
┈••✾•◆❀🌸 Kalam Hikmah.🌸❀◆•✾••┈
"Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139).
Jangan bersedih. Kita mempunyai Allah yang begitu penyayang. Ketika kita berbuat dosa, maka Allah akan mengampuni taubat kita. Ketika kita berputus asa, maka Allah akan menuntun kita. Ketika kita melakukan kesalahan, maka Dia akan memperbaiki kita
Janganlah bersedih, Qadha adalah hal yang sudah pasti dari-Nya, dan takdir sudah tertulis dalam lembaran-lembaran kehidupan. Mungkin kita bisa hidup hari ini, tapi siapa tahu besok kita sudah mati. Jika sisa usia yang kita miliki hanya tinggal satu hari. Maka sebaiknya kebahagiaan dan rasa syukur akan kita persembahkan dalam sisa hidup kita di hari itu
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•┈┈┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🌸❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈┈┈•
Setelah kejadian, itu yang sempat pingsan langsung ditangani oleh dokternya. Dan ia juga sempat tersadar. Akan tetapi baru saja tersadar, ia kembali memejamkan matanya lagi. Membuat Qanita sempat khawatir lagi. Namun setelah mendengar perkataan sang Dokter, kalau Fazril sedang tidur. Akhirnya Qanita pun langsung menghelakan napas leganya.
Tetapi tetap saja Qanita tidak berani meninggalkan suaminya seorang sendiri saja. Dan akhirnya ia pun memilih untuk menjaganya. Padahal Bobby sudah menyuruhnya untuk beristirahat di rumah. Namun malah diabaikan oleh Qanita. Hingga akhirnya Bobby yang mengalah dan membiarkan istri Bosnya itu, tetap berada di samping suaminya. Sampai ertidur dengan posisi di kursi, dengan kepala berada di ranjangnya Fazril, sampai menjelang pagi. Bahkan sampai Fazril terbangun dari tidurnya.
"Eh! Kenapa dia tertidur disini?!" sentak Fazril, saat matanya sudah terbuka dengan sempurna.
"Emang, perutnya tidak merasa sakit, apa? Kalau tidur seperti itu? Padahal perutnyakan sudah membesar begitu?" gumam Fazril lagi, seraya ia bangkit dari tidurnya. Kemudian ia pun turun dari ranjangnya, dan langsung menghampiri Qanita. Kemudian dengan perlahan ia pun langsung menggendong tubuh istrinya dan dengan perlahan juga ia membaringkan tubuh Qanita ke atas ranjangnya.
Qanita yang merasakan tubuhnya diusik membuat tubuhnya malah mengeliat, "Hmm.." Dan tak berapa lama kemudian ia pun membuka matanya. Dan seketika mata terbelalak, saat melihat wajah suaminya yang terlihat begitu amat dekat dengan wajahnya.
"Eh! Mas? Ka-kamu..."
__ADS_1
"Sssth.. tidurlah! Kamu pasti lelah, karena telah menjaga aku semalamankan?" potong Fazril, seraya ia mengusap-usap pelipisnya Qanita.
"Tapi Mas, sebentar lagikan, dokter akan datang untuk memeriksa kamu. Masa malah Nita sih yang tidur di sini, apa kata dokter nanti Mas," balas Qanita, merasa risih, karena posisinya kini terbalik. Fazril yang sebagai pasien, ia malah duduk di kursi, sementara Qanita justru berada di atas tempat tidur.
"Ya sudah kalau begitu, kita tidur sama-sama saja!" kata Fazril, seraya ia naik ke atas ranjangnya. Dan langsung membaringkan tubuhnya tepat disampingnya Qanita. Bahkan ia langsung memeluk tubuh istrinya itu. Membuat Qanita langsung tersentak.
"Eh! Mas nanti kalau..." protes Qanita lagi, namun dengan cepat tangan Fazril sudah menutup mulutnya.
"Sssth..! Diamlah! Aku juga masih mengantuk!" potongnya, seraya ia memejamkan matanya. Membuat Qanita akhirnya terdiam dan hanya memandangi wajah suaminya yang kini matanya sedang terpejam. Dan Fazril yang sepertinya tahu kalau istrinya sedang memandangi dirinya. Tangannya pun langsung menutupi matanya Qanita, seraya berkata.
"Aku tahu, kalau wajahku sangat tampan! Jadi tak perlu kamu memandang sampai segitunya. Sekarang tidurlah," katanya, membuat Qanita yang mendengarnya langsung tersenyum tipis.
"Hmm..kamu narsis banget sih Mas," katanya terdengar lirih.
Setelah yakin istrinya sudah tertidur, Fazril pun menarik tangannya, yang tadi menutupi matanya Qanita. Bahkan ia pun langsung bangkit dari tidurnya dan langsung turun dari tempat tidurnya. Setelah membenarkan selimut istrinya, ia pun langsung beranjak meninggalkan ruangannya tersebut. Setibanya di luar ruangannya, ternyata Bobby sudah berada di depan pintu kamar rawatnya tersebut.
"Eh! Bos? Kok Anda keluar?" sentak Bobby, saat melihat Fazril.
"Bosen!" balas Fazril dengan singkat. Seraya ia berjalan ke sebuah yang berada tepat di depan kamarnya. Lalu ia pun duduk di sana.
"Tapi Bos, bukankah Anda memang harus banyak istirahat?" tanya Bobby, tampak sekali ia mencemaskan Bosnya itu.
"Aah..sudahlah! Akukan sudah banyak istirahat sejak kemarin!" bales Fazril terdengar ketus. "Oh iya, apa yang terjadi saat aku pingsan kemarin Bob?" tanyanya lagi, sambil menatap wajah Bobby dengan serius.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan, dari Bosnya, Bobby pun tersenyum tipis, "Sudah ku duga, Bos pasti akan mempertanyakan hal itu. Untung saja aku sudah mempersiapkannya. Kalau tidak pasti Bos tidak akan percaya kalau hanya lewat kata-kata saja. Karena Aku yakin kalau saat ini, yang ada dihatinya Bos hanyalah Monalisa," batin Bobby, seraya ia mengeluarkan benda pipihnya, dari saku jasnya.
"Hei..Bob! Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku, hah?" tanya Fazril, sambil mengerutkan keningnya.
"Maaf Bos! Bukannya saya tidak mau menjawab pertanyaan Anda. Tapi saya pikir, lebih baik Anda lihat sendiri Bos, agar Anda bisa menilainya sendiri," balas Fazril seraya ia menyerahkan benda pipihnya kepada Bosnya itu.
Kembali lagi hazrin mengerikan dahinya, "Memangnya ada apa didalamnya, hm?" tanyanya tampak enggan untuk mengambil benda pipihnya Bobby.
"Anda akan tahu, bila Anda melihatnya sendiri Bos!" kata Bobby lagi, masih menyodorkan handphonenya pada Fazril. Karena Bobby sedikit mendesak, akhirnya Fazril pun mengambil benda pipih miliknya Bobby tersebut. Kemudian ia pun langsung membuka, sebuah rekaman CCTV yang berada di dalam kamar rawatnya.
"Eh! Kenapa Mona jadi seperti itu?" tanya Fazril, yang tampaknya ia sedikit tak percaya dengan hasil rekaman cctv tersebut.
Bobby yang melihat, wajah Bosnya yang secara tidak langsung tak percaya ia pun, segera menunjukkan rekaman cctv yang lainnya lagi, "Anda sebaiknya juga harus melihat ini Bos!" katanya setelah ia membuka rekaman yang lainnya.
Melihat rekaman tersebut, mata Fazril langsung terbelalak, "Hah? Wanita ini! Apakah dia sudah menjadi seorang pel*c*r!" katanya, dengan wajah yang tampak mulai membenci. Disaat bersamaan..
"Mas Yudistira? Kamu sudah sadar Mas?" ujar seorang wanita yang terlihat sedang berlari-lari menuju ke tempat Fazril dan Bobby saat ini.
Mendengar itu, Fazril pun langsung menoleh ke sumber suara tersebut, "Cih! Panjang umur juga, kamu ya? Dan sebaiknya kamu jangan pernah muncul lagi dihadapanku!! Karena aku merasa jijik melihat kamu!" kata Fazril, seraya ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun langsung bergegas masuk, namun sebelum ia menutup pintunya.
"Bob! Singkirkan benalu itu! Dan jangan sampai aku melihatnya lagi! Kamu pahamkan?"
"Paham Bos!"
__ADS_1
...🌸🌸🌸...