
Hari-hari terlewati begitu cepat.
Seperti biasanya, Fazril menjalani hari-harinya dengan melakukan perkerjaannya dengan secara berlebihan. Hingga ia dijuluki dengan si penggila bekerja, oleh teman-temannya relasinya. Namun ia tak memperdulikan ejekan dari mereka. Karena baginya hanya bekerjalah, ia bisa mengalihkan pikirannya yang selalu mengarah ke Istrinya.
Tetapi berkat itu semua usahanya semakin melesat. Bahkan perusahaan yang baru ia bangun di negara itu kini sudah mulai melambung tinggi. Sehingga tak heran bila pesaingnya jadi merasa iri karena melihat keberhasilan. Dan tak heran juga, bila ia selalu mendapatkan serangan-serangan kecil dari para pengusaha yang tak menyukainya.
"Heh! Ada yang ingin bermain denganku rupanya?" kata Fazril, sambil tersenyum miring. Membuat Bobby langsung bergidik melihatnya. Karena ia sangat tahu, kalau Bosnya sudah seperti itu, maka orang yang sudah mengusiknya pasti akan menyesal. Karena memang semenjak kehilangan istrinya, Bosnya semakin kejam.
"Bob! Kamu urus masalah ini secepatnya! Pokoknya sebelum kita meninjau hotel kita di Kota AM, masalah ini sudah selesai! Kamu paham?!" ujar Fazril, terdengar begitu tegas.
"Baik Bos! Saya akan segera menanganinya!" balas Bobby.
"Bagus! Kalau begitu, ayo kita makan siang dulu!" ajak Fazril, seraya ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun langsung melangkah keluar dari ruangannya, diikuti oleh Bobby dari belakangnya. Dan baru saja mereka keluar dari pintu lobiy kantornya, tiba-tiba terdengar seorang wanita memanggil namanya.
"Fazril!"
Fazril, yang merasa namanya dipanggil, ia pun langsung menoleh ke sumber suara tersebut, "Mona!" sentaknya saat ia melihat seorang wanita cantik, yang terlihat sedang berjalan menghampiriya bersama seorang wanita paruh baya, yang amat dikenali oleh Fazril.
"Mamah!" sentaknya lagi, dan seketika rahangnya langsung mengeras. "Mau apa kalian datang kesini hah?!" tanyanya lagi, dengan nada terdengar begitu dingin, begitu juga dengan tatapannya.
"Kamu kok dingin begitu sih Nak? Mama dan Mona, sudah jauh-jauh loh datang kesini. Masa sambutan kamu begitu?" protes wanita paruh baya itu, yang tak lain adalah Maryati, ibunya Fazril.
__ADS_1
"Bukan aku yang menyuruh kalian datang kemari! Jadi sebaiknya kalian pulanglah! Karena aku tak menerima kedatangan kalian!" balas Fazril, terdengar begitu ketus.
"Mas Yudistira, Aku dan Mama kamu datang karena.." ujar wanita cantik, yang di panggil Mona itu. Namun perkataannya langsung di sanggah oleh Fazril.
"Jangan panggil Aku Mas! Aku jijik kalau kamu yang menyebutkan itu!" cetus Fazril, sambil menatap dingin pada Monalisa.
"Kamu kok begini sih Nak, sama Mona? Pasti ini ulah wanita itukan? Si anak kampungan itukan? Dia yang menghasut kamukan Nak? Perempuan itu memang nggak pantas untuk kamu!" protes Maryati lagi. Membuat Fazril yang paham maksud perkataan sang Ibu, menjadi semakin marah.
"Berhenti mengata-ngatai istriku! Atau.. Aah sudahlah! Sebaiknya kalian pulang! Karena tidak ada yang menerima kedatangan kalian disini!" pungkas Fazril, dan ia pun langsung bergegas pergi dengan langkah cepatnya.
"Eh! Loh Nak tunggu! Mama belum selesai bicara! Fazril! Fazril!" teriak Maryati, sambil berlari-lari kecil, mengejar Fazril. Namun panggilannya tak direspon oleh Fazril. Ia malah langsung masuk ke mobilnya. Dan tak berapa lama, mobil pun melaju begitu saja meninggalkan Maryati dan Monalisa.
"Hah! Anak kurang ajar! Main Pergi begitu saja! Ini semua karena Qanita! Lihat saja kalau aku ketemu dengannya, akan aku jambak-jambak rambut ikalnya itu!" gerutu Maryati, terlihat amat sangat kesal. Karena ia merasa diabaikan oleh putranya sendiri.
"Aah.. benar juga yang kamu katakan Nak. Karena anak itu akan semakin keras bila kita, terlalu memaksanya,"
"Nah makanya Tante, kita harus membuat rencana dulu. Bila ingin membuat dia kembali ke tanah air. Dan bahkan ia bisa menikahi Mona Tante," balas Mona, yang sepertinya ia sudah memiliki sebuah rencana.
"Nah itu yang Tante inginkan Nak, melihat pernikahan kalian. Oh iya, terus apa rencana kamu Nak?" tanya Maryati, terlihat begitu penasaran.
"Tante, nggak papakan? Kalau misalnya, Yudistiranya Mona jebak, hmm.. itu loh Tante, kita harus membuat Yudistira, hmm.. tidur sama Mona, hmm.. Tante pahamkan maksudnya Mona?" balas Monalisa sedikit malu-malu. Dan tampak sekali ia begitu berhati-hati sekali. saat ia mengungkapkan rencananya, karena ia takut, ibunya Fazril tak menyukai rencananya.
__ADS_1
Maryati seperti langsung paham, maksud rencananya Monalisa, dan ia pun langsung tersenyum tipis, "Tante paham maksud kamu Nak. Kamu ingin memberikan Fazril, obat perangsangkan? Biar dia bisa meniduri kamu?" tanyanya seperti meminta kejelasannya.
"Benar Tante, tapi Tante nggak marahkan?"
"Untuk apa marah? Justru Tante sangat menyetujuinya Nak! Mungkin dengan cara seperti ini, Fazril bisa terbebas dari jeratan wanita kampung itu!"
Mendengar perkataan dari Maryati, Monalisa terlihat begitu senang. Sehingga ia langsung memeluk tubuh Maryati dengan erat, "Aah, Terima kasih Tante! Rasanya saya jadi nggak sabar, ingin segera menjadi menantunya Tante," kata Monalisa didalam pelukannya.
"Sama-sama Sayang, Tante juga sudah tidak sabar ingin mendengar kamu memanggil Tante dengan sebutan Mamah," balas Maryati, sambil mengelus-elus punggungnya Monalisa.
"Oh iya, kapan kamu akan melaksanakan rencana kamu itu Nak?" tanya Maryati lagi, tampak ia begitu penasaran.
"Secepatnya Tante. Nanti, Mona akan segera menelpon Yudis, dan mengajaknya bicara di restoran hotel kita. Bilang saja, itu pertemuan terakhir. Pasti dia akan datang Tante. Nah disitulah, aku akan memberikan obat tersebut, kedalam minumannya Tante," balas Monalisa, tampak begitu percaya diri.
"Bagus! Kamu memang anak yang cerdas! Ya sudah kalau begitu, sekarang ayo kita kembali dulu ke hotel, kita untuk mempersiapkan segalanya," ajak Maryati, yang tampaknya ia begitu senang, setelah mendengar rencananya Monalisa.
"Baiklah Tante, mari," balas Monalisa, dan akhirnya mereka pun pergi meninggalkan area perkantoran milinya Fazril.
...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...
Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke 😉 Agar Ramanda bersemangat loh 😉
__ADS_1