ANDAI Kau Menjadi Diriku.

ANDAI Kau Menjadi Diriku.
AKANKAH TERTUKAR LAGI?


__ADS_3

┈••✾•◆❀🌸 Kalam Hikmah.🌸❀◆•✾••┈


Ingin dimudahkan urusan? Ingin digampangkan persoalan? Ingin dilapangkan dada, dijernihkan pikiran, ditenangkan hati dan dibukakan pintu-pintu solusi?


Gantungkanlah pengharapanmu kepada Allah dan jangan berpaling dari-Nya. Niscaya, cepat atau lambat, semua hajatmu akan dipenuhi pada saat terbaik, dengan cara terbaik, dan dengan sesuatu yang paling baik.


Ada satu nasihat dari Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi rahimahullâh: "Seorang hamba apabila menggantungkan hati dan mengajukan urusannya kepada Allah semata, niscaya segala urusannya akan menjadi baik, segala keadaannya akan menjadi mudah, pemberian dari Allah pun akan datang kepadanya tanpa dia sadari."


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•┈┈┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🌸❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈┈┈•


Hari demi hari bergulir silih berganti, hingga tanpa terasa sudah enam bulan telah terlewati oleh Fazril, dengan suasana hati yang tak menentu. Kadang ia melewati dengan hati yang begitu hampa dan sedih. Terkadang ia juga melewatinya dengan hati yang, hingga ia sering, marah-marah tidak jelas. Tetapi kesemuanya itu disebabkan, karena pencarian istrinya belum juga membuahkan hasil. Sehingga tak heran kalau tabiatnya jauh berbeda dari biasanya.


"Bagaimana Bob? Apakah masih belum ada kabar terbaru lagi?" tanya Fazril, yang kali ia suaranya terdengar lemas. Ketika ia berada di mansionnya sendiri.


Yaa, karena perusahaannya semakin maju dengan pesat. Maka tak heran, kalau saat ini ia telah berhasil membeli sebuah mansion dinegara Eropa tersebut. Akan tetapi semenjak ia memiliki Mansion tersebut. Perasaan Ingin bertemu istrinya lagi semakin kuat. Sehingga ia kini seperti tidak memiliki semangat untuk menjalani aktivitasnya lagi. Makanya ia sekarang lebih banyak berdiam diri di mansionnya. Dan perusahaannya ia percayakan pada Bobby. Hanya ketika urusan yang mendesak saja ia baru akan ke perusahaannya.

__ADS_1


"Maaf Bos, masih belum ada! Bahkan Anak buah kita yang ditanah air sudah menelusuri kampung dari orang tuanya. Tapi tetap saja..." balas Bobby. Namun ucapannya langsung terhenti, karena melihat Fazril mengangkat tangannya. Isyarat agar Bobby tak melanjutkan laporannya lagi.


"Sudahlah! Kau boleh pergi sekarang!" kata Fazril terlihat tidak bersemangat.


"Maaf Bos, apakah Anda hari ini tidak ke kantor lagi?" tanya Bobby, terlihat ragu-ragu.


"Tidak! Hari ini aku sedang tidak bersemangat!" balas Fazril, seraya ia merebahkan tubuhnya di sofa yang sedang ia duduki. Setelah itu ia menutup matanya dengan lengan kanannya.


"Tapi Bos, hari ini perusahaan kita mendapatkan undangan, dari perusahaan Zxx, karena keberhasilan kita jadi mereka.." ujar Bobby. Namun lagi-lagi Fazril mengangkat tangan kirinya, sambil dilambaikannya untuk mengisyaratkan agar Bobby Pergi dari sana, tanpa mengeluarkan kata-katanya.


Tampak Bobby sedikit kecewa melihat hal itu. Ia juga terlihat sedih melihat Bosnya yang semakin hari semakin menyedihkan menurutnya. Pasalnya ia seperti kehilangan semangat untuk untuk menjalankan kehidupannya lagi.


"Aah.. hanya Nyonya yang bisa mengembalikan semangat Bos lagi. Tapi kemana lagi aku harus mencari Nyonya ya? Padahal semuanya sudah dikerahkan. Tapi tetap saja, tidak membuahkan hasil. Aah sudahlah sebaiknya aku kembali ke kantor dulu!" gumam Bobby lagi, yang akhirnya ia menghilang di balik pintu Mansion miliknya Fazril.


Setelah mendengar pintu tertutup Fazril pun langsung menurunkan lengannya yang tadi menutupi matanya tadi, "Hmm.. Akhirnya dia pergi juga!" gumam Fazril seraya bangkit dari sofa tersebut lalu ia pun berjalan menuju anak tangga, yang menuju ke lantai dua. Di sepanjang ia menaiki anak tangga tersebut, matanya terlihat sedih, sambil melihat di sekeliling dalam Mansionnya.


"Aah.. rasanya semua yang aku lakukan tidak ada artinya tanpa adanya dirimu Qanita. Mau sampai kapan kamu bersembunyi dariku Nita?" gumam Fazril, terdengar begitu lemah. Disaat seperti itu, tiba-tiba saja ia teringat pada waktu mereka tertukarnya tubuh mereka.

__ADS_1


"Aah..iya bukankah kami pernah tertukar tubuh? Seandainya itu terjadi lagi, aku pasti tahu keberadaannya sekarang! Tapi bagaimana cara melakukannya ya?" gumam Fazril sambil mengingat-ingat saat-saat ia berada tubuh Qanita.


"Hmm.. kalau tidak salah, waktu dirumah sakit Papa mengatakan kalau tubuh Qanita lemah di sebabkan obat tidur yang berlebihan. Apakah itu artinya pada saat itu dia ingin bunuh diri? Tapi bukannya mati, tapi malah tubuh kami tertukar?" gumamnya lagi seraya ia membuka pintu kamarnya. Setelah pintu terbuka matannya langsung tertuju kesebuah botol putih yang berada di atas meja tepat di samping ranjangnya. Lalu ia pun menghampiri meja tersebut, kemudian ia pun mengambil botol putih itu.


Untuk sesaat Fazril memandangi botol putih tersebut, sambil ia mendudukkan dirinya di sisi ranjangnya, "Hmm..apakah kalau Aku melakukan hal yang sama, tubuh kami akan tertukar lagi? Kalau Aku malah mati gimana? Aku malah tidak akan pernah bertemu dengan dia lagi dong?" katanya lagi, tampak sekali ia saat ini sedang berada dalam kebingungannya.


"Aah.. persetan dengan semuanya! Hidup pun kalau tanpa dia juga tidak ada artinya! Jadi apa yang harus takutkan lagi! Mungkin ini juga yang terbaik!" katanya lagi yang sepertinya ia benar-benar sudah nekat ingin segera meminum obat yang berada di dalam botol tersebut. Sebab obat-obat yang berada di dalam botol tersebut sudah berpindah di telapak tangannya. Dan tanpa ada keraguan sedikitpun, ia pun langsung memasukkan obat tersebut kedalam mulutnya. Bahkan obat-obat tersebut langsung ia kunyah berharap efek segar bereaksi.


Setelah obat ditangannya sudah habis ia pun langsung meneguk air putih yang berada di atas meja itu juga, "Kenapa tidak ada reaksinya ya? Apakah obatnya masih kurang?" gumam Fazril, sambil ia merasa-rasakan sesuatu didalam tubuhnya.


"Aaah.. Sepertinya memang kurang, sebaiknya ku minum lagi saja!" katanya lalu ia pun mengeluarkan obat tidur itu lagi dari botolnya. Kali ini, ia masukkan semuanya isi yang berada dibotol itu kedalam mulutnya lagi dan kembali lagi ia mengunyahnya. Setelah itu ia bermaksud ingin mengambil gelas yang tadi namun, tubuhnya seketika melemah.


"Aakh.. Apakah sudah waktunya Aku akan ma...aah?" ucapnya lagi. Namun belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba tubuhnya langsung terhempas ke lantai dan akhirnya tak bergerak lagi.


...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...


Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke 😉 Agar Ramanda bersemangat loh 😉

__ADS_1


 


__ADS_2