ANDI LUKMAN HAKIM

ANDI LUKMAN HAKIM
KUNJUNGAN CEO


__ADS_3

Firman Hakim akan mengunjungi Daiha Motor, seluruh staf dan pegawai berbaris di depan, menyambut CEO perusahaan cabang tersebut. Semuanya berpakaian rapi, termasuk Rama, dia baru mengetahui dari berita di televisi, bahwa Andi adalah putra dari Firman, yang baru saja melangsungkan pernikahannya dengan mantan pacarnya. Rama tidak dapat menerima kenyataan itu, dia sangat sulit mempercayainya.


Iring-iringan mobil tersebut akhirnya tiba, Firman hakim beserta Andi Lukman Hakim turun dari mobilnya, dengan pengawal yang masing-masing membukakan pintu untuk keduanya. Wajah keduanya sangat mirip, dengan tatanan rambut yang sama dan setelan jas yang sama, Andi adalah versi mudanya Firman. Semuanya menunduk hormat, hampir semua staf tidak mengenali Andi, sebagai tamu yang menurut mereka selama ini adalah tamu VIP. Hanya pak Yupi dan pak Bagas, yang mengetahui identitas Andi sejak awal, dan mereka berada di barisan terdepan, untuk menyambut atasan mereka, kemudian ikut berbaris di belakang iring-iringan kedua Hakim tersebut, menuju ruangannya di tingkat yang paling atas. Kamar sekaligus kantor kerja, yang selama ini Andi tempati.


Rama yang baru saja mengetahui, bahwa Andi sebenarnya adalah orang yang kaya raya, bingung mengenang masa sekolah mereka dulu. Kenapa dia terlihat begitu miskin dan lihat keadaan mereka sekarang, bukankah keadaannya jadi terbalik.

__ADS_1


Rama yang begitu sombong, dari kecil tidak bisa menerima kekalahan, merasa tidak pantas dan tidak ingin mendapat gaji ataupun kebaikan dari Andi. Dia memutuskan keluar dari Daiha Motor dan kembali kepada orangtuanya, meminta maaf kepada mama dan ayahnya. Tapi ketika ayahnya menyuruh menghadap Andi untuk meminta maaf, dia bersikukuh tidak akan melakukannya, meski jatuh miskin. Ayahnya sangat menyayangkan sifat anaknya yang keras kepala, padahal keluarga Hakim sudah mulai dari dulu menyokong kesuksesan keluarga mereka.


Sementara itu, ibu kandung Andi tidak ikut dengan ayahnya, beliau tinggal di luar negri, beliau tidak di bolehkan lagi meninggalkan rumah sakit, karena penyakit yang beliau derita sudah pada stadium lanjut, kanker rahim. Kepulangan Firman bukan hanya untuk mengumumkan penerus usahanya, tapi juga memberitahukan penyakit istrinya itu kepada kedua anaknya. Keduanya sangat terpukul, apalagi Sintia yang merasa di bohongi oleh ayahnya, dengan dalih tidak ingin membuatnya khawatir.


Kedua adik kakak itu, langsung terbang menemui ibunya, ayahnya tinggal sebentar untuk mengurus berbagai hal mengenai perusahaannya, yang salama ini dia bangun dari nol.

__ADS_1


Sintia menangis di pelukan ibunya, yang terbaring lemah, wajah pucat dengan penutup kepala, untuk menutupi kepalanya yang botak. Andi meremas jemari tangan ibunya yang kurus, badan yang tinggal tulang berlapis kulit, pipi yang dulu chubby sekarang terlihat cekung. Andi juga tidak bisa menahan air matanya, apalagi saat dia mulai membuka bibirnya untuk berbicara.


"Maafkan Andi Bu, Andi tidak tau Ibu sakit parah begini"


"Ibu yang menyuruh Ayah, untuk tidak memberitahukan Kalian" Ujar ibunya tersenyum lemah, berusaha meremas tangan Andi yang menggenggem tangannya, tapi usahanya itu sia-sia karena tenaganya sudah lemah.

__ADS_1


Sintia semakin menangis, mendengar permintaan ibunya yang menyuruh mereka saling menjaga, seakan ibunya itu ingin pergi lama.


Tidak berapa lama, sang ayah datang bersama Amel, bertepatan dengan keadaan ibu yang menurun, tiba-tiba beliau sesak nafas kemudian tidak sadarkan diri. Dokter memberi isyarat, bahwa mereka hanya menunggu waktu, kata-kata dokter itu membuat kaki Firman tidak mampu menopang berat tubuhnya. Terduduk lesu dan menangis tergugu, Andi sempat tertegun melihat sang ayah, sebelum dia membantu ayahnya berdiri. Sementara Sintia tidak melihat keadaan ayahnya, karena sibuk dengan membacakan surah Yassin untuk ibunya.


__ADS_2