ANDAI Kau Menjadi Diriku.

ANDAI Kau Menjadi Diriku.
KEMBALI KE KOTA.


__ADS_3

┈••✾•◆❀🌸 Kalam Hikmah.🌸❀◆•✾••┈


Kekecewaan adalah buah dari tingginya harapan yang tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Kerapkali kita ingin berusaha merubah orang lain, padahal kenyataannya ini bukan wilayah kita.


Sehingga pada akhirnya kita yang akan kecewa, sakit hati, mudah marah dan kehabisan tenaga. Perlu disadari, kita tidak akan bisa mengubah yang di luar diri kita, yang bisa merubah hanyalah Allah


Kita hanya akan bisa merubah apa yang ada dalam diri kita, dan inilah wilayah yang bisa kita kendalikan. Saat kita bisa merubah apa yang ada dalam diri, niscaya Allah merubah apa yang ada di luar diri kita.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•┈┈┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🌸❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈┈┈•


Melihat istrinya yang langsung pergi begitu saja. Membuat Fazril merasa bersalah, dan ia pun langsung mengejar istrinya itu. Dan bermaksud ingin meminta maaf. Sesampainya di dalam rumah, ia sempat terkejut saat melihat, didalam kamarnya ternyata kosong. Sebab ia sempat berpikir kalau istrinya pasti langsung menangis didalam kamarnya.


"Eh! Kemana Qanita, kok nggak ada sih?" gumam Fazril, setelah ia juga memeriksa kamar mandinya, "Hmm.. jangan-jangan dia pergi lagi? Tidak itu tidak mungkin! Apa dia sedang didapur ya? Aah sebaiknya aku tengok saja!"


Fazril pun langsung bergegas menuju kedapurnya. Dan ternyata memang benar, kalau istrinya memang sedang memasak di dapur tersebut. Dan ia pun langsung memeluk tubuh Qanita dari belakang.


"Aah.. Sayang, Mas pikir kamu Pergi meninggalkan Mas? Habis, Mas cari-cari dikamar kamu nggak ada sih," katanya sambil ia meletakkan dagunya di bahu istrinya.


"Iya Nita memang berniat pergi, kalau Mas tidak mau bekerja lagi! Untuk apa coba punya suami yang pengangguran?" balas Qanita, yang tampaknya ia sengaja memberikan ancaman sedikit pada suaminya.

__ADS_1


Mendengar ucapan istrinya Fazril langsung tersentak, "Eh! Siapa yang pengangguran sih sayang? Orang Maskan punya perusahaan sendiri jadi kamu tidak perlu khawatir seperti ini deh,"


"Iya kamu memang punya perusahaan Mas. Tapi kalau perusahaan tidak diurus lama kelamaan juga bisa bangkrutkan? Jadi sebelum hal itu terjadi, lebih baik Nita pergikan? Karena Nita juga nggak mau pulang ke tanah air lagi!" balas Qanita, dan sekali lagi ada ancaman di dalamnya. Membuat dada Fazril terasa berdenyut, disaat ia mendengar kata pergi dari mulut istrinya.


"Baiklah Sayang, Baiklah! Mas akan mengurus perusahaan kita. Tapi dengan satu syarat kamu harus ikut kembali ke kota bersama Mas. Karena Mas tidak mau berjauh-jauhan dengan kamu Sayang," balas Fazril. Membuat Qanita malah tampak ragu. Karena ia sudah bergitu mencintai rumah kecilnya itu.


"Tapi Mas, kalau Nita ikut Mas, gimana dengan rumah ini Mas? Nita nggak tega meninggalkan rumah ini," balas Qanita yang akhirnya ia mengungkapkan keraguannya.


"Sayang, Kitakan bisa datang lagi ke sini disetiap akhir pekannya. Bukan hanya Akhir pekan saja deh. Pokoknya disetiap hari libur! Gimana kamu maukan sayang?" tanya Fazril, dengan wajah yang terlihat begitu berharap. Membuat Qanita Akhirnya tak sampai hati untuk menolaknya.


"Baiklah Mas, Nita ikut apa kata Mas Saja," balas Qanita terlihat pasrah.


"Ooh.. baiklah Mas, kalau begitu Nita siap-siap dulu ya?" balas Qanita yang akhirnya ia pun langsung bergegas menuju ke kamarnya. Sedangkan Fazril melanjutkan acara memasaknya Qanita.


"Aah.. Aku ingin segera menyelesaikan ini. Biar secepatnya aku membawa Qanita ke Mansion, yang baru aku beli. Pasti Nita akan sangat terkejut karena aku sudah memiliki sebuah Mansion," gumam Fazril, terlihat sangat senang. Karena ia ingin memberikan kejutan untuk istrinya itu. Dan tak berapa lama acara masak memasaknya pun selesai. Dan Fazril pun langsung bergegas menuju kamarnya.


"Sayang, masakannya sudah matang tuh, yuk kita makan sekarang saja. Mas sudah lapar banget nih," katanya yang sebenarnya itu hanya sebuah alasan saja. Karena yang sebenarnya ia ingin segera membawa istrinya kembali ke kota.


"Sebentar Mas. Ini masih tangung," balas Qanita tanpa menoleh pun ke arah suaminya. Hal itu membuat Fazril ingin langsung menghampirinya


"Loh Sayang, untuk apa kamu membawa baju sebanyak itu? Bukankah kita nantinya bakalan kesini lagikan?"

__ADS_1


"Iya sih Mas, tapi disanakan Nita tidak punya baju. Karena waktu itukan semua baju-bajuku, Nita bawak. Jadi disana tidak ada satupunkan baju Nita?" balas Qanita berkata apa adanya.


"Sayang kamu tidak usah khawatir soal itu karena mas sudah mempersiapkan segalanya Kok. Jadi sekarang ayo kita makan dulu!" kata Fazril, seraya ia menarik tangan istrinya. Dan membawanya ke ruangan makan.


"Sekarang dudulah di sini Nyonya Fazril, saya akan melayani Anda," kata Fazril setelah mereka berada di ruang makan. Mendengar kata-kata suaminya, membuat Qanita tersenyum malu.


"Hmm.. Mas, seharusnya Nita dong yang melayani Mas. Kenapa jadi terbalik begini,"


"Syuuht.. jangan protes! Lagian nggak ada larangankan seorang suami melayani istrinya?"


"Iya sih, tapi Nita jadi nggak enak hati Mas,"


"Syuuht.. kan Mas bilang jangan protes sayang. Sekarang makanlah, biar kita secepatanya pergi!" kata Fazril, seraya ia duduk disebelah istrinya, setelah tadi ia mengambilkan makanan untuk Qanita. Dan Setelah itu ia pun mengambil makanannya lagi yang kali ini untuk dirinya sendiri. Lalu keduanya pun langsung melahap makanannya.


Dan sesuai dari perkataannya, setelah Mereka menyelesaikan makanannya Fazril pun langsung mengajak Qanita, untuk kembali ke kota.


...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...


Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke


 

__ADS_1


__ADS_2