ANDI LUKMAN HAKIM

ANDI LUKMAN HAKIM
INDRA KE ENAM??


__ADS_3

Babang Amin merasa prihatin, dengan keadaan adiknya, firasatnya mengatakan, adiknya itu mempunyai rahasia yang tidak bisa dia ungkapkan. Meski umur mereka masih 3 tahun, tapi babang Amin memiliki naluri yang tajam dan akal pikiran yang cerdas. Dia jadi lebih sering menemani adiknya itu bermain, yang dulu tidak suka di ajak adiknya main masak-masakan, sekarang malah dia yang sering mengajak adiknya itu bermain permainan itu atau main rumah-rumahan. Tidak jarang ketika mereka bermain, Mina lebih sering berbicara sendiri atau menurut Amin seakan-akan ada orang lain di antara mereka berdua. Kadang Amin menyahut pembicaraan Mina, dengan seseorang yang kasat mata itu, dan itu membuat adiknya marah, lalu akan menyuruh kakaknya itu menjauh, babang Amin pun menurut dan duduk di dekat situ sambil menonton adiknya bermain sendiri. Mina cekikikan dan berbisik kepada seseorang, mengangkat tangannya kepinggir bibirnya, seolah-olah berbisik ketelinga seseorang dan seakan-akan orang itu memang ada. Amin memicingkan matanya, bulu kuduknya berdiri.


...☆☆☆☆☆...


2 tahun berlalu sejak kejadian itu, keceriaan Mina telah kembali seperti dulu, tapi kebiasaan barunya itu tetap sama. Mereka jarang keluar rumah, walaupun mereka akan keluar rumah, Mina selalu menolak, dia lebih suka tinggal di rumah. Dan tiba saat mereka harus sekolah, mau tidak mau dia harus keluar juga. Amin sudah memprediksi apa yang sedang terjadi dengan adiknya, melihat gejala yang sering terlihat pada adiknya itu, dan dia memutuskan untuk melindungi adiknya apapun yang terjadi.

__ADS_1


Ketika itu mereka harus ke sekolah TK setiap pagi, sekolah itu berada di samping SMP Dwi Warna, Mina selalu menundukkan kepalanya, bila sedang berada di luar rumah, tidak jarang dia akan menutup matanya dan berjalan dengan menggandeng abangnya. Ketika di dalam kelas, anak itu akan kembali ceria dan bilang pada kakaknya, kalau kelasnya rame, banyak anak-anak yang bermain dengan mereka, padahal menurut penglihatan Amin,hanya ada seorang yang bermain dengan adiknya itu.


Kecurigaan babang Amin terbukti benar, saat kakak beradik itu di ajak Aris ke rumah bapak Amir dan mama Sala, karena Amel dan Andi sedang berada di Negri Hitam. Mina tidak mau masuk ke rumah, dia diam ketakutan di teras, duduk di pojok dengan memeluk lututnya.


"Bisakah Kamu pura-pura tidak melihatnya??" Tanya babang Amin, menghampiri adiknya yang membuat mata Mina melotot menatap abangnya.

__ADS_1


Kemudian mama Sala datang menghampiri cucunya dengan kursi rodanya, membuat Mina gelisah dan kemudian muntah. Mama Sala panik memanggil Aris, untuk membawa anak itu ke dokter, sedangkan babang Amin, bersi keras untuk mengantar mereka pulang saja.


"Bagaimana abang bisa pura-pura tidak melihatnya?? Bahkan baunya sangat menusuk" Bisik Mina, ketika mereka sampai di kompleks apartemen.


"Siapa yang berada di pangkuan nenek?? Wajahnya menyeramkan dan tubuhnya tertekuk aneh" Bisiknya lagi ketika mereka masuk ke dalam lift, ternyata dugaan babang Amin selama ini benar. Adiknya itu bisa melihat mahkluk gaib, Aris tidak menyadari pembicaraan mereka, karena sedang bermain dengan hp nya, dengan sesekali tersenyum senang.

__ADS_1


Ketika pintu lift terbuka, Mina mendadak menghentikan langkahnya untuk keluar. Babang Amin juga ikutan menghentikan langkahnya dan mengikuti tatapan adiknya, kemudian dia menggengam jemari adiknya dan meremasnya lalu menuntunnya berjalan.


"Walaupun tidak melihat apa yang Kamu lihat, tapi Aku akan selalu membantumu, untuk melaluinya" kata Amin menenangkan, membuat adiknya tersenyum lemah dan mengangguk.


__ADS_2