ANDAI Kau Menjadi Diriku.

ANDAI Kau Menjadi Diriku.
PUTRI KITA HAMIL.


__ADS_3

Di pondok kecilnya Qanita.


Semenjak tinggal di rumah kecil milik Zaynah. Qanita terlihat bahagia. Walaupun pada awalnya ia begitu sulit melupakan suaminya, bahkan ia sangat merindukannya. Namun berkat Zaynah yang sering mendatanginya. Dan selalu memberikan ilmu-ilmu tentang agama. Membuat Qanita menjadi lebih dekat dengan Tuhan nya.


Sehingga kini Qanita terlihat lebih ikhlas, karena ia telah memasrahkan suaminya pada Sang pemiliknya. Dan ia sangat yakin dan percaya, kepada Tuhannya, kalau suatu saat nanti apabila mereka masih berjodoh. Maka takdir pasti akan mempertemukan mereka lagi. Apalagi Zaynah juga selalu memberikan ia semangat, membuat ia semakin kuat menjalankan hidupnya seorang diri.


"Alhamdulillah, kamu tambah pintar Nak Nita, ibu sangat senang melihat kamu begitu banyak kemajuannya," ujar Zaynah setelah ia memberikan siraman rohani pada Qanita.


"Alhamdulillah, terima kasih Mom, ini semuanya berkat Mommy, yang mengajarkan saya, banyak hal. Sehingga rasanya ucapan terima kasih saja tidak cukup, dengan apa yang sudah Mommy ajarkan kepada saya," balas Qanita dengan wajah yang terlihat begitu bersyukur sekali karena ia telah dipertemukan oleh orang yang sangat baik menurutnya.


Apalagi, saat ini Zaynah sudah menganggap Qanita, sudah seperti anaknya sendiri. Ditambah lagi, Zaynah dan hari memang tidak memiliki anak, padahal usia pernikahan mereka sudah mencapai dua puluh tahun. Namun mereka belum juga dikaruniai keturunan. Namun hal itu tidak menjadi penghalang untuk mereka berkasih sayang.


Bahkan Hanri semakin sayang pada istrinya itu. Makanya mereka sangat senang tatkala dipertemukan oleh Qanita. Mereka berkata mungkin ini jawaban doa mereka yang selama ini mereka panjatkan. Dan kini Tuhan sudah mengirimkan anak perempuan yang cantik yaitu Qanita. Makanya kini Qanita juga menganggap mereka juga sebagai orang tuanya juga.


"Kamu ngomong apa sih Nak? Inikan sudah menjadi kewajiban kami selaku orang tua kamu sekarang. Jadi kamu jangan sungkan-sungkan pada kami ya Nak?" ujar Hanri yang tiba-tiba muncul dengan membawa kantong plastik yang sepertinya itu berisikan belanjaan dan juga makanan.


"Eh, Daddy? Kok nggak kedengaran suara mobilnya, tau-tau sudah sampai sini saja. Emangnya Daddy nggak naik mobil ya?" tanya Qanita, yang sepertinya ia sudah mulai terbiasa, memanggil Hanri dengan sebutan Daddy. Karena itu memang sesuai dari permintaannya Hanri.


"Naik mobil kok, kalian saja yang keasyikan ngobrol, sampai-sampai Daddy mengucapkan salam saja kalian tidak dengarkan?" protes Hanri. Membuat Qanita maupun Zaynah langsung tersentak, lalu keduanya pun saling bertatapan.

__ADS_1


"Eh! Maaf Suamiku," ucap Zaynah dengan lembut.


"Eh! Maaf Daddy," ucap Qanita juga, sambil mengatupkan kedua tangannya. Seraya menatap wajah sang Ayah angkatnya dengan tatapan merasa bersalahnya.


"Sudahlah istriku, aku sudah memaafkan kamu, kok," balas Hanri pada Zaynah. Seraya ia mengecup puncak kepala istrinya itu.


"Dan Daddy juga sudah memaafkan kamu juga Sayang," lanjut Hanri, yang kali ini ia tujukan kepada Qanita. Sambil mengelus puncak kepalanya Qanita.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Terima kasih Sayang," balas Zaynah, sambil meraih tangan suaminya. Lalu ia kecup tangan tersebut dengan lembut. Sedangkan Qanita, hanya tersenyum, melihat kemesraan kedua orang tua angkatnya itu saja.


"Sama-sama Sayang. Ya sudah kalau begitu mari kita makan soalnya aku sudah lapar sekali. Lagian kita harus secepatnya pulang sayang. Soalnya hari inikan jadwal kamu kerumah sakit," kata Hanri, pada Zaynah.


Sedangkan Qanita, langsung mengerutkan dahinya, tatkala ia mendengar, kalimat terakhirnya Hanri tadi, "Jadwal kerumah sakit? Apa maksudnya Dad? Apakah Mommy saat ini sedang sakit?" tanyanya dengan wajah yang terlihat sedang penasaran.


mendengar pertanyaan Qanita Hanry dan Zaynah langsung saling bertatapan. Keduanya tampak begitu enggan, membalas pertanyaannya Qanita. Jelas sekali kalau keduanya seperti sedang merahasiakannya pada Qanita. Hal itu malah membuat Qanita semakin penasaran.


"Kenapa kalian jadi diam? Mengapa tidak menjawab pertanyaan Nita, Dad, Mom?" tanya Qanita, dengan wajah yang terlihat sedang mencurigai sesuatu, "Katakan Dad? Mommy sakit apa?" tanyanya lagi.


"Ti-tdak Nak, Mommy tidak sakit kok Nak," balas Zaynah sedikit gugup.

__ADS_1


"Kalau tidak sakit, kenapa Daddy mau membawa Mommy kerumah sakit?" tanya Qanita lagi, yang terlihat semakin penasaran, hingga ia terus mendesak keduanya agar berkata jujur padanya.


"Itu memang biasa dilakukan oleh Mommy, untuk mengecek kesehatannya saja, Nak," balas Hanry yang sepertinya ia masih enggan berkata jujur pada Qanita.


"Benar kok Nak, Mommy memang sudah rutin melakukannya. Jadi Daddy selalu mengingatkan aga Mommy tadak lupa," sambung Zaynah juga.


"Baiklah kalau memang begitu. Tapi kalian harus berkata jujur ya, bila ada apa-apa?" balas Qanita, yang akhirnya ia menyerah. Padahal ia tahu kalau kedua orang tua angkatnya itu sedang merahasiakannya sesuatu. Namun ia tak mau memaksa keduanya lagi. Karena ia memilih menunggu, dan ia juga yakin, seuatu saat nanti pasti mereka akan memberitahukan juga.


"Baiklah Nak. Kalau begitu mari kita makan yuk," ujar Zaynah seraya ia menyerahkan salah satu kota makan pada Qanita. Dan langsung disambut olehnya. Setelah itu ia pun langsung membuka kotak makanannya tersebut. Namun baru saja ia membuka kotak makanan tersebut tiba-tiba.


"Ugh..Uhg..uhuek! Hoekk!!" Qanita langsung menutup mulutnya, lalu ia pun langsung berlari menuju ke kamar mandinya. Melihat hal itu Hanry maupun Zaynah langsung saling bertatapan.


"Sepertinya putri kita hamil!" kata mereka berdua secara bersamaan. Masih posisi saling bertatapan, dengan mata keduanya yang terlihat begitu senang.


...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...


Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke 😉 Agar Ramanda bersemangat loh 😉


 

__ADS_1


__ADS_2