Another World

Another World
Episode 1


__ADS_3

Mimpi! Siapa yang tak pernah mengalami? Semua orang pasti pernah bermimpi. Mimpi sering dikatakan sebagai bunga tidur. Hal yang terjadi di dalam mimpi bagaikan angin lalu yang tak begitu berarti. Terkadang, mimpi juga bentuk pengekpresian harapan terdalam manusia. Tetapi, kenapa aku masih saja tak mengerti? Apakah ini sebuah mimpi? Atau ingatan-ingatan yang telah berlalu pergi? Mungkinkah ini imajinasi yang kuciptakan sendiri?


"Hai," sapa seorang laki-laki asing.


"H..hai,kamu siapa ya?" tanyaku canggung.


"Perkenalkan, namaku Revanza Adinata," balasnya ramah.


"Aku Kania Diyana," balasku singkat.


Revanza Adinata, cowok yang pertama kali kutemui di tempat ini. Kelihatannya dia cowok yang sopan dan ramah. Entah mengapa, aura kehangatan begitu terpancar darinya. Seakan-akan aku ingin selalu berada di dekatnya.


"Kamu berasal dari mana? Kenapa sendirian disini?" tanyanya penasaran.


"Entahlah, tanpa sadar aku berada di tempat ini," jelasku.


"Lihat, teman ini begitu indah bukan? Di penuhi warna-warni yang begitu memanjakan mata," katanya lagi.


"Iya, taman tulip yang indah sekali," jawabku takjub.


"Kamu tau apa yang kurang dari taman yang indah ini?" tanyanya lagi.


"Entah lah," kataku singkat sembari mengangkat kedua bahuku.


"Sepi, tak ada siapapun disini. Hanya kamu dan aku diantara indahnya bunga tulip yang bermekaran," jelasnya lagi.


Yang dikatakan Revan memang benar, taman tulip ini begitu indah dan menakjubkan. Sayangnya, keindahannya tak dinikmati oleh manusia. Melihat taman ini tak ada yang mengunjungi, hatiku merasa sakit sekaligus bingung. Karena Tulip adalah bunga yang paling aku sukai.


"Oyy...Kania, kenapa bengong?" tanya Revan heran.


"Gak kok. Revan, temani aku keliling-keliling daerah sini ya," kataku semangat.


"Ohh...iya, aku bakal ajak kamu ke tempat yang rame biar kamu gak bosan," balasnya senang.


"Makasih Revan," tambahku lagi.

__ADS_1


"Iya, aku pulang duluan ya. Besok aku langsung datang kesini nemuin kamu," katanya sambil berlalu pergi.


Sebenarnya, banyak pertanyaan yang terlintas dalam benakku. Tapi kini, aku tak terlalu memikirkan semua itu. Meskipun ini hanya sebuah imajinasi, kuharap ini adalah tempat terbaik yang pernah kusinggahi.


 


Kini langit menampakkan cahaya kuning keorangean, menandakan malam akan segera datang. Sembari berbaring diantara indahnya bunga tulip, aku terbuai dengan desiran angin yang menyapa setiap kelopaknya. Bagaikan sebuah simponi alam yang tiada duanya, aku terlelap dalam duniaku sendiri.


"Kania, bangun udah pagi," teriak seseorang.


"Nghh... Revan," seruku sembari mengucek mata.


"Kok tiduran di taman sih," katanya lagi.


"Gak papa, aku paling suka sama bunga tulip. Tidur di antara setiap tangkainya membuat aku tenang," ucapku lagi.


"Hahh.. ada-ada saja kamu ini. Ohh iya, ini aku bawakan makanan untukmu," katanya sambil memberikan serantang makanan.


"Ohh...makasih ya Van," balasku senang.


"Yuk kita pergi jalan-jalan," kata Revan sambil menarik tanganku.


"Ehh...aku belum mandi loh," seruku canggung.


"Ohh..iya, kamu disini juga gak ada tempat tinggal ya, gimana kalo kamu tinggal di tempat Bu Mega, tetanggaku," katanya lagi dengan semangat.


"Apa boleh?" tanyaku ragu.


"Boleh, yuk kita kesana sekalian kamu bersihin badan," ucapnya lagi dengan semangat.


Akhirnya, aku tak merasa sendirian disini. Rasanya, dewi Fortuna memberikan keberuntungannya padaku karena telah mempertemukan aku dengan Revan, dan sekarang aku telah menemukan tempat tinggal bersama dengan tetangga Revan . Bu Mega namanya, orangnya juga ramah dan baik. Saat pertama kali aku menginjakkan kaki di rumahnya, dia merasa begitu senang karena akhirnya ia tak sendirian lagi setelah putri kesayangannya pergi bersekolah di luar kota.


"Wahh...rame banget disini, padahal masih pagi loh," ucapku takjub sembari melihat sekeliling.


"Iya, ini kan hari Minggu udah pasti rame lah," celetuk Revan dengan singkat.

__ADS_1


"Jadi, kita hari ini mau kemana?" tanyaku dengan sangat antusias.


"Kamu maunya kemana?" tanya Revan lagi.


"Lahh...kan kamu yang ajak aku jalan-jalan. Kenapa malah nanya ke aku," balasku dengan kesal sembari memasang wajah cemberut.


"Hahaha..., aku gak ada rencana mau ngajakin kemana sih, maunya cuma keliling-keliling doang," balas Revan dengan santainya disertai dengan tawa yang begitu keras.


"Hadeeuhh...yaudah deh, kita keliling-keliling aja," balasku sambil berjalan dengan langkah malas.


Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya aku tau bahwa kota ini bernama Petra, namanya sama dengan Petra yang ada di Yordania. Tapi aku yakin bahwa kota Petra di sini berbeda 180 derajat dengan Petra yang ada di Yordania. Sedikitpun tak ada kemiripan di antara keduanya, hanya namanya saja yang sama.


"Kan, kamu laper gak?" tanya Petra menghentikan langkah kakinya.


"Kenapa, kamu laper ya?" tanyaku lagi padanya.


"Ya elah, malah di tanyain balik. Jelas banget aku laper, kita makan dulu yuk," balasnya dengan nada yang sedikit kesal.


"Kamu gak makan Kan?" tanya Revan yang tengah mengunyah makanannya.


"Enggak ah, kan udah makan tadi. Aku pengennya es krim," jelasku singkat.


"Ini masih pagi loh, gak baik makan es krim," katanya lagi dengan mulut yang masih penuh.


"Tapi aku pengen banget Van," tambahku dengan wajah yang sangat berharap.


"Yaudah persen sana, sekalian aku bayarin," katanya singkat.


"Makasih Revan," balasku dengan wajah berbinar.


Hari kedua berada di kota Petra rasanya aku sudah mulai terbiasa dengan lingkungannya. Meski baru mengenal Revan, tapi aku cukup merasa senang sampai melupakan satu hal yang sangat penting yaitu bagaimana caranya aku bisa sampai ke kota Petra ini.


Menurut kalian, apakah kota Petra itu nyata atau hanya mimpi Kania saja?


Setelah membaca, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🤗

__ADS_1


__ADS_2