ANDAI Kau Menjadi Diriku.

ANDAI Kau Menjadi Diriku.
MEMAINKAN DRAMA.


__ADS_3

┈••✾•◆❀🌸 Kalam Hikmah.🌸❀◆•✾••┈


Semua yang ada dalam genggaman bakal lenyap.


Di dalam terang maupun gelap. Di keramaian maupun senyap. Harta benda, kuasa, prestasi dan karir hebat, status keren, pun paras menawan, bakal lenyap. Bisa terkikis selagi kita ada. Semua habis setelah kita tiada. Kecuali amal sholih, abadi dalam timbangan-Nya.


Namun permainan dunia dengan semua tipu dayanya mendorong orang berlomba memburu apa-apa yang sesudahnya sirna. Bahkan ringan hati menjadi dzalim demi mereguk nikmat fana.


Ringan hati menganiaya, menyakiti, merampas yang bukan haknya.


Astaghfirullah.. Ya Rabb... ampunilah kami semua. Kami hanya insan yang lalai dan lengah. Tanpa hidayah-Mu niscaya kami tak dapat keluar dari perangkap pesona dunia yang oleh setan ditampakkan begitu indah. Maka berikanlah kami hidayah-Mu ya Rabb,"


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•┈┈┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🌸❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈┈┈•


"Mas Yudistira?"


Mendengar suara wanita yang menyebutkan nama suaminya. Dengan spontan Qanita langsung melepaskan tautan bibirnya yang sedang menempel dibibirnya Fazril. Dan dengan spontan juga ia langsung menoleh ke sumber suara wanita tersebut. Dan tampaklah olehnya seorang wanita nan cantik dan seksi, terlihat sedang berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


Begitu juga dengan Fazril, yang terlihat ia juga ikut menoleh ke sumber tersebut. Dan seketika matanya langsung terbelalak saat melihat wajah si wanita tersebut. "Monalisa!" sentaknya.


DEGH!! Seketika jantung Qanita langsung berdegup kencang, tatkala mendengar suaminya menyebut sebuah nama yang acapkali ia dengar lewat ibu mertuanya. Dan seketika ia langsung mengalihkan pandangannya ke wajah suaminya. Karena Ia ingin melihat bagaimana reaksi wajah istri suaminya ketika melihat Sang mantan. Dan tampaklah olehnya, wajah keterkejutan suaminya itu.


"Syukurlah, kamu mengingat diriku Mas," ucap Monalisa, tampak begitu senang, karena ternyata Fazril masih mengingat dirinya. "Aku tadi mengunjungi teman Mas. Dan tidak sengaja, aku mendengar kalau kamu terkena amnesia. Makanya aku buru-buru kesini. Karena aku sangat mencemaskanmu Mas," sambungnya lagi, yang kini ia sudah berada di sisi kirinya Fazril. Dan bahkan ia langsung memeluk Fazril.


"Lepaskan Mona! Kamu lihat aku sedang bersama istriku!" kata Fazril, seraya ia melepaskan pelukannya Monalisa.


"Tapi Mas! Bukankah aku yang kamu cintai Mas? Buktinya ketika kamu terbangun tadi kamu tidak mengingatnya, iyakan? jadi sudah jelaskan? Kalau dia hanya benalu bagi hubungan kita Mas. Dan karena dia juga kakek kamu, memaksaku agar memutuskan hubungan kita. Kamu tahu Mas, Aku sangat sedih..hiks..hiks.. semuanya gara-gara dia! Hiks..hiks..hiks.." balas Monalisa, yang tampaknya ia sedang memainkan perannya. Dengan wajah yang terlihat sudah dipenuhi dengan air matanya.


"Asal kamu tahu ya Mas, hiks..hiks.. gara-gara dia juga, hiks.. hiks.. aku dibawa kaki kamu ke tempat pengasingan yang sama sekali tidak aku kenali, agar aku tak bisa menemuimu lagi. Hiks..hiks. Dan mereka juga mengancamku, kalau aku tidak menurutnya, maka mereka akan mencelakai kamu Mas, hiks..hiks.." sambungkan mana bisa lagi sambil ia menatap Qanita dengan tatapan penuh rasa dendam.


"Kamu jangan mengada-ada Mona.. Aaakh!" balas Fazril, yang tiba-tiba saja ia terpekik. Karena tampaknya ia sedang berusaha mengingat sesuatu. Akan tetapi seketika kepalanya terasa begitu sakit. Dan dengan spontan ia langsung memegang kepalanya, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.


"Jangan menyentuh Dia! Kamu pergilah dari sini! Karena dia juga tidak mengenalimu!" bentak Monalisa terlihat begitu percaya diri. Hal itu membuat Qanita menjadi kesal.


"Hai! Saya istri sahnya! Jadi Andalah yang tak berhak menyentuh Suami saya! Karena kamu bukan siapa-siapanya!" balas Qanita dengan nada yang tak kalah kerasnya dari Monalisa.


"Apa Anda bilang? Saya bukan siapa-siapanya? Hai perempuan jal*ng! Saya ini kekasih yang dicintai oleh Yudistira! Jadi andalah yang seharusnya pergi dari sini!" seru Monalisa. Dan diwaktu bersamaan pintu ruangan Fazril pun terbuka, dan munculah seorang pria yang terlihat sedang membawa kantongan plastik.

__ADS_1


"Apakah Anda sudah selesai memainkan dramanya Nona? Kalau sudah selesai seharusnya Anda sudah bisa keluar dari sini sekarang juga!" ujar pria itu sambil menatap wajah Monalisa dengan tatapan yang terlihat begitu dingin.


mendengar kata-kata pria itu Monalisa langsung menoleh ke sumber suara tersebut. "Bobby!" sentaknya terlihat begitu terkejut melihat kedatangan Bobby, "Eh! Bukankah kamu...?" sambungnya lagi namun perkataannya langsung di sergah oleh Bobby.


"Kenapa Anda terkejut begitu hah?" tanya Bobby, seraya ia berjalan mendekati Mona. "Ooh.. saya paham akan keterkejutannya Anda! Pasti tadi sempat berpikir kalau saya sudah matikan? Karena orang-orang sewaan Anda, itu hah?" tanya Bobby lagi, sambil menatap tajam pada Monalisa. Membuat mata Monalisa langsung membulat mendengar perkataannya.


"Eh! A-apa m-maksud dari perkataan Anda? Sa-saya tidak paham dengan yang kau katakan Bob!" balas Monalisa, tampak ia seperti gugup. Setelah mendengar perkataan Bobby.


Bobby, langsung menyunggingkan senyuman sinisnya. "Heh..! Benarkah Anda tidak paham Nona? Kalau begitu baiklah, saya akan membuat Anda paham!" ujar Bobby. Lalu tak berapa lama ia pun langsung menepuk tangannya sebanyak tiga kali. Dan masih memberikan tajam ke Monalisa.


PROK....PROK...PROK!! Suara tepukannya terdengar begitu nyaring. Dan seketika pintu ruang rawat Fazril kembali terbuka. Dan tak berapa lama, masuklah empat orang pria. Namun dua dari mereka, tampak sedang terikat kedua tangannya. Melihat kedua pria yang sedang terikat, mata Monalisa langsung terbelalak. Melihat hal itu, Bobby pun menyunggingkan senyum seringainya.


"Heh.. tampaknya Anda begitu terkejut ya, melihat kedua pria ini? Apakah Anda mengenali mereka Nona?" tanya Bobby, tampak sekali ia begitu puas melihat wajah Monalisa yang terlihat sudah tak bisa mengeluarkan kata-katanya.


"Bagaimana Nona? Apa Anda juga ingin seperti mereka? Ataukah, Anda ingin pergi sendii..." tanya Bobby. Namun belum lagi ia melengkapi kalimatnya, Monalisa sudah langsung pergi tanpa berkata apapun. Namun matanya menatap wajah Bobby dengan tatapan yang tak bisa diartikan lagi.


"*Cih! Lo pikir gue akan menyerah? Heh.. mimpi saja kalian! Karena Gue tidak akan pernah menyerah! Sampai Yudistira, bertekuk lutut di hadapan gue!" batin Monalisa, sambil menatap wajah Bobby dengan tatapan penuh dendam.


...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke*


 


__ADS_2