ANDAI Kau Menjadi Diriku.

ANDAI Kau Menjadi Diriku.
KAMU SIAPA?


__ADS_3

┈••✾•◆❀🌸 Kalam Hikmah.🌸❀◆•✾••┈


Tidak capek pun perlu istirahat, Tidak kaya pun perlu bersyukur. Sadarlah hidup itu pendek, pasti ada saatnya finish. Jangan tertipu dengan usia muda, Karena syarat mati tidak harus tua. Jangan terpedaya dengan tubuh dan badan yang sehat, Karena syarat mati tidak mesti sakit. Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasehat baik. Teruslah berbagi dalam kebaikan, meskipun tidak banyak orang yang bisa memahamimu. Kebaikanmu akan membawa kebahagiaanmu.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•┈┈┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🌸❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈┈┈•


GEDUBRAAAK!!


Tubuh Fazril langsung terbanting ke lantai, dengan posisi telentang. Melihat hal itu, membuat Qanita begitu terkejut, dan ia pun langsung menghampiri suaminya yang terlihat sudah tidak sadarkan diri. Karena kepalanya terhantam lantai begitu kuatnya.


"Astaghfirullah Mas! Mas! Bangun Mas!" teriak Qanita, sambil menepuk-nepuk pipi suaminya. Namun tak direspon oleh Fazril, membuat Qanita semakin panik.


"Aah.. gimana ini? Aku nggak kuat mengangkat tubuhnya! Ah sebaiknya Aku panggil Bobby saja!" gumam Qanita, yang kemudian ia pun langsung bangkit. Lalu ia pun langsung bergegas memanggil-manggil Bobby dengan suara yang terdengar begitu keras. Sehingga Bobby pun langsung datang dengan tergesa-gesa.


"Ada apa Nyonya? Kenapa Anda memanggil saya..." tanya Bobby. Namun belum lagi ia menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Qanita sudah langsung menariknya, memasuki kamarnya. Membuat Bobby terlihat begitu kaget.


"Eh! Nyonya? Apa yang ingin Anda lakukan? Hentikan Nyonya! Nanti kalau Bos tahu, dia akan salah paham saya Nyonya!" teriak Bobby, yang tampak sekali ia begitu enggan untuk masuk ke dalam kamar Bosnya itu.


"Dia tidak akan salah paham! Justru nantinya pasti dia akan terima kasih pada mu!" balas Qanita, masih terus menarik tangan Bobby.


"Terima kasih? Terima kasih untuk apa?" tanya Bobby tampak semakin bingung.

__ADS_1


"Aah.. berisik banget sih kamu! Sebaiknya cepat deh masuk ke kamar mandi! Karena Mas Aztil sudah kelamaan disana tau!" bentak Qanita, yang tampaknya ia sudah semakin kesal. Karena sepertinya Bobbylah yang salah paham, karena tangannya sempat dipegang oleh istri Bosnya.


"Eh! Emangnya ada apa dengan Bos, Nyonya? Kenapa dia berada di.." tanya Bobby, yang terlihat ia masih sangat enggan masuk ke dalam kamar Bosnya.


"Bobby! Bos kamu itu sekarang sedang tidak sadarkan diri tau! Dia kepeleset di kamar mandi!" seru Qanita terlihat geram melihat asisten suaminya itu.


"Apa! Kenapa Anda tidak bilang dari tadi Nyonya!" balas Bobby, lalu ia pun langsung berlari menuju ke kamar mandi Bosnya, meninggalkan Qanita yang terlihat sedang meredamkan emosinya.


"Haiiis.. sabar-sabar Nita! Sabar jangan panik," gumam Qanita, menenangkan dirinya sendiri. Setelah itu ia pun langsung menyusul Bobby, yang sudah berlari duluan ke kamar mandinya.


Namun, belum lagi, Qanita sampai di pintu kamar mandi Bobby sudah kembali keluar sambil membopong tubuh Fazril, dengan langkah terburu-buru, membuat Qanita sedikit terkejut.


"Eh! Sudah keluar! Kalau begitu langsung saja bawa ke rumah sakit ya Bob!" kata Qanita sambil ia berlari menuju ke pintu, dan langsung membukakan pintu tersebut, agar mempermudah Bobby, membawa Bosnya keluar dari kamarnya.


"Baik Nyonya!" balas Bobby, dan dengan langkah cepat, ia pun keluar dari kamar, dan langsung membawanya menuruni anak tangganya. Dan diikuti oleh Qanita dari belakang.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam. Akhirnya mobil Fazril sampai tepat disebuah gedung yang bertuliskan Hospital. Dan segera ia memanggil para perawat yang bertugas di sana. Dan setelah tubuh Fazril dinaikan brankar, para perawat tersebut pun langsung membawanya ke ruangan UGD. Dan secepatnya juga ia ditangani oleh para ahli yang bertugas di rumah sakit itu. Sedangkan Qanita yang menunggu di depan pintu UGD tersebut tampak begitu gelisah.


"Nyonya, sebaiknya Anda duduklah disana Nyonya. Dan sebaiknya Anda tenanglah Nyonya. Ingatlah Anda sedang hamil, jadi sebaiknya Anda jangan terlalu lelah juga," ujar Bobby. Karena ia melihat istri Bosnya selalu mondar mandir saja. Dengan wajah yang terlihat begitu gelisah.


"Bagaimana cara saya bisa tenang Bob? kalau belum juga ada kabar dari dalam. Kamu tahu sendirikan sudah satu am suami saya berada di dalam. Tapi belum juga ada kabar, sayakan jadi takut Bob," balas Qanita, yang memang terlihat begitu jelas, dari raut wajahnya ada ketakutan disana.


"Sabarlah Nyonya, mungkin masih ada kendala. Makanya Dokter masih harus memeriksa keseluruhannya, Nyonya. Maka dari itu, sebaiknya Anda duduklah dulu. Karena saya khawatir, kalau-kalau kaki Anda membengkak lagi," kata Bobby, seraya ia memberikan pengertian pada Qanita.

__ADS_1


"Aah.. baiklah, saya akan duduk," balas Qanita, dan ia bermaksud ingin duduk. Namun belum mendudukkan tubuhnya tiba-tiba pintu ruangan UGD terbuka. Dan dengan spontan ia pun kembali tegak. Bahkan ia juga langsung menghampiri seorang pria berjas putih yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Gimana keadaan suami saya dok? Apakah dia tidak apa-apa?" tanya Qanita, begitu cemas dan penasaran.


"Syukurlah suami Anda, telah melewati masa kritisnya. Karena benturan di kepala terlalu keras, Membuat ia tadi sempat kritis, Nyonya," balas sang Dokter tersebut.


"Lalu bagaimana hasilnya, apakah sekarang kepala sudah baik-baik saja Dok?" tanya Qanita lagi.


"Untuk sekarang Kami belum bisa memprediksinya Nyonya. Karena pasien belum sadarkan diri," balas sang Dokter itu lagi.


"Aah.. kalau begitu apakah saya bisa melihatnya Dok?"


"Ya silahkan Nyonya." Begitu mendengar persetujuan dari dokter Qanita langsung bergegas menuju ke ruangan rawatnya Fazril, dan diikuti oleh Bobby. Sesampainya di ruangan tersebut, Qanita pun langsung menghampiri sebuah ranjang, yang diatasnya terdapat tubuh Fazril yang terlihat belum sadarkan diri.


"Mas? Kenapa kamu belum sadar juga sih? Nita jadi takut tau! Mas Azril bangun dong, ini Nita Mas, ayo dong bangun, buka mata kamu Mas?" ujar Qanita, yang saat ini sudah duduk tepat disisi ranjang suaminya. Dan sambil memegang tangan sang Suami. Dan tak berapa lama, mata Fazril terlihat bergerak-gerak dan tak berapa lama ia pun membuka matanya, membuat Qanita terlihat begitu senang.


"Alhamdulillah.. akhirnya kamu membuka mata juga Mas," ujar Qanita terlihat senang.


"Hmm.. ka-kamu siapa?"


DEGH!!


...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke


 


__ADS_2