ANDAI Kau Menjadi Diriku.

ANDAI Kau Menjadi Diriku.
KEBERANIAN QANITA.


__ADS_3

┈••✾•◆❀🌸 Kalam Hikmah.🌸❀◆•✾••┈


Saat orang lain tampak lebih beruntung darimu, belum tentu kamu lebih malang darinya. Kamu cuma gak tau seberapa besar Allah menyayangimu. Karena jika kamu lalai pun, Allah tidak meninggalkanmu. Dia masih memberimu oksigen yang berlimpah untuk bernapas, bumi yang nyaman untuk dipijak, dan langit yang kokoh untuk bernaung.


Masalahnya bukan pada orang lain yang lebih banyak beruntungnya, tapi pada bagaimana kita mensyukuri apa yang kita punya dan bagaimana cara kita memantaskan diri agar Allah percayakan lebih banyak kebaikan. Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Kalau kita aja ragu sama Allah yang punya segalanya, kurang ajar sekali rasanya sementara Allah gak rugi apapun jika kita meragukan atau bahkan meninggalkan-Nya.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•┈┈┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🌸❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈┈┈•


Qanita tampak sedih, mendapatkan keterangan dari sang Dokter. Namun ia tak ingin putus asa, karena ia yakin, semuanya sudah menjadi ketentuan dari Sang Pemilik alam. Dan ia bertekad akan akan menghadapi cobaan itu, dengan sabar dan ikhlas. Karena ia yakin Allah memberikan kebahagiaan setelah ia melewati ujian tersebut. Dan kini akhirnya Qanita kembali lagi keruang rawat suaminya. Dan baru saja ia masuk, ia sudah mendapatkan tatapan yang terlihat begitu datar dari suaminya.


"Akhirnya kamu datang lagi! Kata Bob, kamu istriku, tapi kenapa malah kamu pergi begitu saja, tanpa ingin menjelaskan padaku, hm?'' tanya Fazril dengan nada datarnya dan sudah pasti tatapannya juga terlihat datar menatap Qanita.


"Aah.. Maaf Mas, tadi Nita terlalu terkejut saat tahu Mas tidak mengenali Nita. Makanya memanggil Dokter, agar bisa mengetahui apa yang terjadi dengan Mas," balas Qanita, yang ternyata memang benar. Tak berapa lama ia masuk, dokter yang menangani Fazril pun ikut masuk, bersama Bobby, dan juga salah satu perawat, yang biasa mendampingi sang Dokter.


"Selamat sore Pak? Mari saya periksa dulu ya pak?" sambung Sang Dokter. Lalu sang dokter pun langsung menghampiri Fazril, dan kemudian ia juga langsung memeriksa keadaan Fazril.


"Apakah ada yang Anda rasakan yang tidak enak Pak?" tanya sang dokter pada Fazril.


"Saya baik-baik saja kok Dok! Hanya saja kepala saya sedikit sakit!" balas Fazril, seraya ia memegang kepalanya.


"Ooh.. sakit di kepala Anda itu, di akibat benturan yang Anda alami Pak. Baiklah nanti saya akan memberikan Anda resep obat, dan minumnya sesuai aturan ya Pak? Dan untuk saat ini sebaiknya Anda banyak-banyak Istirahat ya Pak?" kata Sang Dokter.

__ADS_1


"Baik Dok, terima kasih!" balas Fazril.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi," pamit sang Dokter, dan di balas anggukan saja oleh Fazril.


"Bob, kamu ikutlah sama dokter untuk mengambil resep obatnya, sekalian di tebus juga ya?" kata Qanita, pada Bobby.


"Baik Nyonya!" Dan Bobby pun langsung bergegas mengikuti dokter tersebut. Dan kini tinggallah hanya Fazril dan Qanita saja yang berada di ruangan tersebut. Dan suasana diruang tersebut menjadi hening. Karena Qanita jadi merasa canggung, terhadap Suaminya sendiri.


"Kenapa kamu berdiri disana saja? Duduklah di sana!" kata Fazril masih dengan suara datarnya. Dan sambil menunjukkan sebuah kursi yang berada di sisi ranjangnya.


"Hm..baik Mas." balas Qanita, seraya ia melangkah menuju ke kursi yang ditunjuk oleh Fazril tadi.


"Benarkah yang di dalam kandungan kamu Anakku?" tanya Fazril, setelah ia melihat Qanita duduk. Dan ternyata sejak tadi matanya selalu mengarah ke perut Qanita yang terlihat membuncit.


"Aah..apakah hubungan kita sangat bahagia sebelumnya?" tanya Fazril lagi, yang kini tatapannya sudah beralih ke wajahnya Qanita.


"Alhamdulillah hubungan kita sangat bahagia Mas," balas Qanita, sambil membalas tatapan dari Suaminya dengan tatapan yang terlihat begitu sendu. Tampak sekali ia terlihat begitu sedih karena Suaminya, benar-benar telah Lupa kepadanya.


"Hmm..benarkah begitu?" tanya Fazril lagi, yang tampaknya ia masih belum percaya.


"Iya In shaa Allah," balas Qanita dengan singkat


"Hmm.. sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa aku berada di sini?" tanya Fazril, terlihat Penasaran.

__ADS_1


"Mas, terjatuh di kamar mandi, setelah menggendong Nita," balas Qanita lagi. Yang akhirnya ia pun mulai menceritakan peristiwa yang menyebabkan suaminya kehilangan ingatannya itu.


"Aah.. Aku menggendong kamu, dalam keadaan hamil begini?" tanya Fazril, dan hanya dibalas dengan anggukan saja oleh Qanita.


"Aakh!" Tiba-tiba Fazril terpekik, karena ternyata sejak tadi ia sedang berusaha untuk mengingat-ingat, semua yang dikatakan Qanita tadi. Mendengar suaminya terpekik sambil memegang kepalanya. Dengan spontan Qanita berdiri dan langsung menghampiri suaminya dengan wajah kecemasannya.


"Kamu Mas?! Apakah kepala kamu sakit sekali, Mas?" tanyanya sambil memijit pelipisnya Fazril dengan pelan. Dengan posisi wajah sangat dekat dengan wajahnya Fazril. Sehingga dengan spontan mata Fazril menatap wajah istrinya.


"Cantik! Ternyata wajah kamu sangat cantik dari dekat begini ya? Bahkan lebih cantik dari Mona," ujar Fazril. Tampak masih menatap wajah istrinya , yang terlihat amat dekat dengannya.


Mendengar perkataan Suaminya, dengan spontan tatapan Qanita yang tadinya mengarah ke pelipisnya Fazril. Kini langsung beralih menatap wajah suaminya, yang terlihat begitu sedang menatapnya begitu intens. Dan tiba-tiba saja Qanita langsung teringat, kejahilan suaminya sebelum ia terjatuh di lantai. Dan seketika terlintaslah pemikiran hal yang sama, yaitu ingin mencium bibir Suaminya.


"Muach!" Qanita pun mencium bibir Suaminya dengan singkat. Membuat mata Fazril langsung membulat.


"Eh! Kamu? Apakah kamu ingin menggodaku?" tanyanya dengan tatapan yang terlihat begitu tajam. Namun bukannya menjawab pertanyaannya. Qanita malah kembali mencium bibir Suaminya lagi, yang kali ini ia memberanikan diri, untuk bermain seperti biasa yang dilakukan oleh Suaminya. Karena bibir Suaminya terlihat masih terkatup, Qanita pun langsung memberi gigitan kecil disana.


"Aah!" pekik Fazril, sambil membulatkan matanya. Tampak sekali ia begitu terkejut melihat keberaniannya Qanita. Namun entah kenapa ia justru malah, senang. Dan akhirnya ia pun ikut terlena dalam permainan bibir Istrinya. Dan disaat bersamaan, pintu ruangan tersebut dibuka oleh seseorang.


"Mas Yudistira?"


...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...


Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke

__ADS_1


 


__ADS_2