
Pagi-pagi sekali Aris pergi ke Ibukota, setelah sebelumnya menjenguk Andi ke rumah sakit, memberitahukan kabar bahagia ini.
"Jadi Kakak bakal kuliah nih" Ujar Andi, ikut bahagia mendengar kabar itu.
"Iya dong, cita-cita Gue masih ada kesempatan diwujudin" Aris memakan sarapan dari rumah sakit, karena Andi tidak suka memakannya, membuatnya mual.
"Kakak harus benar-benar lepas ya, dari candu" Ujar Andi serius.
"Lo selama ini tau??" Tanya Aris tersenyum malu.
"Ya, tau lah!" Ujar Andi membuang muka. Selama mereka beranjak dewasa, kakaknya itu selalu cuek kepada Andi dan setelah dia mengkonsumsi obat-obatan, kakaknya itu kembali asyik seperti dulu, ketika mereka masih kecil. Meskipun Andi menyukai kakaknya yang sekarang, tapi dia tidak ingin kakaknya ketergantungan benda haram itu lagi.
"Kakak tuh, harus lebih percaya diri, jangan minderan. Kalau kakak butuh sesuatu, bilang sama Andi" Petuahnya kepada kakaknya.
__ADS_1
"Iya deh, anak tajir" Ujar Aris memeluk kepala adiknya, yang pura-pura mengaduh kesakitan.
...♡♡♡♡♡...
Tenyata pihak universitas sudah diberitahukan tentang Aris, begitu dia menunjukkan kartu nama pak Firman, dia otomatis menjadi siswa elite. Termasuk ke dalam asrama berfasilitas mewah, tanpa tes uji coba masuk. Sekarang keadaan berbalik, Aris akan merasakan sekolah seperti Andi dulu, yang bertaraf internasional, sekolah yang mengutamakan harta dan tahta.
Asrama Aris berada di tingkat paling atas, dengan lift pribadi langsung menuju ruang utama kamarnya, pasilitas ruangan yang lengkap, tv, kulkas dengan penuh makanan sehat, AC,oven, dan berbagai jenis peralatan olahraga. Kamar itu sepertinya dia tempati seorang diri, ruangan yang cukup luas. Aris terpana dengan kemewahan yang di luar impiannya, ini akan membuatnya betah berlama-lama di dalam kamar dan tidak ada waktu buat teler. Diam-diam dia tersenyum puas dan terjun melompat ke ranjang yang empuk, merebahkan dirinya yang lelah.
...♡♡♡♡♡...
Bapak Amir dan mama Sala sudah berada di ruangan Andi, mereka berempat bercengkrama akrab ( kedua orangtua kandung dan kedua orangtua angkat Andi). Tidak terlihat adanya perbedaan sosial, Andi tersenyum melihat mereka. Andi terkadang masih merasakan sakit menusuk di kepalanya, lehernya masih memakai penyangga. Andi turun dari ranjangnya, permisi kepada mereka untuk berjalan-jalan sebentar.
Di taman rumah sakit, dia melihat Amel yang melambai ke arahnya, dia datang bersama sahabatnya bernama Rina. Andi tidak pernah bertegur sapa dengan Rina, bahkan cewek itu tidak pernah memandang Andi. Sekarang setelah Andi terlihat lebih keren dan gagah, walau kembali memakai kaca matanya, cewek itu senyum-senyumin Andi.
__ADS_1
Andi mengajak mereka ke cafetaria rumah sakit, dan dia memesan kopi susu, sedangkan kedua cewek itu memesan jus mangga yang membuat Andi enek, dengan bersusah payah dia menahan emosinya.
"Sorry baru bisa jenguk sekarang, baru selesai ujian" Ujar Rina yang terus menatap Andi.
"Iya, Andi juga tau" Ujar Andi menyesap kopinya, ingin mengalihkan rasa eneknya, tapi malah membuatnya menjadi mual.
"Amel dengar, Andi ujian susulan ya?"
"Emm mm" Gumam Andi mengiyakan, keringat dingin bermunculan di wajahnya.
"Mending Andi kembali ke kamar deh, Andi terlihat pucat. Yuk kita antar" Ujar Amel khawatir, sambil celingak celinguk mencari kursi roda. Andi hanya mengangguk, kemudian terjatuh pingsan begitu dia mulai beranjak dari kursinya.
"ANDI!!!" Teriak Amel histeris.
__ADS_1