
Andi sedang sarapan, di suapi oleh ibunya saat bapak Amir datang, dan dia tersenyum melihat bapaknya. Trauma di kepalanya tidak terlalu parah, memori otaknya juga tidak bermasalah. Cuma terkadang Andi terlihat sedang melamun dan tidak memperhatikan orang di sekitarnya, kadang dia juga kesakitan sambil memegang kepalanya, dia juga kadang merasakan perubahan suasana hati secara mendadak, kadang merasakan amarah yang tiba-tiba, kalau dia menahan emosinya, kepalanya akan terasa nyeri tak tertahankan.
"Merasa baikan Nak??" Tanya bapak, sambil menenteng bungkusan berisi mangga, buah kesukaan Andi, yang entah kenapa membuatnya mual melihat benda itu.
"Bagaiman mama, Pak" Tanya Andi, sambil mencegah bapak mengupas mangga.
"Alhamdulillah sehat,, mama sih ingin ikut tadi kesini, tapi bapak larang. Kamu video call mamamu aja nanti" Andi mengangguk.
__ADS_1
Kemudian bapak permisi pergi, ingin ke pasar dan menemani mama di rumah. Semenjak Aris sibuk dengan ujiannya, bapak Amir selalu ada di rumah menemani istrinya. Beliau tidak menerima job sebagai sopir lagi, sedangkan Aris selalu pulang malam, ketika pulang dia langsung tertidur.
Tidak terasa sudah seminggu Andi berada di rumah sakit, sekolahnya sedang mengadakan ujian. Atas permintaan khusus dari keluarga Hakim, Andi bisa ikut ujian susulan di ruang inap rumah sakitnya, dengan di awasi oleh guru sekolah dan kepala sekolahnya. Tidak dapat di pungkiri kekagetan mereka begitu mengetahui riwayat Andi Lukman Hakim, berita ini hanya di ketahui oleh para staf guru saja, tidak di perbolehkan memberi tahu kepada para murid. Para murid Dwi Warna, terutama kelas dua bertanya-tanya atas ketidak hadiran Andi di sekolah. Sedangkan Rama malah mengumbar kabar bahwa Andi sudah mati, tidak sedikit yang mempercayainya, karena Rama di kenal dengan kenekatannya. Dan karena kesalahannya ini lah, anak buah pak Firman mendapat titik terang atas penyelidikannya.
Kedua orangtua kandung Andi, mendatangi kedua orangtua angkat Andi, pada saat itu, bapak Amir dan mama Sala ,sedang membicarakan tentang kuliah Aris, yang ternyata nilainya tidak mencukupi untuk beasiswa, dan ayahnya Andi secara kebetulan mendengar sedikit pembicaraan mereka.
"Kami sih terserah apa mau nya nak Andi, asal dia sehat dan senang, kami pun ikut bahagia" Ujar bapak Amir, yang di amini istrinya.
__ADS_1
"Rencananya besok kita akan berangkat Pak, lebih cepat lebih baik" Ujar ibu Laila.
"Jam berapa nanti berangkatnya, Pak,,,,Mama mau ketemu Andi sebelum dia pergi" Pinta mama kaget kepada suaminya, karena merasa sangat mendadak sekali. Awalnya beliau mengira minggu depan atau bulan depan berangkatnya.
"Besok sore Bu, sopir kami nanti pagi akan menjemput Ibu dan Bapak" Ujar pak Firman.
" Nak Aris, kalau mau kuliah, datang lah besok ke Universitas" Lanjut pak Firman, sambil menyerahkan kartu namanya, sebelum mereka pamitan pergi.
__ADS_1
Aris melotot memandang kartu nama itu, ini kan universitas bergengsi yang dia impikan, yang tak mungkin di raihnya. Dia memandang kedua orangtuanya sambil berlinang air mata.