ANDAI Kau Menjadi Diriku.

ANDAI Kau Menjadi Diriku.
INGIN MEMILIKI KAMU SEUTUHNYA.


__ADS_3

Setelah memberikan kecupan serta mengucapkan kata-kata pengantar tidur. Fazril pun langsung keluar dari kamarnya dan langsung menutup pintu kamarnya tersebut. Namun ia tak langsung pergi dan yang ia lakukan hanyalah berdiri di depan pintu kamarnya, sambil memegang dadanya.


"Aah.. jantungku! Kenapa tiba-tiba berdegup kencang begini?" gumam Fazril, sambil memukul-mukul pelan pada dadanya. Lalu tiba-tiba saja ia tersenyum-senyum sendiri, "Hmm.. tadi wajah Qanita langsung memerah, saat aku memanggilnya Sayang, apa lagi saat Aku mencium dahinya. Sangat menggemaskan!" gumamnya lagi yang ia sedang mengingat-ingat kembali saat ia dikamarnya tadi.


"Aah..sebaiknya aku menyelesaikan pekerjaanku dulu. Setelah itu aku akan kembali kekamar!" gumamnya lagi, lalu ia pun langsung bergegas ke dapur untuk membersihkan bekas-bekas ia memasak tadi, dan lanjutkan dengan mencuci piring-piringnya. Setelah selesai, ia langsung menuju ke ruang kerjanya untuk mengecek laporan dari perusahaannya.


Setelah dirasa hasilnya memuaskan, Fazril pun langsung bergegas menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar, ia melihat istrinya masih tertidur. Lalu ia pun langsung membaringkan tubuhnya tepat di samping istrinya. Dan baru saja ia hendak memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah istri, tiba-tiba saja tubuh Qanita malah miring duluan, menghadap ke dirinya. Bahkan tubuhnya bak seperti bantal guling bagi Qanita.


Fazril begitu terkejut sekali, pasalnya paha Qanita menyasar mengenai juniornya Fazril "Aah..!" pekiknya, tampak ia begitu kesakitan, "Qanita! Paha Kamu menimpai Adikku!" teriaknya lagi dengan suara yang terdengar begitu berat seperti sedang menahan sesuatu.


Mendengar teriakannya Fazril, sontak Qanita langsung terbangun dan terduduk, "Aah.. maaf Mas! Nita nggak sengaja," katanya dengan wajah yang terlihat bingung, saat melihat wajah suaminya yang terlihat sedang kesakitan.


"Aah.. sudahlah, aku tidak apa-apa," balas Fazril, dengan suara yang masih terdengar berat.


"Benarkah tidak apa-apa Mas? Tapi kok kamu masih terlihat kesakitan? Coba sini Nita lihat," Kata Qanita cemas. Dan ia pun bermaksud ingin menyentuh juniornya Fazril. Namun dengan sigap Fazril langsung menangkap tangannya.


"Apa yang mau kamu lakukan Nita?" tanya Fazril, masih memegang tangannya Qanita.


"Itu Mas, Nita hanya ingin memeriksanya saja Mas. Takutnya nanti jadi kenapa-kenapa lagi, makanya biarkan Nita melihatnya," balas Qanita dengan wajah terlihat begitu polos.


"Kalau terjadi apa-apa, emangnya kamu mau bertanggung jawab nantinya, hm?" tanya Fazril lagi, sambil menatap wajah istrinya.

__ADS_1


"Eh, bisakah kita bicarakan itu nanti Mas? Kalau tambah bengkak gimana? Tuh lihat tuh kayaknya bengkak deh, sini cepat Nita lihat," ujar Qanita, sambil ia langsung menyentuh bagian sensitifnya Fazril. Dan seketika Fazril langsung berdesis.


"Sssssth.. Nita! Kamu harus bertanggung jawab! Karena sudah membangunkan juniorku!" kata Fazril, seraya ia mendorong tubuh Qanita, lalu ia menahan tubuhnya diatas tubuh istrinya. Membuat Qanita yang berada di bawahnya terlihat begitu terkejut.


"Ma-mas? Ka-kamu mau apa Mas?" tanya Qanita terlihat begitu gugup.


"Bukankah kamu tadi sangat mengkhawatirkan juniorku? Dan sekarang karena sentuhan mu, tadi junior ku menututku untuk menyentuh kamu. Jadi kamu harus bertanggung jawab Qanita. Dan kamu harus mengizinkan aku untuk memiliki kamu seutuhnya," ujar Fazril, dengan suara yang terdengar begitu berat, tampak sekali ia seperti sedang menahan sesuatu.


Qanita hanya terdiam, dan hanya memperhatikan wajah Fazril yang kini terlihat memerah. Bahkan urat-urat dipelipisnya sangat terlihat jelas, tampak sekali ia memang sedang menahan sesuatu.


"Kenapa Diam Qanita? Jawablah, apakah kamu mengizinkan Aku Sayang? Aku ingin memiliki kamu seutuhnya, hm?" tanya Fazril lagi, yang tampaknya ia sudah dititik paling berat, karena hasratnya sudah menguasai dirinya. Sehingga ia tak kuasa lagi, menahan gairahnya tatkala ia melihat bibir nan merona milik Istrinya itu.


"Lakukanlah Mas, Nita mengizinkannya," balas Qanita yang akhirnya ia tak tega melihat wajah suaminya yang terlihat sedang tersiksa menahan sesuatu.


Fazril, yang mendapatkan respon dari istrinya, membuat ia semakin semangat. Dan bahkan hasratnya semakin menuntutnya untuk melakukan hal yang lebih lagi. Sehingga tanpa terasa tangannya mulai membuka satu persatu kain yang melekat ditubuh istrinya itu.


"Ah..ughm..ha...ah.." suara lenguhan Qanita mulai terdengar dari mulut mungilnya. Tatkala bibir Fazril mulai menelusuri lehernya serta memberikan jejak hak kepemilikannya. Sementara tangannya mulai memberikan remasan lembut pada kedua bukit kembarnya.


Tubuh Qanita menggeliat tatkala bibir Fazril mulai mencumbui kedua bukit kembarnya. Dan seketika ia seperti merasakan sesuatu yang aneh dan seakan ingin meladak dibagian intimnya.


"Ah..ah..Mas..Ughm..Aaaakh..!" erangnya, membuat Fazril langsung tersenyum tipis. Karena ia tahu, kalau istrinya saat ini sudah mencapai puncaknya yang pertama. Dan disaat itulah ia langsung menghunuskan pedangnya kerawa-rawa milik Qanita. Pada awalnya, Qanita hanya berdesis pelan.

__ADS_1


Namun saat sang pedang mulai menerobos semakin mendalam. Membuat Qanita mengerang kesakitan, "Aakh..! Sakit Mas!" pekiknya, sambil meremas tangan Fazril dengan sekuat tenaga.


"Akh..hah.. sabar Sayang! Ha hah..ini sedikit lagi! Uuugh..!" balas Fazril, sambil ia mendorong pinggulnya dengan kuat sehingga..


"Aaaakh!! Iiikh..!!" teriak Qanita, namun ia langsung menggigit bahu suaminya. Membuat Fazril juga ikut menjerit, namun hanya sebentar. Sebab disaat bersamaan ia juga telah mencapai puncaknya.


"Aakh! Sssth..Ughmm...Aaah..." Fazril langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Qanita. Untuk sesaat tubuh keduanya masih terlihat menyatu. Hingga akhirnya Fazril mencabut pedangnya, lalu ia menjatuhkan tubuhnya tepat disampingnya Qanita. Dan ia langsung tersentak ketika melihat Air mata Qanita yang sudah membasahi pipinya.


"Sayang! Kamu menangis? Sakit banget ya?" tanya Fazril dengan lembut, seraya ia menghapus air matanya dan juga menghapus keringat jagung yang memenuhi dahinya Qanita.


"Tidak kok Mas. Ini hanya air mata kebahagiaan. Karena pada akhirnya, Nita dapat merasakan menjadi seorang istri yang seutuhnya," balas Qanita dengan lembut, dan dengan nafas yang terlihat sedikit terengah-engah.


"Benarkah? Aah .. aku kok jadi semakin merasa bersalah padamu Sayang. Maaf ya Sayang, karena baru sekarang aku memenuhi kewajibanku," ucap, Fazril sambil ia memeluk tubuh istrinya.


"Iya Mas! Nita sudah maafin kok,"


"Aah, syukurlah! Terima kasih ya Sayang," ucapnya sambil mengecup dahinya Qanita. "Sekarang kita istirahat ya? Pasti kamu lelahkan?" kata Fazril, sambil menarik selimutnya lalu ia menutupi tubuhnya dan juga tubuh istrinya. Setelah itu, ia kembali memeluk tubuh Qanita.


"Tidurlah Sayang, semoga kamu bermimpi indah," lanjutnya lagi, dan kembali ia mengecup lembut dahi istrinya. Setelah itu ia pun ikut memejamkan matanya juga. Dan akhirnya keduanya pun terhanyut kedalam mimpi mereka masing-masing.


...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke 😉 Agar Ramanda bersemangat loh 😉


__ADS_2