ANDI LUKMAN HAKIM

ANDI LUKMAN HAKIM
SIUMAN


__ADS_3

Aris menunggu di luar ruang operasi, gelisah, hilir mudik kesana kemari, kadang duduk kemudian berdiri lagi. Furqan duduk di kursi di dekat situ, menatap was-was ruangan itu. Kemudian, bapak datang bersama bapaknya Amel, menghampiri Aris dengan cemas.


"Bagaimana " Tanya bapak kepada Aris khawatir.


"Masih menunggu pak" Jawab Aris pelan.


"Silahkan duduk dulu Pak" Ujar Furqan, sembari berdiri dari kursi nya, kemudian dia mengikuti kegiatan Aris.


Hampir Empat jam Andi dan para medis di dalam ruangan operasi, setelah dokter keluar dari ruangan, dengan serentak, mereka yang menunggu di luar ruangan operasi itu menyerbu beliau.


"Bagaimana Dok anak Saya" Tanya bapak.

__ADS_1


"Operasi Nak Andi berjalan lancar, patah tulang lehernya tidak terlalu parah. Harus menggunakan penyangga leher satu bulanan bahkan lebih, sedangkan untuk kepalanya, beruntung Nak Andi memakai helm, tapi tidak menutup kemungkinan adanya sedikit trauma di kepala nya. Sekarang kita pantau dulu sampai dia siuman nanti " Terang dokter itu sebelum pamit.


Semuanya bernafas lega, tidak lama kemudian Andi keluar ruangan dengan berbaring di ranjang pasien, tidak sadar kan diri. Dengan di dorong oleh dua orang perawat di kiri dan kanan ranjang nya menuju ruang rawat inap. Selang infus menancap di lengan kanannya dan oksigen terpasang di hidungnya, kepala nya di lilit perban dan leher nya di pasangi penyangga, semua nya mengikuti ke ruangan vip ll tanpa kata.


Semalaman itu Andi belum siuman, Aris dan bapak sudah pulang dan sepakat tidak memberitahukan kepada mama apa yang telah terjadi, orangtuanya Amel juga ikut pulang.


Malam itu, ayah dan ibunya Andi datang menjenguk putranya, Furqan kemudian pulang begitu abangnya itu datang. Ibu Laila menangis tiada henti, melihat anaknya terbaring tak sadarkan diri dan pak Firman hanya terdiam menahan emosi.


Tiba-tiba kelopak mata Andi terlihat bergerak-gerak, ibunya yang melihat itu mendekat dan mengusap pipi Andi, yang perlahan mulai membuka matanya.


"Sayyaaang,,," Panggil ibunya lirih.

__ADS_1


Andi melirik ibunya, kemudian mengedarkan pandangan keseluruh ruangan, lalu melihat ayahnya yang juga mendekat. Kemudian dia merasakan sakit yang sangat di kepalanya, ingin berteriak, tapi tercekat di tenggorokan, lalu dia kejang-kejang. Membuat ibunya berdiri khawatir, dan ayahnya dengan cepat memencet tombol darurat.


Perawat datang dengan segera, lalu menyuntikkan sesuatu di selang infusnya. Andi berhenti kejang- kejang kemudian tertidur kembali.


"Apa yang terjadi, bagaiman anak Saya" Tanya ayah.


"tidak apa-apa Pak, itu biasa terjadi karena pasien merasakan sakit di kepalanya, saya menyuntikkan obat penenang. Jadi pasien bisa tertidur lagi, besok dia akan kembali bangun" Ujar perawat menenangkan.


" Terima kasih" Ujar ayah bernafas lega.


"Berarti anak Saya ,,,," ibu tidak bisa melanjutkan kata-kata nya, sambil memeluk wajah Andi.

__ADS_1


"Masa kritis sudah lewat Bu, obat terbaik untuk kepalanya adalah istirahat. Saya permisi dulu" Ujar perawat itu tersenyum, yang di jawab dengan anggukan ayah.


__ADS_2