ANDI LUKMAN HAKIM

ANDI LUKMAN HAKIM
PERUBAHAN MINA


__ADS_3

"Tidak ada yang serius, anak Bapak hanya terkejut" Ujar dokter yang baru saja memeriksa Mina, mereka sedang berada di klinik umum, yang berada di seberang mall, yang tadi mereka datangi. Begitu anak itu siuman, langsung di bawa orang tuanya ke klinik terdekat.


"Apa Mina baru pertama kali melihat badut?" Tanya dokter, yang di jawab anak itu dengan anggukan lemah, dia sedang duduk di pangkuan papahnya, sedangkan mamahnya duduk di samping mereka, sambil memangku abangnya yang terus menerus memandangnya. Mereka hanya terpisah dengan sebuah meja kerja dengan pak dokter, yang mencatat resep untuk Mina.


"Apa badut itu menyeramkan?" Tanyanya lagi, sekali lagi Mina mengangguk. Sedangkan matanya terus menatap ke samping pak dokter, kemudian matanya menatap sebuah foto yang berada di meja dokter. Foto seorang bocah dengan senyuman bodoh dan tatapan mata yang aneh, aneh karena bola matanya tidak normal. Menatap tidak lurus ke depan, melainkan ke samping, masing-masing bola matanya menatap ke arah telinganya.


"Pah, yuk kita pulang aja" Mina menatap foto itu, kemudian ke samping dokter, kemudian menatap foto itu lagi, lalu menenggelamkan kepalanya ke dada papahnya. Meringis ketakutan, abangnya memperhatikan kejadian itu dari tadi dan tidak melihat apapun, yang membuat adiknya itu ketakutan, kecuali foto itu yang tidak mungkin cuma gara-gara itu membuat Mina takut.

__ADS_1


Hari itu Mina yang cerewet jadi pendiam, Mina yang serba ingin tahu jadi tidak peduli dengan sekitarnya. Orang tuanya hanya bisa saling pandang, karena saat di tanya anak itu hanya diam atau menggeleng. Abangnya juga diam, tapi dia merasa cemas dengan perubahan adiknya. Kadang dengan diam-diam, dia melirik adiknya yang sedang duduk setengah bersandar di bangku belakang mobil mereka, menatap kosong jalanan di luar jendela.


...☆☆☆☆☆...


Amel jadi lebih sering mendengar putrinya bicara sendiri, setelah di jenguknya, ternyata anaknya itu main boneka berbie, kadang main masak-masakan dan memberikan masakannya kepada bonekanya, menyuapinya. Dia merasa wajar anak sekecil itu pasti mempunyai teman imajinasi, tapi yang membuatnya khawatir sampai harus menelepon suaminya adalah, ketika putrinya itu dengan panik mencari temannya. Padahal semua mainannya sudah di kumpulkan dan di serahkan ke hadapan anak itu, tapi semuanya bukan teman yang Mina cari.


"Teman Mina yang mana sih?" Tanyanya kepada putrinya.

__ADS_1


"Bule??"


"Ih Mamah, itu tuh yang sering ke dapur minta kuenya Mamah. Katanya, Mamah cantiiiik deh" Ujar Mina, membuat Amel sedikit takut. Amin yang mendengar percakapan keduanya, mau tidak mau ikutan ngomong.


"Dia pulang sebentar kaliii, di panggil mamahnya" Ujar babang Amin asal, membuat Amel dan Mina menatapnya, yang dengan cuek kembali membaca komiknya.


"Kok dia gak bilang?" Tanya Mina polos.

__ADS_1


"Kan Mina tidur,," Babang Amin masih sibuk membaca komiknya.


Saat Putranya itu di tanyai oleh Andi, jawabannya bahwa dia tidak tahu, dia hanya mengikuti permainan adiknya. Memang belakangan ini, semenjak kejadian di mall waktu itu. Mina yang bawel dan cerewet, Mina yang serba ingin tahu, Mina yang menurut babang Amin menyebalkan, karena berisik, berubah. Berubah menjadi Mina yang pendiam, lebih suka sendiri, celoteh riangnya sudah jarang terdengar, tidak ada lagi Mina yang suka menjahili abangnya.


__ADS_2