
Qanita, yang telah kehabisan tenaga itu, akhirnya tak sadarkan diri. Karena ia sudah sangat berjasa sekali, membuat pasangan suami istri itu akhirnya membawa Qanita kerumahnya. Kini Qanita sudah dua hari berada di rumah mereka. Dan sudah dua hari juga Qanita belum juga sadar dari pingsan. Membuat pasangan suami istri itu menjadi cemas melihatnya. Namun karena kesabaran dari wanita itu, yang memberikan perawatan pada Qanita. Akhirnya Qanita pun tersadar juga, membuat wanita itu terlihat begitu senang.
"Syukurlah! Akhirnya Anda sadar juga! Saya sudah sangat cemas sekali, saat melihat Anda tidak sadar-sadar. Membuat saya jadi merasa bersalah," ujar Wanita itu. Didalam bahasa Inggrisnya "Aah.. iya saya lupa, perkenalkan Nama saya Zayna Aprilia, kalau suami saya bernama Hanri Fernando," lanjut wanita yang menyebutkan namanya adalah Zayna Aprilia itu.
"Ooh, saya Qanita Raihana Nyonya," balas Qanita dengan suara yang terdengar masih lemah, "Oh iya, tadi Anda bilang saya tidak sadar-sadar? Memangnya sudah berapa hari saya tidak sadarkan diri nyonya?" tanya Qanita, terlihat Penasaran.
"Anda tidak sadarkan diri selama dua hari Nona," balas Zayna, berkata apa adanya. Membuat Qanita langsung terkejut mendengarnya.
"Apa! Dua hari? Lama banget ya? Kalau begitu, saya minta maaf Nyonya. Karena saya sudah banyak merepotkan Anda," balas Qanita, dengan wajah yang terlihat merasa bersalah.
"Eh, kok Jadi Anda yang minta maaf? Seharusnya sayalah yang seharusnya minta maaf, dan juga sangat berterima kasih, karena telah menyelamatkan saya. Sekali lagi terima kasih ya nona? ucap Zayna, seraya ia mengatupkan kedua tangannya.
"Eh! Sama-sama Nyonya, saya juga ingin mengucapkan terima kasih pada anda. Karena Anda telah memberikan saya tumpangan di rumah anda ini," balas Qanita merasa tidak enak kepada Zayna.
"Aah.. hanya tumpangan saja, itu tidak seberapa dibandingkan dengan jerih payah Anda, ketika menolong saya Nona," ujar Zaynah sambil ia menggenggam tangan Qanita.
"Maaf Nyonya, bisakah Anda jangan memanggil saya dengan sebutan Nona? Karena rasanya saya merasa tidak nyaman mendengar panggilan tersebut Nyonya. Jadi saya minta Anda panggil saja Saya Hana Nyonya," pinta Qanita.
"Ooh.. baiklah, saya akan memanggil Anda, Hana saja, ya?"
"Iya itu lebih baik nyonya," balas Qanita sambil menyunggingkan senyuman manisnya pada Zainah. Di saat bersamaan terdengar suara bariton seorang pria dari luar rumah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Istriku? Aku sudah kembali!" teriak Pria tersebut. Membuat Qanita langsung menatap wajah Zaynah.
"Aah.. itu Hanri suamiku. Sebentar ya? Aku mau menemuinya dahulu," ujar Zaynah, dan langsung dianggukan oleh Qanita. Setelah itu Zaynah pun langsung bergegas meninggalkan Qanita, yang terlihat masih diatas sebuah pembaringan.
"Ah.. sebaiknya aku secepatnya pergi dari sini! Aku nggak mau merepotkan mereka terus. Eh, tapi aku harus pergi kemana ya?" gumam Qanita, tampak ia sedang kebingungan.
"Begini saja, pertama-tama aku harus mencari tempat tinggal saja dulu. Kalau bisa tempat tinggalnya, jauh dari kota, jadikan Mas Fazril tidak bisa menemukaku. Tapi dimana ya? Aah aku tanya saja sama Nyonya Zainah, nanti, pasti beliau sangat tahu. Diakan penduduk Asli sini," gumam Qanita, terlihat ia sudah memantapkan dirinya untuk tinggal di negara yang tidak ia kenal itu. Di saat bersamaan..
"Nita, ayo kita makan bersama, tadi suami saya, telah membelikan makanan untuk kita," kata Zaynah, menyadarkan Qanita dari lamunannya.
"Eh! Baiklah Nyonya," balas Qanita, dan ia pun langsung bangkit dari tempat tidurnya. Setelah itu ia pun mengikuti langkah Zaynah, dengan perlahan. Karena ia masih merasa tubuhnya sangatlah lemah.
"Duduklah di sini Nona," ujar pria yang sudah pasti dia adalah Hanri suaminya Zaynah.
"Silahkan Nita, kamu mau bertanya apa?"
"Hmm.. begini, saya pendatang dari Indonesia, dan saya ingin menetap di sini. Jadi saya memerlukan tempat tinggal Nyonya, tapi saya ingin tinggal yang sangat jauh dari kota. Apakah Anda tahu, tempat yang saya inginkan itu? Tempat yang kecil juga nggak papa Nyonya," ujar Qanita, terlihat sangat berhati-hati sekali.
Mendengar pertanyaan Qanita, Zaynah dan Hanri pun saling berpandangan, "Istriku, Kitakan memiliki rumah di bukit SX, coba kamu tawarkan itu, pada Nona Nita, siapa tahu saja dia berkenan merawat rumah kita itu," ujar Hanri, mengingatkan istrinya.
"Aah iya, saya baru ingat. Nita kami memiliki rumah kenangan, di sebuah bukit. Tempatnya sangat indah, dan rumah itu, sudah lama kosong semenjak kami pindah kesini. Dan kami sangat menyayangi Rumah itu. Maukah kamu merawatnya untuk kamu Nita?" ujar Zaynah. Mendengar tawaran dari Zaynah mata Qanita langsung berbinar.
__ADS_1
"Mau Nyoya! Saya sangat mau merawat rumah itu Nyonya," balas Qanita terlihat bersemangat.
"Alhamdulillah, ya sudah kalau begitu kita makan dulu ya? Nanti setelah itu kita akan kesana bersama-sama," ujar Zaynah sambil tersenyum lembut.
"Baiklah Nyonya, sekali lagi terima kasih ya Nyonya, Tuan?" ucap Qanita terlihat sangat bersyukur.
"Sama-sama Nita," balas Zaynah. Setelah itu akhirnya ketiganya melanjutkan ritual memakannya. Tampak sekali Qanita sedang senang, sehingga ia tampak bersemangat melahap makanannya. Setelah ketiganya menyelesaikan makanannya, Qanita pun langsung membantu Zaynah membereskan bekas makanan mereka, setelah selesai.
"Pergilah Bersiap Nita, setelah itu kita akan langsung berangkat,"
"Baiklah Nyonya," balas Qanita terlihat begitu senang. Lalu ia pun langsung bergegas pergi menuju kamarnya tadi. Dan tak berapa lama kemudian, Qanita pun sudah kembali lagi, dengan membawa tas koper miliknya, "Saya sudah siap Nyonya," katanya lagi.
"Aah, syukurlah kalau ayo kita berangkat, tapi tunggu sebentar," balas Zaynah, lalu ia mengeluarkan sebuah kain persegi empat dari dalam tasnya, "Pakailah ini Nita, agar kamu terlindungi dari mata-mata lelaki yang memilikinafsu jahat," kayanya lagi, sambil memakaikan kain tersebut ke kepalanya Qanita, yang ternyata itu kain hijab.
"Sudah selesai kamu cantik sekali Nita," puji Zaynah, setelah ia memakaikan hijab tersebut pada Qanita.
"Aah..terima kasih Nyonya," balas Qanita terlihat senang.
"Sama-sama Nita, ya sudah ayo kita berangkat," ajak Zaynah lagu dan akhirnya mereka pun berangkat, menuju kerumah yang dikatakan oleh Zaynah. Setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mobil Hanri memasuki daerah perbukitan. Akan tetapi, mereka harus melakukan berjalan kaki, untuk mencapai bukit yang dimaksud. Dan tak lama kemudian mereka pun sampai di perbukitan tersebut dan terlihatlah oleh Qanita, rumah kecil nan indah membuat matanya langsung berbinar melihatnya.
__ADS_1
"Cantik! Sangatlah cantik! Saya sangat menyukainya," ujar Qanita tanpa sadar. Membuat pasangan suami istri itu tersenyum senang.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau kamu suka, Nita,"