ANDI LUKMAN HAKIM

ANDI LUKMAN HAKIM
ANAK MAMI


__ADS_3

Babang Amin mengetahui semua perbuatan papahnya ķepada Aulia, membuatnya mengira, itu semua di lakukan papahnya karena dirinya, yang memperhatikan cewek itu. Dia jarang bertemu dengan papahnya itu, karena kesibukan papahnya yang mengelola berbagai cabang perusahaan, mengharuskan papahnya itu pergi keluar kota, bahkan keluar negri. Maka dari itu, dia tidak melewatkan kesempatan bertanya langsung, ketika melihat papahnya itu, duduk santai di teras.


"Tidak! kamu tidak boleh mengusiknya, biarkan dia meraih ambisinya" Jawab Andi, ketika babang Amin menanyakan perlakuan papahnya kepada Aulia. Andi memahami pertanyaan anaknya, melebihi maksud yang di utarakan putranya itu.


Babang Amin sedikit kecewa, dengan larangan papahnya. Jadi, dia pergi lagi ke pasar kemarin. Entah apa yang di carinya, atau dia lebih tertarik dengan cewek itu, setelah larangan dari papahnya. Belakangan ini, Mina tidak pernah mengunjunginya lagi, membuat dia melupakan adiknya itu, bila dia mengingat tentang Aulia.


...☆☆☆☆☆...


"Jadi ini, anak yang di selamatkan Rama?" Tanya penyekap Babang Amin, dia disergap oleh preman kemaren dan sekarang di ikat di bangku, di dalam gudang kosong, setelah di tampar dan di tinju perutnya terlebih dahulu. Selain Dua orang preman yang kemarin, masih ada Tiga orang lagi, yang kemungkinan bos mereka.

__ADS_1


"Apa hubungan Lo sama Rama?" Tanyanya lagi, Babang Amin menduga, yang di maksudnya adalah ayahnya Aulia, dia hanya menggeleng, kemudian wajahnya di tendang, hingga kursi yang mengikatnya jatuh. Samar-samar, dia melihat kehadiran Mina. Begitu barcahaya adiknya itu, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya, sebelum dia benar-benar tidak sadarkan diri.


"Kalau udah sadar, cepatlah pulang" Pinta Aulia, begitu melihat babang Amin membuka matanya perlahan. Terlihat dia sedang mengedarkan pandangan matanya kesekitar, dimana adiknya yang tadi menolongnya, ataukah itu Aulia? dan sekarang dia berada di rumahnya? apakah ini rumah yang papahnya sediakan, tidak bisakah lebih bagus?.


"Jangan kasar kepada tamu" Ujar seseorang, membuat babang Amin menoleh keasal suara, ternyata Rama juga ada disana.


"Jadi, apa mau mereka" Tanya Rama.


"Lebih baik, Kamu jangan kembali lagi kesini, sebentar lagi sekretaris ayahmu akan menjemputmu. Dan Kau, kenapa tidak pulang ke rumahmu!" Tunjuk Rama kepada Aulia, membuat babang Amin bingung, kenapa ayahnya seperti itu kepada anaknya, apakah ayah dan ibunya berpisah? bukankah aulia sebatang kara?

__ADS_1


"Aku tidak terbiasa dengan rumah itu, terlalu besar untukku" Aulia melirik babang Amin, yang memusatkan perhatiannya dengan percakapan mereka.


"Jangan begitu, masa kecilmu kan ada di rumah itu, kenangan ayah dan ibumu" Ujar Rama, membuat Aulia melotot ke arahnya, memberi isyarat agar pamannya itu diam, karena ada babang Amin yang mendengarkan dengan seksama, Rama mengerti dan membuat gerakan menutup retsleting mulutnya.


...☆☆☆☆☆...


Babang Amin termenung di kamarnya, mengingat ucapan ayahnya begitu dia pulang.


"Jangan bertindak sendiri dalam situasi seperti itu, gunakan kekuasaanmu, Kamu akan menjadi penerus papah, Kamu harus menjadi tangguh, banyak yang harus Kamu pelajari. Dan jangan ulangi ini lagi, Papah tidak ingin kehilangan anak lagi"

__ADS_1


Sepeninggal adiknya, dia memang seperti kehilangan arah, membuat dirinya lupa harus bagaimana, serasa dunianya kosong, tubuh dan pikirannya tidak berjalan seirama, perasaannya yang mengontrol semuanya. Dia harus bangkit, menjadi Amin yang dulu, harus menjadi seperti papah, pria yang tangguh, tidak boleh menjadi anak mami, seperti ejekan preman itu lontarkan kepadanya.


"kenangan ayah dan ibumu" Ucapan Rama terngiang kembali, apa maksudnya. Haruskah dia bertanya lagi kepada papahnya, bukankah ayahnya Aulia, adalah karyawan papahnya, bukankah itu Rama?


__ADS_2