
Setelah melakukan pertempuran yang hot, keduanya terlihat kelelahan dan akhirnya mereka tertidur sambil berpelukan. Dan satu jam kemudian, tiba-tiba Qanita tersentak dari tidurnya, karena ternyata ia mendengar suara deringan Handphone miliknya Fazril. Dan ia pun bermaksud ingin mengangkatnya. Namun saat Hp sudah ditangan, tiba-tiba deringannya mati. Dan ia pun bermaksud ingin meletakkan kembali Handphone tersebut di nakas yang berada tepat sisi ranjangnya.
Namun belum sempat Qanita meletakkan benda pipih miliknya Fazril tersebut. Tiba-tiba terdengar suara dentingan dari Hp tersebut yang menandakan ada pesan masuk. Dan mata Qanita pun langsung melirik ke layar hp tersebut. Dan tampaklah olehnya tulisan Mama tertera di layar tersebut.
"Mama? Ada apa Mama mengirimkan pesan pada Mas Azril ya?" gumam Qanita dan entah kenapa rasa penasaran, langsung menyeruak dihatinya. Sehingga pada akhirnya ia pun membuka pesan tersebut.
...••┈┈••┈••✾••┈••┈┈••...
" Nak, kamu kapan pulangnya? Mama dan Nak Mona sudah menyiapkan semuanya loh untuk pernikahan kalian. Dan semuanya sesuai dengan permintaan kamu loh Nak. Jadi Mama harap kamu cepat pulang ya Nak? Soalnya Mama sudah tidak sabar ingin segera melihat kamu dan Mona memakai baju pengantin. Jadi kamu jangan lama-lama ya disana?"
...••┈┈••┈••✾••┈••┈┈••...
Setelah membaca pesan dari Ibu mertuanya untuk sang suami, seketika tubuh Qanita langsung gemetaran, "Sesuai permintaan? Apakah maksudnya? Apa sebanarnya Mas Azril memang ingin menikah lagi dengan Mona?" gumamnya lagi dengan mata yang terlihat mulai berkaca-kaca.
"Kalau memang dia ingin menikahi Mona, kenapa Dia tadi.." Qanita menjeda perkataannya, tatkala ia melihat suaminya yang terlihat masih tertidur pulas. Dan tanpa terasa genangan air yang memenuhi pelupuk matanya langsung terjatuh.
__ADS_1
Yaa, hatinya yang tadi sempat berbunga-bunga, tatkala ia mendapatkan belaian kasih sayang dari suaminya. Kini terasa hancur berkeping-keping. Karena ia menyangka kasih sayang yang ia rasakan tadi semuanya palsu. Karena dia juga pernah mendengar dari Adik iparnya kalau Mona, adalah cinta pertamanya Fazril. Jadi ia berpikir, wajar saja, kalau suaminya itu ingin kembali pada cinta pertamanya.
"Hiks..hiks.. pantas saja dulu Mas Azril sangat membenciku. Itu karena Aku sudah menjadi penghalang hubungan mereka, hiks..hiks.." batin Qanita, karena ia tak ingin suami mendengar tangisannya, "Baiklah Mas, Aku tidak akan menghalangi Kebahagiaan kamu lagi. Karena setelah ini Aku akan pergi menjauh darimu. Dan semoga kamu bahagia, bersama Mona," batinnya lagi.
Setelah itu Qanita pun langsung turun dari tempat tidurnya dengan perlahan-lahan. Karena ia takut pergerakannya bisa membangunkan suaminya. Namun saat ia baru saja ingin melangkahkan kakinya, "Aakh!" pekiknya, namun dengan sigap mulutnya ia tutup dengan tangannya, sambil matanya melirik ke arah tempat tidur.
"Aaah.. syukurlah Mas Azril tak mendengarnya," batinnya. Melihat suaminya tak bergerak sedikitpun, Qanita pun melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi dengan perlahan-lahan. Sambil ia berusaha menahan rasa sakit, pada bagian intimnya.
Setibanya di kamar mandi, ia menyempatkan diri untuk berendam dengan air hangat. Setelah dirasa bagian intimnya sudah tidak begitu nyeri. Qanita langsung mandi dengan cepat. Setelah ia langsung bergegas keluar dari kamar mandi. Sambil kembali ia melirik wajah suaminya, yang tampaknya masih terlihat begitu nyenyak.
Karena tak ingin membuang-buang waktu lagi. Qanita pun langsung bergegas keluar dari kamarnya. Karena ia teringat kalau tas koper yang dibawa suaminya masih berada di dekat pintu apartemennya. Setelah ia berpakaian rapih, seketika ia teringat pada credit card yang ia ambil dari dompet suaminya. Setelah mengambilnya ia pun langsung membawa kopernya yang tadi, lalu ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan apartemen milik Fazril.
Dua jam kemudian.
Fazril yang terlihat masih terlelap dalam tidurnya. Tiba-tiba saja ia tersentak dari tidurnya. Dan dengan mata yang masih terpejam. Seketika tangannya langsung meraba-raba tempat tidurnya tepatnya di tempat Qanita berbaring tadi. Karena yang dicari tak ditemukan, membuat mata Fazril akhirnya terbuka.
__ADS_1
"Eh! Kemana Qanita? Kok nggak ada ya?" gumam Fazril, lalu matanya langsung mengarah ke kamar mandi, "Sayang? Kamu dikamar mandi ya?!" panggilnya dengan nada suaranya yang sedikit dikeraskan. Agar bila benar Istrinya dikamar mandi, dia akan mendengar panggilannya.
Namun sayangnya tak ada sahutan dari sana. Membuat ia akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Lalu ia pun langsung berjalan menuju ke kamar mandinya. Setibanya di sana ia langsung membuka pintu kamar mandi tersebut.
"Sayang? Apakah kamu didalam?" tanyanya saat pintu sudah terbuka lebar, "Eh, kok nggak ada? Kemana dia ya? Aah.. mungkin dia didapur kali. Sebaiknya aku keluar sajalah," gumamnya lagi Lalu ia pun langsung melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya. Setelah ia berada di luar kamarnya.
"Sayang? Kamu dimana? Kok kamu nggak menyahut panggilan Aku sih?" ujar Fazril lagi. Seraya ia melangkah menuju kedapurnya. Sesampainya di dapur ternyata tak ada siapapun juga disana.
"Loh kok nggak ada juga? Dia kemana sih? Nggak mungkinkan dia pergi? Inikan negara orang, mana mungkin dia berani bepergian didaerah sini!" gumamnya lagi. Lalu Fazril pun langsung mencari disekitar dalam apartemennya. Dan itu termasuk ruang kerjanya. Namun tetap saja yang dicari tak kunjung ditemukan. Hal itu membuat Fazril teringat pada koper Qanita, yang setaunya, berada di dekat pintu apartemennya. Lalu ia pun langsung bergegas untuk mengecek koper.
Setibanya ia di ruang tamunya, ternyata yang tas kopernya juga tidak ada membuat Fazril langsung bisa meneba,
"Aah.. apakah Qanita pergi meninggalkanku! Tapi kenapa? Apakah sebenarnya dia belum memaafkan kesalahan ku? gumamnya lagi
...••┈••✾•◆❀🌸❀◆•✾••┈••...
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungannya ya? Dan jangan lupa kasih 👉 🌟🌟🌟🌟🌟 Lima, VOTE, LIKE, Hadiah Serta komentarnya oke 😉 Agar Ramanda bersemangat loh 😉