
Sesuai syarat dari sang Ayah, Fazril yang berada di dalam tubuh Qanita, diperbolehkan berangkat bila ia mau ditemani oleh Rudi. Dan karena Fazril telah menyetujuinya akhirnya mereka pun langsung terbang ke negara Eropa. Dan selama diperjalanan Fazril lebih banyak tidurnya, mengingat kondisi tubuh istrinya, memang belum sehat benar. Untungnya ia ditemani oleh Rudi, sehingga ketika pesawat mendarat, ia langsung dibangunkan olehnya.
"Nyonya.. Nyonya muda, kita sudah sampai Nyonya, jadi bangunlah," kata Rudi, tanpa menyentuh tubuh Qanita sedikitpun.
"Humm.. terima kasih Pak Rudi, saya sudah bangun kok."balas Fazril seraya ia bangkit dari kursinya, "Ya sudah ayo kita turun Pak Rudi," katanya lagi seraya ia melangkah menuju pintu pesawat.
"Baik Nyonya Muda, mari," balas Rudi, dan akhirnya mereka pun turun dari pesawat yang membawa mereka tadi. Sesampainya mereka di pintu kedatangan, Fazril melihat seorang laki-laki yang amat ia kenali. Sepertinya dia sedang menunggu kedatangan mereka.
"Selamat datang Nyonya Muda!" ujar Pria tersebut sambil membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Terima kasih Bobby! Apakah kamu datang seorang diri saja?" tanya Fazril, dengan mata melihat sekelilingnya, seperti sedang mencari sesuatu.
"Iya Nyonya, saya hanya datang sendiri. Maaf tuan tidak bisa menjemput Anda, karena beliau tadi sepertinya sedang kelelahan. Makanya saya tidak bilang kalau Anda mau datang," balas Bobby terdengar berhati-hati sekali.
Mendengar perkataan dari Asisten, wajah Qanita terlihat sedikit kecewa. Karena sebenarnya ia tadi sempet berharap, tubuh Fazrillah menjemput kedatangannya, "Ooh.. ya sudah tidak apa-apa Bob! Kalau begitu ayo kita langsung ke apartemen saja," balas Fazril. Dan ia bermaksud ingin melangkahkan kakinya. Namun langkahnya dihentikan oleh Rudi.
"Maaf Nyonya muda. Karena Anda sudah bersama dengan Bob. Berarti tugas saya sudah selesai. Untuk itu saya mau langsung berpamitan kembali ke tanah air saja ya Nyonya?" ujar Rudi seraya ia menyerahkan tas koper milik Qanita, pada Bobby.
"Ooh.. baiklah Pak Rudi. Kalau begitu Anda hati-hati di jalan ya? Dan terima kasih karena sudah mengantar saya," balas Fazril dengan ramah, seperti yang dilakukan oleh Qanita. Sehingga Rudi mau pun Bobby, tidak akan pernah tahu kalau yang berada di dalam tubuh Qanita sebenarnya adalah Fazril. Padahal sifat aslinya Fazril, sangatlah dingin pada siapapun, walaupun pada asistennya sendiri.
__ADS_1
"Sama-sama Nyonya Muda! Kalau begitu saya permisi," ujar Rudi seraya ia membungkukkan tubuhnya. Dan setelah mendapatkan anggukan kepala dari Fazril, Rudi pun langsung bergegas pergi.
"Ayo kita pergi juga dari sini!" ajak Fazril, seraya ia mulai melangkahkan kakinya menuju pintu lobiy bandara.
"Baik Nyonya Muda," balas Bobby, seraya ia menarik tas koper milik Qanita, lalu ia pun mengikuti langkahnya majikannya itu. Dan setelah mereka berada di dalam mobil.
"Oh iya Bob, apakah Qanita mendengarkan permintaan Papa untuk menunda pertemuannya pada perusahaan xxx?" tanya Fazril, yang sepertinya ia tak sadar saat menyebutkan nama istrinya.
"Qanita? Bukankah itu nama Nyonya ya?"
Fazril langsung tersentak saat mendengar perkataan asisten itu, "Eh! Maksudnya Suami saya! Apakah dia menuruti keinginan Papa mertuaku?" balas Fazril, terlihat gugup karena ia hampir membuat kesalahan.
"Apa! Bukankah Papa sudah menyuruhnya untuk tidak melanjutkannya lagi? Kenapa tetap saja kalian lakukan hah? Huh Pasti dia tenderkan sekarang?" tanya Fazril yang sepertinya ia sangat penasaran sekali.
"Maaf Nyonya! Tapi pada saat itu, Tuan muda tidak bisa mundur lagi. Tapi Anda tidak perlu khawatir Nyonya, karena yang memenangkan tender tetaplah Tuan muda," jelas Bobby, seraya ia memfokuskan dirinya dalam mengemudinya.
"Apa! Aku tak salah dengarkan? Qanita memenangkan tendernya?" tanya Fazril, tampaknya ia keceplosan lagi.
"Qanita?"
__ADS_1
"Aah.. maksudnya saya tadi Suami saya gitu Bob! Apakah dia benar-benar telah memenangkan tendernya?" tanya Fazril lagi, yang sepertinya ia masih belum percaya pada perkataan Bobby tadi.
"Benar Nyonya muda! Tuan Muda telah memenangkan tendernya dengan hasil yang memuaskan," balas Bobby sekali lagi menyakinkan majikannya itu.
"Eh, kok bisa? Dari mana dia belajar tentang bisnis? Apakah sebenarnya dia memang pernah belajar?" gumam Fazril lirih, "Aah.. ternyata aku benar-benar tidak pernah tahu tentang istriku. Hah.. mungkin benar kata Papah, Kenapa tubuh kami tertukar? Penyebabnya adalah diriku sendiri, karena nggak pernah mau tahu tentang dia," gumamannya lagi, dengan memasang wajah yang ada penyesalan disana. Di saat bersamaan..
"Kita sudah sampai Nyonya!" kata Bobby, membuat Fazril langsung tersadar dari lamunannya.
"Aah.. terima kasih Bob!" balas Fazril, lalu ia pun langsung bergegas turun. Dan langsung berjalan menuju pintu lobiy apartemennya dengan langkah yang pasti, membuat Bobby yang masih berada di dalam mobilnya merasa heran melihatnya.
"Eh! Bukankah ini pertama kalinya Nyonya datang kesini ya? Tapi kok, beliau seperti sudah sangat mengenal tempat ini ya?" gumam Bobby terlihat begitu heran, ketika melihat tubuh Qanita yang berjalan memasuki lobby Apartemen tanpa ada keraguan sama sekali.
"Ada apa dengan Nyonya ya? Sikapnya kok aneh deh? Apa hanya perasaanku aja ya? Aah.. Sudahlah mungkin saja Nyonya memang pernah kesini sama Tuan muda tanpa sepengetahuanku kan?" gumam Bobby lagi, dengan wajah seperti sedang mengingat-ingat sesuatu, "Aah sudahlah! Sebaiknya aku cepat menyusul saja! Sekalian bawakan koper Nyonya!" lanjutnya lagi, lalu ia pun langsung bergegas turun dan tak lupa juga ia mengambil kopernya Qanita, setelah itu ia pun segera menyusul tubuh Qanita. Sesampainya ia di lobby Apartemen..
"Tuhkan benar! Kalau Nyonya itu sebenarnya pernah kemari! Lihat saja disini sudah tidak ada, berarti dia sudah naik keataskan?"
...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...
Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke 😉 Agar Ramanda bersemangat loh 😉
__ADS_1