
┈••✾•◆❀🌸 Kalam Hikmah.🌸❀◆•✾••┈
Saat hatimu mulai lelah, ingatlah selalu bahwa Allah Maha kuasa atas segalanya, jika Allah saja mampu mengubah malam menjadi siang maka Allah pun mampu dengan mudah mengubah sedihmu menjadi bahagia, mengubah sakitmu menjadi sehat dan mengubah susahmu menjadi mudah.
Tetaplah berbaik sangka dan bersungguh-sungguhlah meminta pertolongan-Nya, percayalah Allah tidak akan mengabaikan setiap sujudmu.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•┈┈┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🌸❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈┈┈•
"Kamu kok membentak Tante Mona?!"
Monalisa langsung tersentak, setelah mendengar pertanyaan Maryati dengan nada suara yang terdengar sedikit tinggi juga. Dan seketika ia pun tersadar kalau dirinyalah yang awalnya membentak calon mertuanya itu.
"Aah.. maaf maafTante, maaf! Mona tidak sengaja Tante. Mona hanya sedang panik, karena Yudis tadi mengancam Tante, kalau Mona tidak terlihat dalam waktu setengah jam, maka Mona tidak akan punya kesempatan lagi bertemu dengannya Tante," dalih Mona, yang akhirnya ia menjelaskan semuanya pada Maryati. Membuat Maryati akhirnya memahami dan memaafkannya.
"Ooh, begitu ya sudah Tante maafin kamu. Sekarang cepatlah agar kamu tidak terlambat Nak," balas Maryati dengan lembut.
"Terima kasih Tante. Iya ini Mona, juga sudah buru-buru. Tapi tetapkanb Mona harus tampil cantik didepan diakanTante?" kata Mona, sambil ia menyisiri rambutnya.
"Iya dong sayang. Tapi kamu sudah cantik kok, jadi buruan sana temui dia. Jangan sampai kamu terlambat!" ujar Maryati, yang tampaknya ia ikutan senang saat mendengar anaknya, mau menemui calon istri yang ia inginkan.
"Oke Tante! Kalau begitu Mona pergi ya? Bye Tante?" pamit Mona dan ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan Maryati.
__ADS_1
"Bye Sayang, semoga berhasil ya?" balas Maryati sambil melambaikan tangannya, ke Mona yang terlihat ia sudah mulai menelusuri koridor hotel dengan langkah terburu-buru.
"Semoga rencana Mona berhasil, biar secepatnya wanita kampung yang buruk rupa itu cepat menyingkir untuk selamanya!" gumam Maryati, sambil menyunggingkan senyuman sinisnya. Dan masih menatap kepergiannya Mona, hingga ia menghilang di balik pintu lift.
"Ya sudah sebaiknya aku istirahat saja deh, soalnya aku masih lelah,"gumamannya lagi. Lalu ia pun kembali masuk ke dalam kamar hotelnya.
...****...
Sementara itu di sisi lain.
Disebuah restoran mewah yang berada di lantai bawah yang terdapat di hotel tempat Mona dan Maryati menginap. Tampak dua orang pria tampan memakai jas hitam, baru saja memasuki restoran tersebut. Lalu keduanya pun langsung berjalan menuju ke salah satu meja yang terdapat di sudut restoran tersebut, tepatnya didekat jendela. Kemudian salah satu pria itu pun duduk di salah satu kursinya. Sedangkan pria yang lainnya berdiri tepat di samping kursinya.
"Bob, apakah kamu sudah memastikan semuamya, sesuai dengan rencana?" tanya pria yang sedang duduk, yang ternyata ia adalah Fazril.
"Kerja bagus! Kemungkinan Dia pasti akan mendatangi salah satu pelayan restoran ini! Jadi pantau terus, siapa pelayan yang akan berkerjasama dengan dia, oke?" ujar Fazril menginginkan Bobby.
"Oke Bos! Kalau begitu saya permisi ke meja yang sana. Karena Nona Mona sudah mendekati," balas Bobby. Dan langsung di anggukan kepala oleh Fazril. Setelah mendapatkan jawaban Bobby pun beranjak dari sana dan langsung kesalah satu meja yang ia tunjukkan tadi. Dan benar saja, tak lama Bobby pergi, tampak berjalan menghampiri mejanya Fazril.
"Hai Yudis? Kamu baru datangkan?" sapa Mona, dan ia bermaksud ingin mencium pipinya Fazril. Namun dengan sigap Fazril langsung menghindarinya. Membuat wajah Mona langsung berubah kecewa, "Kamu sekarang benar-benar berubah ya Yudis? Tidak ada lagi kehangatan dari wajah kamu," lanjut Mona, seraya ia duduk di kursi yang terdapat di sebrang mejanya Fazril. Dan kini mereka pun saling berhadapan.
"Tidak perlu berbasa-basi lagi! Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan!" balas Fazril terdengar begitu dingin.
"Sabar dong Yudis, Kitakan belum pesan apa-apa. Tunggu sebentar ya?" kata Mona sambil ia melambaikan tangannya untuk memanggil salah satu pelayan restoran tersebut. Dan tak berapa lama pelayan itu datang, "Karena aku yang mengundang kamu, jadi biarkan aku yang menentukan minuman beserta makanannya, Oke?" katanya lagi sambil menunjukkan sikap manisnya pada Fazril.
__ADS_1
"Terserah!" balas Fazril singkat, dan terdengar ketus. Mona pun tersenyum tipis, lalu ia pun langsung memesan makanan dan minuman yang ia inginkan. Setelah itu ia kembali menatap wajah Fazril yang terlihat sedang fokus pada layar handphonenya.
"Saat ini kamu boleh dingin dan ketus padaku. Tapi lihatlah nanti, setelah malam ini, kamu akan menjadi milikku seutuhnya Yudistira! Dan aku jamin kau tidak akan bisa melupakan peristiwa malam ini!" batin Mona, sambil menatap wajah Fazril, dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Jangan menatapku seperti itu! Karena aku merasa jijik kau pandangi seperti itu!" ujar Fazril, dengan pandangan yang masih terfokus di layar hpnya. Membuat Mona terkejut mendengarmya, karena ia tak menyangka Fazril bisa tahu kalau dirinya sedang menatapnya.
"Eh! Ma-maaf!" balasnya terdengar gugup. Dan disaat bersamaan seorang pelayan pun datang dengan membawa semua makanan dan minuman yang dipesan oleh Mona tadi. Setelah semua pesanan tersaji diatas meja. Pelayan tersebut pun langsung pergi meninggalkan mereka.
"Marilah bersulang Yudis! Bukankah aku akan pulang ke tanah air? Jadi aku ingin minum bersamamu untuk terakhir kalinya," ucap Mona seraya mengangkat gelasnya dan menyodorkannya kearah Fazril.
"Baiklah! Untuk terakhir kalinya!" balas Fazril, seraya ia mengambil gelas berisi minumannya. Lalu ia angkat gelas tersebut, kemudian ia tempelkan ke gelasnya Mona, sehingga menimbulkan bunyi dentingan dari kedua gelas tersebut. Setelah itu keduanya pun langsung meminum minumannya tersebut.
Mona terlihat langsung tersenyum penuh kemenangan saat, melihat Fazril yang meminum, minumannya hampir setengah gelas. Karena ia merasa sudah menang, akhirnya Mona ikut meminum minumannya juga.
"Aaah.. Terima kasih Yudis, karena kamu mau memenuhi keinginanku. Kamu, tahu Yudis, Aku benar-benar begitu bahagia malam ini!" ucap Mona, sambil tersenyum senang menatap wajah Fazril. Namun tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.
"Eh! Kenapa kepalaku jadi pusing ya? Dan tubuhku juga mulai panas. Ada apa ini? Apakah Minuman kami tertukar?" batin Mona, seraya ia memegang kepalanya.
...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...
Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke 😉 Agar Ramanda bersemangat loh 😉
__ADS_1