
Rian mengatupkan kedua bibirnya, kemudian melepaskannya dengan keras sehingga terdengar bunyi PLOP ! lalu tertawa terkekeh-kekeh.
"Cewek Lo sangat legit, baru pertama kali Gue ngerasain virgin. Dede gue terasa hampir pat,,,"
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, tinju Andi langsung menghantam mulutnya. Andi meninju wajah itu dengan brutal, tidak peduli dengan rasa sakit di jemarinya akibat meninju rahang Rian. Teriakan kesakitan cowok itu tidak dihiraukannya, hingga ******** cowok bermata sipit itu, di injak sekuat tenaga oleh Andi, membuat anak itu meraung kesakitan, bergulung-gulung di lantai. Pak Yupi dan pak Bagas berdiri diam menyaksikan Andi mengamuk, karena mereka juga merasa jijik, dengan kelakuan Rian. Andi ngos-ngosan, sekarang dia baru sadar, kenapa ayahnya dulu memecat pak Bagas, gara-gara anak beliau menabraknya, karena menyiksa anaknya saja belum cukup.
"Buat restaurant ayahnya bangkrut" Perintah Andi kepada pak Bagas.
"Siap tuan muda, laksanakan" Ayahnya Rama bergegas keluar ruangan.
__ADS_1
"Seret dia ke penjara dan pastikan dia di hukum maksimal" Perintahnya lagi kepada pak Yupi, kepala keamanan Daiha Motor.
Dengan sigap pak Yupi menarik Rian berdiri dan menuntunnya, yang berjalan terseok-seok, rintihan cowok itu tidak dihiraukannya.
Andi berdiri dengan gontai, ini salahnya. Kalau bukan karena dia begitu diam, Amel tidak akan bergaul dengan Rian. Kenapa dia begitu jaim kepada gadis yang dia sukai, kenapa dia terlalu pengecut untuk menyatakan cinta, apa susahnya bilang aku cinta padamu. Penyesalan selalu datang belakangan. Andi menaiki motornya, lupa dengan helmnya. ingin menemui sang kekasih, ingin menghiburnya, ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Tegar yang melihat itu, tertegun, untuk pertama kalinya melihat pengendara motor itu, ternyata anak muda dan dengan wajah yang begitu sedih, membuat orang yang melihatnya juga ingin ikut menangis. Dia mengira selama ini, pengendara motor itu adalah pria mapan, atau seorang pembalap.
Sesampai di rumah sakit, Andi melihat di kaca pintu ruangan, Amel yang di temani mamanya. Menangis di pelukan mamanya, wajahnya yang lelah, menanggung beban yang besar, hatinya terasa sakit melihat pemandangan itu.
__ADS_1
"Puas Kamu" Andi tersentak mendengar bisikan tiba-tiba di telinganya, ternyata bapak Amel sedari tadi berada di belakangnya.
Melihat tampang Andi yang seperti pesakitan, membuat bapaknya Amel sadar, bahwa pemuda di hadapannya ini iba terhadap anaknya, dan beliau memandang jemari tangan Andi yang memar.
"Amel sedari tadi tidak mau cerita, dia hanya menangis. Sakit melihatnya seperti itu, yang terucap di bibirnya hanya namamu" Oleh karena itu lah, bapaknya mengira Andi yang melakukan semua itu kepada putrinya.
Andi tidak tahan lagi, emosi di dalam dirinya membuncah. Ini semua salahnya.
"Saya akan bertanggung jawab Pak, Saya akan menikahi anak Bapak" Ujar Andi mantap.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu bertanggung jawab dengan apa yang tidak Kamu lakukan" Ujar bapak Amel tenang, dan tidak ingin membebani Andi.
"Tidak Pak, ini karena Saya mencintai anak Bapak" Ujar Andi ringan, menatap kembali ke arah Amel yang tertidur dalam dekapan mamanya.