya aku ingin bertemu kamu. Membuat Aku jadi tak berselera makan," jelas Fazril, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Eh, tunggu dulu! Bukankah tadi aku berada di tubuh kamu ya? Dan tubuh ini sama kamukan? Kenapa malah perutku yang lapar? Apakah sebenarnya kamu juga belum makan?" tanyanya, dengan wajah yang terlihat begitu heran.
"Iya. Karena begitu tegang, Nita memang belum makan dari kemarin," balas Qanita, yang akhirnya ia mengakui kalau dirinya memang belum makan.
"Dari kemarin? Aah.. pantas saja terasa begitu lapar,"
"Maaf Mas, ya sudah kalau begitu Nita masakin ya? Mas mau makan apa?" tanya Qanita, terlihat ia sudah tidak begitu canggung lagi.
"Tidak-tidak! Biar Aku saja yang masak kamu tunggulah di meja makan. Ayo kita kedapur," ajak Fazril, lalu ia pun langsung menggandeng tangan istrinya. Lalu ia bawa ke ruang makan, yang menjadi satu dengan dapur.
"Duduklah di sini. Kali ini biar aku yang akan memasakkan untuk kamu," kata Fazril, seraya ia menarik salah satu kursi, yang berada di meja makan. Dan Qanita pun mengikuti keinginan suaminya, dan akhirnya ia pun duduk di kursi tersebut.
Setelah itu Fazril pun langsung mengambil bahan makanan, yang berada di lemari esnya. Setelah itu ia pun memulai meracik-racik, dan tak berapa lama kemudian, ia pun mulai memasaknya, sambil sesekali ia melihat wajah istrinya, sedang memperhatikan dirinya memasak. Melihat itu, ia pun langsung menyunggingkan senyumnya. setelah senyuman dibalas oleh Qanita. Fazril pun kembali fokus pada masakannya. Dan tak berapa lama, tampak ia telah menyelesaikan masakannya.
"Nggak papa kok Mas. Nita nggak pilih-pilih makanan kok," balas Qanita, seraya tersenyum lembut pada Fazril.
"Aah.. syukurlah! Kalau begitu, ayo kita makan sekarang," kata Fazril. Namun ia tak langsung memakan nasi gorengnya. Karena sepertinya ia masih menunggu Qanita, yang lebih dulu memakannya.
"Gimana? Enak nggak nasi gorengnya?" tanya Fazril, setelah ia melihat Qanita memasukkan suapan pertamanya kedalam mulutnya.
"Umm..enak kok Mas! Ini benar-benar sangat enak!" balas Qanita, dengan suara terpendam. Karena mulutnya saat ini, sedang dipenuhi oleh nasi gorengnya.
"Aah, syukurlah kalau kamu suka. Kalau begitu habiskan ya?" kata Fazril, dan langsung dianggukan oleh Qanita. Setelah itu ruang makan pun menjadi hening, karena keduanya terlihat sedang menikmati makanannya dengan penuh hikmat.
__ADS_1
Setelah mereka menyelesaikan makanannya, Qanita bermaksud ingin mencucikan piring-piring bekas mereka makan tadi. Namun langsung di cegah oleh suaminya.
"Sudah, ini biar Aku saja yang mencucinya! Jadi lebih baik kamu istirahat saja sana. Karena sebelum aku berangkat ke sini, tubuh kamu terasa begitu lemah. Oh iya ditas kamu juga ada obat-obatan dari dokter. Jadi sekarang sebaiknya kamu minum obat dulu ya? Baru setelah itu kamu istirahat," ujar Fazril, seraya ia mengambil alih piring yang sedang dipegang oleh Qanita.
"Tapi Mas, tadikan kamu sudah masak, jadi biar Nita saja ya yang cuc.." balas Qanita, namun langsung di potong oleh Fazril.
"Syuuut.. tidak boleh membantah!" kata Fazril, seraya ia meletakkan piring yang baru ia ambil keatas meja.
"Tapi Mas..."
"Eeh.. kok masih membantah sih? Sudah aku bilang, kamu harus istirahat! Sini ikut Aku!" potong Fazrill. Sambil menggandeng tangan istrinya, dan membawanya ke kamarnya. Namun sebelum ia sempat mengambil tas sandang yang ia pakai tadi.
Setelah berada di dalam kamar, ia pun mendudukkan Qanita di sisi pembaringannya, setelah itu ia pun mengambil obat lalu ia serahkan pada Qanita. "Minumlah Not, biar tubuh kamu kembali sehat," katanya sambil menyerahkan segelas air putih padanya.
"Um.. baiklah Mas," balas Qanita, lalu ia pun langsung meminum obat tersebut.
"Sekarang tidurlah," Fazril, langsung mengangkat tubuh Qanita, keatas ranjangnya. Membuat tampak terkejut, namun ia tak bisa mengeluarkan kata-katanya. Setelah menyelimuti tubuh istrinya, Fazril langsung mengecup lembut dahinya. Membuat mata Qanita langsung membulat sempurna.
"Selamat tidur Sayang, mimpi yang indah ya?" ucap Fazril. Setelah itu ia pun langsung bergegas pergi dari kamarnya tersebut.
"Eh! Sayang? Mas Azril memanggil Sayang?" gumam Qanita, seraya ia memegang dahinya.
...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke 😉 Agar Ramanda bersemangat loh 😉