
Keberangkatan Andi ke luar negri ditunda, karena kesehatannya yang mendadak drop, Amel dan Rina kemudian permisi, kepada ke empat orang tua Andi, setelah anak itu belum juga sadar. Kedua cewek itu mengira bapak Firman dan ibu Laila, adalah mantan atasan bapaknya Andi dulu, waktu di kantor beliau.
Sore hari Andi membuka matanya, membuat ke empat orangtuanya bernafas lega.
"Mungkin nak Andi merasakan trauma di kepalanya, bisa jadi kerena mencium aroma, yang membuat Mu mual" Ujar dokter setelah Andi sudah siuman, dan mendengarkan cerita Andi, tentang apa yang terjadi tadi.
__ADS_1
"Apakah telinga Mu tidak berdengung??" Tanya dokter lagi, yang dijawab Andi dengan gelengan.
"Baiklah,,banyak istirahat lagi biar cepat pulih. Jangan biarkan otak Mu bekerja keras" Ucap dokter, kemudian pergi.
Andi sedang duduk nyender di ranjangnya, sambil menerawang menatap ke luar jendela, pak Firman sedang mengantarkan bapak Amir dan mama Sala pulang. Ibunya menemani, sambil mengupaskan jeruk untuknya, yang reflek di makannya, karena jeruk itu di sodorkan ibunya kemulutnya, kemudian ibunya permisi ingin mengambil air mineral, tapi ditahan Andi dengan memegang lengan ibu. Ibu yang sudah setengah berdiri, mendadak berhenti dengan posisi nungging.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
Ibu bingung, melihat dokter dan perawat berlarian menuju kamar anaknya, mendadak perasaan cemas menggelayutinya. Dengan cepat berlari, menyusul ke kamar anaknya dan terlihat para perawat mengelilingi ranjang Andi, sedangkan dokter berada di atas tubuh andi, sedang melakukan CPR, perasaan ngeri menghantuinya, tanpa sadar melepaskan botol minum ditangannya dan menumpahkan isinya, karena belum sempat ditutup. Sambil mendekap mulutnya, melihat Andi yang sudah baik-baik saja, lalu beliau terduduk lemas. Di bantu seorang perawat, ibu berdiri dan duduk di sofa. Menangis tergugu, tidak lama kemudian ayah datang, dengan tergesa seperti sudah mengetahui musibah yang sedang terjadi.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
Terlihat Ozan yang memasuki ruangan Andi, sesaat setelah ibu keluar dari situ, dengan cepat dia mendekapkan bantal ke wajah Andi, sampai anak itu berhenti meronta. Beruntung Furqan, yang menempelkan kamera pengintai kecil di atas tv, sedang melihat rekamannya, yang tersambung langsung ke layar Androidnya, setelah melihat orang itu masuk keruangan keponakannya, dia langsung tersadar dan menelpon dokter di rumah sakit, sehingga Andi cepat tertolong. Walaupun Ozan memakai masker, kaca mata dan jubah dokter, Furqan tetap mengenalinya. Sudah lama dia mencurigai menantu abangnya itu, tapi dia belum mendapatkan bukti yang kuat, rekaman ini pun masih belum cukup kuat. Abangnya itu juga masih meragukannya, kemudian setelah menelpon dokte, Furqan langsung menghubungi abangnya, yang langsung tancap gas kembali ke rumah sakit.
Hasil rekaman itu langsung dia kirimkan kapada abangnya, meskipun orang yang di dalam rekaman itu memakai masker dan kacamata, Firman juga mengenali dengan jelas bagaimana visual menantunya itu. Saat Firman menelpon anak perempuannya, untuk menanyakan keberadaan suami anaknya itu, ternyata dia sedang berada di kota Bamban menghadiri rapat di salah satu anak perusahaan, yaitu Daiha Motor. Momen yang pas