
┈••✾•◆❀🌸 Kalam Hikmah.🌸❀◆•✾••┈
Kemarin adalah sejarah. Menorehkan hikmah untuk belajar menapakkan langkah ke masa depan. Setiap yang terlampaui takkan bisa terulang, hanya bisa resapi yang perlu diperbaiki dan ditaubati.
Esok adalah rahasia. Tak ada yang tau apa yang akan kita terima. Apapun mimpimu berikan usaha terbaikmu. Biarkan Dia yang menentukan hasilnya, insyaa Allah usaha dan doa tidak akan menghianatimu
Hari ini adalah pasti. Jalani hari ini sebaik mungkin, apa yang ada di hadapanmu. Luaskan kesabaranmu menunggu ketetapan-NYA. Bersyukurlah jika kau merasa lelah dalam hal kebaikan, kalau tidak, mungkin saja kita lelah dalam perkara kemaksiatan.
Biarkan peluh itu mengiringi setiap upaya kita berpacu menuju ridhoNya. Setiap cobaan, ujian, baik maupun buruk bagi kita menurut-Nya sudah sesuai dengan kemampuan yang kita punya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•┈┈┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🌸❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈┈┈•
Di Apartemen Fazril.
Sudah hampir satu Minggu, Bobby merasakan ada hal yang aneh pada Bosnya. Bukan halnya masalah diperkerjaannya saja. Bahkan dirumah ia juga bersikap aneh. Sehingga ia terpaksa harus pagi sekali sudah harus keapartemen bosnya.
"Sebenarnya Pak Azril kenapa sih? Kok akhir-akhir ini kelakuannya jadi aneh gitu ya? Mana gue disuruh nyari makanan khas Padang lagi! Di negara Eropa ini emangnya ada apa restoran Padang? Huh bikin repot aja sih Bos akhir-akhir ini!" gerutu Bobby, disepanjang ia menelusuri koridor apartemen miliknya Fazril. Sesampainya di depan pintu, ia pun langsung menekan tombol kode kuncinya. Dan tak berapa lama pintu pun terbuka.
Sesampainya didalam ternyata suasana begitu sepi, "Hah? Kayaknya si Bos belum bangun ya? Wah gawat ini mah, bisa-bisa terlambat meeting kalau begini!" gumam Bobby, seraya ia membuka pintu kamarnya Fazril. Dan benar saja, dengan apa yang ia dipikirkan, ternyata Bosnya memang masih tertidur.
"Alamak! Benar dugaan gue! Pak Fazril masih tidur," ucapnya sambil menepuk jidatnya, "Haiis.. gawat! Hah, sudahlah sebaiknya aku bangunkan saja dia sekarang!" Bobby pun langsung menghampiri Fazril yang terlihat masih merungkel dibawah selimutnya.
__ADS_1
"Bos, bangun Bos! Ini sudah pagi! Bukankah hari ini kita ada jadwal meeting dengan perusahaan ACH?" kata Bobby, seraya ia mengguncangkan tubuh Fazril.
"Aah.. berisik banget sih Lo! Sana jangan ganggu gue!" balas Fazril dengan suara seraknya ciri khas orang bangun tidurnya. Dan bukannya bangun ia malah kembali menarik selimutnya.
"Eh! Kok malah tidur lagi sih Bos? Ingat loh Bos, jadwal meeting Anda tinggal satu jam lagi! Dan perjalanan kita bukannya dekat Bos!" ujar Bobby, kembali mengingatkan Fazril. Membuat Fazril merasa terganggu.
"Aakh! Sialan Lo! Ganggu gue aja!" bentaknya seraya ia bangkit dari tidurnya. Dan ia pun langsung menatap wajah Bobby dengan tatapan penuh kekesalan.
"Maaf Bos! Tapi ini waktunya memang mepet banget Bos!" balas Bobby, seraya ia melangkah mundur, karena ia merasa negeri melihat tatapan Bosnya yang begitu menyeramkan.
"Cih! Gue nggak perduli sama mereka! Dan Lo, karena sudah mengganggu gue tidur! Maka bonus Lo hilang! Tidak ada bonus-bonusan!" ujar Fazril, seraya ia bangkit dari tempat tidurnya, dan kemudian ia melangkah menuju ke kamar mandinya, dengan wajah yang terlihat amat sangat kesal.
"Haiis.. belum juga satu bulan dikasih bonus, udah diambil lagi! Huh..nasib-nasib begini amat sih jadi seorang bawahan!" gerutu Bobby, seraya ia melangkah keluar dari kamarnya Fazril. Dan baru saja ia keluar dari kamar Bosnya itu. Tiba-tiba saja Fazril juga sudah keluar dengan pakaian yang sudah lengkap.
"Eh! Kok cepat banget Bos? Anda nggak mandi ya?" tanya Bobby merasa heran.
"Eh! Kok bisa? Jadi selama ini Bos nggak pernah mandi dong?" tanya Bobby, yang tampaknya ia benar-benar merasa heran. Karena biasanya Bosnya itu kalau mandi sangatlah lama, dan juga sangatlah pembersih orangnya.
"Kenapa emangnya, masalah buat Lo hah? Gue mau mandi kek, mau nggak kek! Bukan urusan Lo!" ujar Fazril terdengar begitu ketus, "Ya sudah ayo cepat berangkat!" sambungnya lagi. Seraya ia melangkah menuju ke pintu apartemennya. Namun baru saja ia hendak membuka pintunya tersebut, tiba-tiba ia kembali menoleh ke arah Bobby.
"Oh iya pesanan gue mana? Bukankah tadi malam gue nyuruh Lo untuk mencarikan, makanan Padang ya?" tanyanya dengan wajah yang terlihat amat serius.
"Nah itu dia Bos, saya sudah cari kemana-mana tapi nggak ada Bos! Tapi kata teman saya, di Den Haag, ada sih. Cuma jauh banget Bos, tiga jam perjalanan dari sini," balas Bobby berkata apa adanya.
__ADS_1
"Akh, gue nggak mau tahu! Pokoknya Lo harus dapatkan itu! Karena gue lagi kepingin makan, masakan Padang!" ujar Fazril terdengar begitu tegas. Membuat Bobby merasa heran melihatnya.
"Haiiis.. kenapa bos jadi kayak orang ngidam gini sih? Selalu kepingin sesuatu hal yang sulit didapatkan!" gerutu Bobby lirih. Namun ternyata Fazril masih bisa mendengarnya.
"Apa Lo bilang? Ngidam? Emangnya ada apa seorang laki-laki ngidam hah?! Sembarang saja kalau ngomong!" protes Fazril seraya ia berjalan menuju ke pintu liftnya.
"Ya adalah Bos! Abang ipar saya juga begitu kok! Waktu istrinya hamil yang ngidam suaminya kok! Bahkan setiap paginya, dia mengalami morning sickness juga loh. Sedangkan kakak saya malah biasa-biasa saja Bos," balas Bobby. Membuat Fazril langsung menghentikan langkahnya. Kemudian ia pun langsung menatap wajah Bobby dengan tatapan seperti ingin mencari kebenaran.
"Apakah yang Lo katakan itu benar adanya, hah?" tanyanya dengan memasang wajah penasarannya.
"Ya benar Bos! Kalau nggak percaya Anda bisa kok telpon langsung pada Kakak saya, atau pada Abang ipar saya Bos! Apa mau saya hubungi?" tanya Bobby sambil ia mengambil benda pipihnya.
"Tidak usah!" kata Fazril, seraya ia melanjutkan langkahnya, menuju ke mobilnya berada. Disepanjang jalannya ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kalau yang dikatakan Bobby itu benar. Berarti yang aku alami saat ini, penyebabnya..."batn Fazril, seraya ia kembali menghentikan langkahnya, "Ah..Jangan-jangan saat ini Qanita hamil lagi? Hah! Kalau begitu sebaiknya Aku mencari Qanita saja!" batinnya lagi.
"Bos kok malah berhenti disini sih? Waktu kita sudah mepet banget nih Bos," tegur Bobby, yang terlihat ia begitu gelisah, karena bosnya sejak tadi selalu saja melamun.
"Aah, persetan sama meeting! Gue nggak perduli lagi! Jadi sebaiknya Ayo kita mencari istriku saja!" kata Fazril, seraya ia masuk ke dalam mobilnya.
"Eh! Loh Kok? Haiiis.. bodo Akh! Nggak usah protes lagj, dari pada dipotong gaji, lebih baik turuti saja perkataannya!" gerutu Bobby, yang kemudian ia pun ikut masuk ke dalam mobilnya. Dan tak berapa lama mobil pun langsung melaju.
...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke 😉 Agar Ramanda bersemangat loh 😉