
Terlihat Rama yang sedang mengamati sebuah rumah yang asri, dengan halaman yang luas dan berpagar kayu. Dia tidak menyangka rumah yang di amatinya itu adalah rumah Agung, sahabat lamanya. Penampilan Agung yang mewah, rumah yang bagus dan memiliki istri yang cantik, juga seorang putri yang baru sekolah Taman Kanak-kanak. Siapa sangka, mereka mempunyai hutang yang banyak untuk menciptakan keluarga mereka yang sempurna, apakah kepala keluarga, ataukah istrinya yang begitu boros??
Dia mengisap habis rokoknya dan membuangnya, kemudian menghampiri Agung yang terlihat hendak memasuki mobil barunya. Agung yang terkejut mendapati Rama dengan berpakaian necis, kontras dengan dirinya yang juga memakai setelan jas.
"Gue gak nyangka, ternyata Lo yang bakalan Gue bonyokin" Ujar Rama, Agung tersenyum kecut. Mereka sedang berada di dalam mobil baru Agung, yang sedang parkir di bahu jalan, yang menuju kantornya, Agung sedang duduk di kemudi dan Rama duduk di sampingnya.
"Kenapa harus minjam ke rentenir sih, kan Lo bisa ke Bank" Protes Rama, merasa tidak rela harus memukul sahabatnya itu.
"Sudah, dengan jaminan akta rumah Gue" Ujar Agung menerawang.
"Masih belum cukup??" Tanya Rama bingung.
"Begini lah ternyata hidup Gue, menikahi seorang perempuan sosialita" Agung kembali menghidupkan mobilnya dan melaju pelan, karena dia sudah hampir terlambat.
__ADS_1
"Tinggalin aja, dari pada menderita"Usul Rama spontan, yang tidak tahu menahu masalah rumah tangga. Komentar dari teman seperti inilah yang bisa menghancurkan keluarga seseorang, seperti memasukkan sugesti negatif pada seseorang.
"Tidak semudah itu, apalagi kami sudah memiliki seorang anak dan Gue sangat mencintai istri Gue" Agung tersenyum kecut.
"Helleh,," Rama merasa sahabatnya itu terlalu melankolis.
"Nah Lo sendiri, kenapa memilih kehidupan kayak gitu. Jadi atlet kek" Protes Agung yang mulai tersinggung.
"Beginilah ternyata hidup Gue, semuanya gara-gara Andi" Balas Rama, meniru kata-kata sahabatnya itu.
"Lo kerja di sini?" Tanya Rama ketika mobilnya memasuki area parkir karyawan, Agung mengangguk.
"Berarti, Lo anak buahnya Andi dong" Tembaknya.
__ADS_1
"Haaaah?" Agung tambah bingung.
...☆☆☆☆☆...
Agung memang sering melihat CEO perusahaan tempatnya bekerja, tapi kalau dengan manajer perusahaan, baru pertama kali Agung melihatnya, ketika rapat mengenai ide produk baru. Itu karena Andi lebih sering mendarat langsung di atap perusahaannya dan jarang menginjakkan kaki di lantai dasar. Paras wajahnya memang mirip CEO, Firman Hakim. Agung tidak menyadarinya saat itu, karena dia tidak berani menatap lama orang itu. Saat itu manajernya terlihat terus menatapnya sehingga membuatnya grogi, tapi setelah di ingat lagi, wajahnya memang mirip Andi. Perubahan wajahnya sangat jauh dari masa lalunya, ketika sering mereka bully.
"Lebih baik Lo pikirkan cara membayar, mungkin nanti akan ada yang datang lagi mencari Lo" Ujar Rama membuyarkan lamunannya.
"Kenapa lo harus masuk ke dunia itu Ram" Tanya Agung, yang di tanya diam saja.
"Sudah terlambat" Ujar Rama kemudian.
"Ah ya,,,benar" Jawab Agung, Rama menatap lama sahabatnya. Mungkin maksud Rama adalah sudah terlambat untuk keluar dari dunianya, sedangkan Agung menganggap Rama memberitahunya bahwa sudah terlambat ke kantor.
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari mobil, Agung memasuki kantornya sedangkan Rama menyetop taksi.
PS: halo chingu,,apa kalian suka ceritanya,,,,jangan gulir atas bawah aja ya....tekan likenya juga atau vote juga boleh ^,^ saya sangat berterima kasih, semoga kalian terhibur