ANDI LUKMAN HAKIM

ANDI LUKMAN HAKIM
PENGAKUAN MINA


__ADS_3

"Nenek sangat cantik" Ujar Mina kepada perempuan itu.


Furqan mengira cucunya itu berbicara kepadanya, yang tidak mungkin anak kecil itu tau bahwa tersayang nya sangat cantik.


"Apa maksud mu Sayang??" Tanya Amel.


Mina tidak tega melihat perempuan itu terlihat begitu menderita, membuatnya jadi ingin menangis juga. Dia tidak pernah melihat mahkluk gaib yang seperti itu, kebanyakan dari mereka berwajah seram dan menakut-nakutinya, ketika mereka tau Mina bisa melihat mereka.


"Apakah nenek punya tahi lalat di bawah matanya??" Tanya Mina kepada Furqan, matanya tidak lepas dari perempuan itu.


"Ba,,bagaimana.." Furqan tertagap.


"Mina bisa melihatnya" Bisik Mina tiba-tiba, kemudian menatap Furqan.


"Selalu berada di samping kakek dari tadi" Lanjutnya, membuat mereka bertiga bingung. Sementara babang Amin dengan santainya masih mengunyah kue kesukaannya.


Amel dan Andi mengnggap putrinya itu membuat lelucon yang tidak lucu, sedangkan Furqan antara percaya dan tidak percaya, karena tidak ada yang tau bagaimana wajah perempuan yang di sayanginya. Perempuan itu sulit di jangkau dan tidak ingin membebani Furqan dengan utang ayahnya, utang ayahnya itu sudah di lunasi Furqan, sehingga membuat perempuan itu menghilang tanpa jejak.


Andi melihat perubahan suasana menjadi canggung, dia merasa tidak enak dengan pamannya, karena pamannya itu terlihat terguncang. Amin membuka suara, berdehemm.


"Sebenarnya, Mina bisa melihat mahkluk gaib Mah, Pah" Ujar Amin, membuat orang tuanya terkejut. Amel memeluk putrinya, kemudian memegang kedua pipi putrinya dan memandangnya seakan mencari tanda atau sesuatu yang aneh di sana. Sedangkan Andi menatap Amin dengan pandangan bertanya, dan Furqan menjadi tambah bingung dan penasaran.

__ADS_1


"Bagaimana dia terlihat, apa benar dia tersayang Kakek?" Tanya Furqan, dan Mina mengangguk.


"Mina tidak bisa mendengar suaranya, tapi hanya bisa membaca gerak bibirnya" Jelas Mina.


"Kamu juga bisa mendengar suara?" Tanya Amel, Mina mengangguk.


"Sejak kapan?" Giliran Andi yang bertanya, Mina memicingkan matanya berusaha mengingat.


"Semenjak badut yang di emmol itu" Amin yang menjawabnya.


"Itu kan, ketika kalian berusia tiga tahun,,berarti dua tahun yang lalu??" Tanya Amel, Amin dan Mina mengangguk. Amel mengatupkan tangannya ke mulutnya, kaget.


"Mina gak tau harus cerita gimana, sama Kakak juga Mina gak cerita"


"Terus kanapa Amin tau" Kali ini Furqan yang bertanya.


"Jangan remehkan insting si kembar" Ujar Amin sombong.


Haiiiyss,,,semua tertawa mendengarnya.


"Jadi, bagaimana dengan nenek" Tanya Furqan, penasaran.

__ADS_1


"Masih di samping kakek, dia terlihat sedih" Tunjuk Mina ke sisi kiri kakeknya, Furqan memandang ke arah yang di tunjuk gadis kecil itu.


"Apakah itu berarti dia sudah mati?" Tanya Furqan pelan, Mina menggeleng.


"Mina gak tau kek, tapi dari kata yang di ucapkannya, seperti kata 'maaf' "


Furqan tertunduk dan seperti ingin menangis, perempuan yang di sayanginya memang selalu berkata maaf ke padanya, karena tidak ingin menjadi beban, tidak ingin membuat Furqan selalu berharap padanya, yang selalu setia menunggunya sampai rela melajang sampai saat ini.


"Dia bilang, Air Terjun Kilat Api" Ujar Mina tiba-tiba, membuat Furqan mengangkat kepalanya dan memandang cucunya itu, kemudian mengeluarkan ponselnya. Lalu keluar ruangan, menelpon seseorang.


Kedua orang tuanya menatap Mina minta penjelasan, yang di tatap hanya nyengir dan babang Amin melanjutkan rutinitasnya, makan kue.


"Di samping kalian juga ada Mah, Pah, teman-teman Mina" Ujar Mina, membuat Amel celingak celinguk mencari sesuatu yang bergerak.


"Jangan menakuti mamahmu" Tegur Andi.


"Enggak Pah,, yang ini namanya Bule, itu Aiz dan yang di dapur tuh, yang suka liatin mamah masak namanya Iris" Penjelasan Mina, membuat Amel duduk merapat ke samping Andi.


"Tuh kan, mamahmu jadi takut"


"Makanya Mina gak mau cerita" Mulut anak itu jadi manyun.

__ADS_1


__ADS_2