ANDAI Kau Menjadi Diriku.

ANDAI Kau Menjadi Diriku.
KEMARAHAN FAZRIL.


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Setelah kehilangan Istrinya, sikap Fazril langsung berubah. Ia lebih dingin dan yang parahnya ia juga menjadi pemarah. Hal itu membuat para bawahannya, maupun relasinya menjadi takut kepadanya. Begitu juga dengan Bobby, yang setiap harinya mejadi pelampiasan kemarahannya Fazril. Sehingga membuat Bobby hampir tak betah lagi bekerja dengannya. Namun mengingat amanah dari kakeknya, membuat ia terpaksa harus menahan kemarahannya Fazril.


"Apakah masih belum ada hasil, atas pencarian kamu, hah?! Ini sudah hampir satu bulan! Masa belum ada titik terangnya, hah?!" tanya Fazril pada Bobby, ketika mereka berada di dalam apartemennya Fazril.


"Maaf Bos, saya sudah mengerahkan semua anak buah kita Bos. Ditanah yang Air, maupun di negara ini! Tapi tetap masih belum ada titik terang keberadaan Nyonya Tuan!" balas Bobby, sambil menundukkan wajahnya, karena ia tahu bagaimana wajah bosnya setelah ia memberikan laporan tersebut.


"Aah! Brengsek! Sepertinya aku memperkerjakan orang-orang yang bodoh! Mencari satu wanita saja tidak ada becus! Kalau begitu pecat mereka semua dan cari orang-orang yang benar-benar profesional! Kamu paham hah?!" teriak Fazril, tampak sekali ia begitu marah. Karena ia sudah menghabiskan banyak uang untuk biaya pencarian istrinya. Namun tak membuahkan hasil sama sekali.


"Tapi Bos, mereka yang saat ini mencari Nyonya adalah orang-orang yang profesional juga. Dan mereka sudah sangat berusaha sekali, tapi karena tidak ada jejak sama sekali dari Nyonya, makanya pencarian ini sangat sulit Bos!" jelas Bobby, yang sepertinya ia sudah kebingungan menghadapi Bosnya itu.


"Aah banyak alasan! Pokoknya saya tidak mau tahu, lakukan saja yang aku perintahkan! Jangan membantah lagi!" bentak Fazril sambil menggebrak meja kerjanya.


"Baiklah Bos! Kalau begitu saya permisi!" pamit Bobby, dan ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan Fazril yang terlihat masih diselimuti oleh kemarahannya.

__ADS_1


"Aah! Brengsek! Kenapa jadi begini sih!" gumam Fazril sambil mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


"Apa yang kamu pikirkan sebenarnya! Mengapa bisa kau pergi meninggalkan Aku! Apakah kamu pergi karena pesan yang kau lihat dari Mama? Apakah kau berpikir aku akan menikahi Mona? Aah.. kenapa kamu berpikir sesempit ini sih?!" gumamnya yang kali ini wajahnya berubah jadi sedih. Namun tiba-tiba saja wajahnya itu, berubah menjadi kesal kembali.


"Aaah!! Ini semua juga gara-gara Aku! Karena pada waktu kami sarapan bersama, Aku mengatakan bersedia menikah dengan Mona! Padahal Aku mengatakan itu, juga tidak serius! Habisnya Mama, terus saja memojokkan dia membuat aku kesal mendengarnya! Makanya akhirnya aku menjawab seperti itu! Padahal aku juga tidak sudi menikah dengan orang yang pernah berkhianat padaku! Aaah! Dasar bodoh! Gara-gara itu Qanita pasti salah paham!" gerutu Fazril. Dengan wajah antara kesal dan juga bercampur dengan penyesalan.


Karena sebenarnya kesalah paham ini terjadi karena ulah Fazril sendiri. Dan di saat bersamaan terdengar suara dering yang berasal dari handphonenya dan seketika ia pun langsung meliriknya ke layar handphonenya,


"Papah? Ada apa Papa telpon ya?" gumamnya lagi, dan karena rasa penasarannya begitu kuat akhirnya ia langsung menerima panggilan tersebut.


"Nak! Tolong Papa! Perusahaan sedang kritis nih! Papa sudah tidak tahu, harus berbuat apa nih! Hanya kamu yang bisa menolong perusahaan Papa!" balas Papanya Fazril, yang tak lain adalah Firman.


"Ada apa sebenarnya Pah? Kok bisa.." Fazril langsung menjeda perkataannya, "Aah sudahlah Pah, Aku akan bereskan itu! Tetapi Papa harus mencegah niat Mama yang sudah menyiapkan pernikahanku dengan Mona! Kalau Papa tidak memenuhi keinginan ku! Maka sampai kapanpun Azril tidak akan pernah kembali lagi ke tanah air! Apa Papa bersedia memenuhi syarat Azril?" tanya Fazril, dan disaat ia sedang menunggu jawaban dari Papanya tiba-tiba terdengar suara seorang wanita.


"Nak, kamukan sudah berjanji sama Mama, Akan menikahi Mona! Kenapa kamu jadi ingkar begini sih?" ujar wanita tersebut, yang tak lain adalah Maryati, ibunya Fazril.

__ADS_1


"Aku tidak pernah berjanji Mah! Asal Mama tahu Aku berkata seperti itu, agar Mama berhenti menjelek-jelekkan Qanita! Dan sekarang Aku tekankan pada Mama! Jangan pernah menjelek-jelekkan Istriku lagi! Apalagi menyiksanya! Kalau Mama masih melakukan itu! Maka bersiaplah Mama akan kehilangan putra Mama!" tegas Fazril dan disertai dengan sebuah ancaman untuk sang Ibu.


"Tapi Nak, bagaimana dengan Mona? Mamakan sudah menyebarkan udangan kalau kalian akan menikah loh Nak. Jadi please pulanglah ketanah air Nak. Kalau kamu tidak pulang, Mama dan Papa akan mendapatkan malu Nak. Jadi Mama mohon Nak, kamu pulang ya? Kamu nggak maukan melihat orang tua kamu mendapatkan malu?" ujar Maryati terdengar sekali kalau ia sedang memohon.


"Berhenti memohon Mah! Karena Aku nggak akan pernah perduli lagi! Dan jangan pernah menghubungi Azril lagi!" balas Fazril terdengar begitu tegas. Bahkan ia langsung memutuskan sambungannya secara kasar.


"Hah!" Fazril menghelakan nafasnya dengan kasar. Sambil ia membantingkan tubuhnya disandaran kursi kebesarannya. Dan baru saja ia bersandar handphonenya kembali berdering. Dan disaat ia melirik layar Handphonenya ia pun langsung mengeraskan rahangnya. Tampak sekali ia begitu marah melihat nama yang tertera di sana


"Masih ingin memohon? Huh! Aku sudah tidak perduli lagi! Dan jangan pernah menghubungi Aku lagi!" teriaknya, sambil ia mengambil benda pipihnya itu, lalu ia hempaskan benda itu kelantai, hingga akhirnya hancur berkeping-keping.


...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...


Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke 😉 Agar Ramanda bersemangat loh 😉


 

__ADS_1


__ADS_2