ANDAI Kau Menjadi Diriku.

ANDAI Kau Menjadi Diriku.
BAYANGAN MASA LALU.


__ADS_3

┈••✾•◆❀🌸 Kalam Hikmah.🌸❀◆•✾••┈


Kala titik air jatuhkan diri ke bumi. Itulah tanda sang awan tuntaskan tugas. Mandikan lembar demi lembar hijau dedaunan. Tumbuhkan kebahagiaan pada setiap jengkal tanah pengharapan...


Ketika air sungai mencapai muara. Itulah akhir dari perjalanan panjangnya. Setelah berliku memuliakan alur kehidupan. Temukan kebahagiaan dalam putihnya buih di luas samudra. Saat mentari tenggelam di garis cakrawala. Itulah akhir dari pengembaraan berharganya. Setelah lelah menebar cahaya penuh berkah. Wujudkan kebahagiaan dalam hangatnya buaian malam...


Ternyata semua ada waktunya, yang telah ditentukan oleh-Nya secara sempurna. Semua ada masanya. Yang tiada kita menyadarinya. Semua ada umurnya. Di mana kita harus ikhlas atas segalanya. Sebagai bukti ketertundukkan yang dalam. Dan kepatuhan yang sepenuhnya utuh. Pada setiap lembar iradah-Nya..


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•┈┈┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🌸❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈┈┈•


Setelah hari dimana ibunya Fazril meminta maaf pada Qanita. Kehidupan Qanita pun berubah drastis. Bahkan di raut wajahnya itu, sekarang terlihat lebih ceria. Sebab di hari-hari yang telah ia lewati, selalu di penuhi dengan kebahagiaan. Apalagi, saat ini kedua orang tua angkatnya datang ke Mansion mereka. Membuat suasana di mansionnya terasa begitu hangat. Sebab orang tua Fazril dan orang tua angkatnya sedang berkumpul. Canda, tawa, selalu menghiasi suasana dimansion mereka.


"Loh Sayang? Kamu lagi ngapain, sih?" tanya Maryati, ketika berada di dapur.


"Ini Mah, loh Nita, mau bikin cemilan untuk kita, nonton nanti," balas Qanita, yang terlihat ia hendak membuat adonan kue.


"Ya ampun Sayang! Membawa perut kamu saja sudah kesulitan. Kok ini malah mau bikin cemilan segala sih?" timpal seorang wanita, dengan perawakan asing, yang terlihat baru memasuki dapur.


"Nah benar tuh Jeng Zaynah. Saya yang hanya melihat saja, ikutan sebeh. Gimana Qanita menjalaninya ya? Emangnya Kamu nggak papakan Nak? Kok Mamah lihat, kamu tuh nggak bisa diam banget sih, jadi orang," sambung Maryati lagi.


Mendengar komentaran dari Ibu mertua, serta Ibu angkatnya, Qanita pun tersenyum lembut, "Insya Allah, Nita baik-baik saja Mom, Mah. Lagiankan ini saran dokter, kalau Nita ingin melahirkan secara normal. Maka Nita harus banyak-banyak Bergerak Mah, Mom," balasnya dengan penuturan yang terdengar begitu lembut. Dan sambil ia menguleni adonan yang mulai terlihat Kalis.


"Tapi Nak, mengadonin seperti itukan butuh tenagakan? Sini biar Mama saja, yang neruskan. Mama nggak tega melihat kamu kepayahan seperti itu," ujar Maryati, seraya ia mendekati menantunya itu.

__ADS_1


"Nggak papa loh Mah, justru ini sangat baguskan untuk...Aakh!" balas Qanita, namun tiba-tiba saja ia mengehentikan perkataannya. Sebab tiba-tiba ia merasakan menyeri pada perutnya, membuat ia langsung terpekik. Mendengar pekikan Qanita, Maryati, maupun Zaynah langsung panik.


"Kamu kenapa Nak? Apa perut kamu mengalami kontraksi?" tanya Maryati, terlihat begitu cemas.


"Iya Nak, apa sudah waktunya kamu melahirkan?" tanya Zaynah, yang wajahnya tak kalah cemas dari Maryati.


"Iya Mah, kayaknya gitu.. ah.. kayaknya Nita mau melahirkan deh, sakit banget soalnya Mah," keluh Qanita, dengan wajah yang terlihat sedang menahan sesuatu yang sakit.


"Aah.. kalau begitu Mama panggil Fazril dulu ya? Jeng tolong jagain Qanita ya? Saya mau memanggil anak saya!" ujar Maryati, yang kemudian ia langsung berlari, tanpa menunggu jawaban dari Zaynah. Dan tak berapa lama kemudian, ia sudah kembali lagi bersama Fazril. Bahkan, ayahnya dan juga Ayah angkatny Qanita, juga turut serta ke dapur.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Fazril, dengan posisinya yang jaraknya masih luman jauh. Ia bahkan terlihat sedang berjalan dengan langkah lebar. Tampak sekali ia amat mencemaskan istrinya.


"Istri kamu, kayaknya mau melahirkan Nak! Cepat bawa dia ke rumah sakit!" jawab Zaynah. Sebab ia melihat, sepertinya Qanita sudah tak bisa mengeluarkan kata-katanya. Karena saat ini ia terlihat sedang menahan.


"Oke Nak! Sekarang cepat pergilah! Karena sepertinya Nita sudah tak kuat lagi menahan sakitnya!" sambung sang Ayah.


"Baik Pah! Kalau begitu kami pergi! Assalamu'alaikum!" balas Fazril, seraya ia berjalan dengan langkah cepat, menuju ke keluar.


Sesampainya di luar ternyata, Fazril sudah ditunggu oleh Bobby. Bahkan ia juga sudah membukakan pintu mobil untuknya. Hingga mempermudah Fazril memasukkan Istrinya kedalam mobilnya.


"Cepat jalankan mobinya Bob!" teriak Fazril, dengan wajah yang terlihat begitu cemas.


"Baik Bos!" balas Bobby, dan ia pun langsung menyalakan mesin mobilnya. Dan tak berapa lama mobil pun mulai melaju dengan perlahan sampai ia keluar dari gerbang Mansionnya. Setelah itu ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Sayang, sakit banget ya? Aah..seandainya Aku bisa menggantikan rasa sakitmu, kamu pasti tidak..." kata Fazril, ditengah-tengah perjalanan mereka. Namun perkataannya terhenti, karena mulutnya ditutup oleh Qanita dengan tangannya.

__ADS_1


"Syuuht! Mas ja-ngan ber-ka-ta seperti itu! Karena Nita nggak mau kita bertukar tubuh lagi! Karena Nita ingin merasakan nikmatnya, sebagai wanita yang disempurnakan saat-saat menjelang dia menjadi seorang Ibu," balas Qanita, walaupun ia sedang merasakan kesakitan. Namun ia menyempatkan diri untuk memberikan senyuman manisnya pada sang Suami.


"Kamu bilang apa tadi? Kita bertukar tubuh? Apakah itu pernah terjadi sama kita Sayang?" tanya Fazril, tampak penasaran.


"Per-nah Mas! Bahkan dua kali. Dan itu berawal di hari Nita ingin mengakhiri hidup Nita. Setelah Nita minum obat tidur, Nita berkata seperti itu. "Andai kau menjadi diriku. Dan disaat terbangun, Nita sudah berada di pesawat," jelas Qanita.


Mendengar cerita dari Istrinya, Fazril tampak terkejut. Namun tiba-tiba saja bayangan masa lalunya mulai terlintas dipikirannya. Bahkan ia juga melihat kalau dirinya pernah melakukan apa yang dilakukan oleh Qanita. Namun, semakin ia ingin mengingatkan semaunya, tiba-tiba kepalanya terasa begitu sakit.


"Aaakh!!" pekiknya, sambil ia memegang kepalanya.


"Kamu kenapa Mas?!" tanya Qanita, terlihat cemas. Akan tetapi disaat bersamaan, ia hendak memegang kepala suaminya. Ia malah merasakan kontraksi lagi pada perutnya.


"Aakh..!!"


Mendengar itu, Fazril pun tersadar, "Sayang, kamu nggak papa?" tanyanya sambil mengusap-usap perut istrinya.


"Ukh..rasanya a-nak ki-ta sudah mau ke-luar Mas! Aakh..!" balas Qanita, dengan wajah yang terlihat sedang menahan sesuatu. Melihat itu membuat Fazril semakin panik.


"BOBBY!! PERCEPAT LAJU MOBILNYA!!"


...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...


Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke


 

__ADS_1


__ADS_2