ANDI LUKMAN HAKIM

ANDI LUKMAN HAKIM
TERSAYANG


__ADS_3

Furqan sedang menjenguk cucu-cucunya, yaitu Amin dan Aminah, laki-laki itu sudah berumur 45 tahunan dan visualnya makin terlihat ganteng dan gagah. Kebetulan hari itu hari libur, sehingga mereka semua ada di rumah, sampai saat ini pamannya Andi itu masih sendiri. Wajahnya hari itu terlihat lelah dan putus asa, senyumannya hanya di buat-buat di hadapan cucu-cucunya. Andi menangkap perubahan pada pamannya itu, baru minggu kemarin mereka bertemu, sehingga perubahan itu terlihat jelas dan pasti ada sesuatu yang serius sedang terjadi. Andi tau pamannya itu takkan memberitahunya apabila ditanya, beliau hanya mencari pelarian untuk bersenang-senang dengan anak-anaknya.


"Kakek kenapa??" Tanya Amin dan Mina berbarengan, juga merasakan kegelisahan dalam diri Furqan. Mereka berempat sedang duduk di lantai ruang tamu, bermain papan Ludo, sedangkan Amel berada di dapur sedang memanggang kue kering.


"Gak kenapa-kenapa kok" Sambil mencubit pipi kedua cucunya, merasa gemes mendengar mereka berdua mengkhawatirkan dirinya dan bicara berbarengan.


"Bohong! Muka kakek sudah jelas begitu ada masalah" Ujar Amin blak-blakan, membuat Furqan memegang wajahnya dan melirik Andi yang tertawa geli.

__ADS_1


"Kakak liat gak perempuan yang ada di samping kakek ?" Bisik Mina ke telinga abangnya, yang di balas Amin dengan gelengan, Andi melihat mereka dan menegurnyya, gak sopan bisik-bisik begitu dan di balas Mina dengan cengiran.


Mina terus-terusan melirik ke arah perempuan, yang di lihatnya berada di samping Furqan, Andi juga kadang-kadang melirik pamannya itu.


Permainan berakhir ketika Amel membawakan kue yang baru di panggang, mereka asyik memakan kue yang masih hangat, dengan susu sedangkan para orang tua meminum soda.


" Kek, Mina kok gak pernah liat nenek??" Tiba-tiba anak itu membuka percakapan, semuanya menatap Mina kaget. Andi meringis kepada pamannya, bahkan dia sendiri tidak pernah berani bertanya.

__ADS_1


Setelah mengatasi keterkejutannya, beliau tersenyum.


"Nenek berada di tempat yang jauuuh" Jawab Furqan, sambil tangannya memperagakan pesawat yang sedang lepas landas. Amin dan Mina menganggap maksud kakeknya adalah, nenek mereka sudah meninggal, sedangkan Andi menganggup maksudnya adalah, perempuan itu tidak terjangkau, karena dia pernah mendengar bahwa pamannya itu sedang mencari seorang wanita.


"Kasihan, padahal sepertinya ada yang nenek mau sampaikan" Ucap Mina keceplosan, membuat yang lain menatapnya bingung. Kemudian perempuan yang sedari tadi memperhatikan dan mengikuti Furqan, tiba-tiba menatap Mina dan perlahan mendekatinya. Anehnya anak itu tidak merasa takut, tapi dia merasa sudah mengenal perempuan itu dan merasa sudah akrab. Setelah mereka berdekatan, Mina sadar bahwa perempuan itu jauh lebih muda, seperti mamahnya. Kemudian dia menatap kakeknya, mereka saling bertatapan, Furqan menatap Mina dengan penuh tanda tanya.


"Nenek sangat cantik"Ujar Mina kepada perempuan itu.

__ADS_1


Furqan mengira cucunya itu berbicara kepadanya, yang tidak mungkin anak kecil itu tau bahwa tersayang nya sangat cantik.


__ADS_2