
"Meskipun lelah, sebuah perjalanan akan terasa menyenangkan jika dilakukan bersama teman"
"Vin, aku gak nyangka kalo kamu bisa mengendarai kereta kuda," ucap Kania spontan.
"Ini mah masalah gampang Kan, aku lebih gak nyangka kalo kamu yang bisa mengendarai kereta kuda ini," balasku dengan sedikit tertawa.
"Hmm...aku bisa tau mengendarai kereta kuda ini"
"Yang bener?" tanyaku tak percaya.
"Iya, bisa nyungsep maksudnya. Hehehe," balas Kania dengan tawa.
"Haha, kenapa kamu gak tidur?"
"Gak ah, aku udah cukup istirahat tadi. Lagian, kamu sendiri yang terjaga sedangkan yang lain pada istirahat, aku mau nemenin kamu biar gak kesepian"
"Hmm...gak usah, gak papa kalo aku sendiri yang terjaga. Kalo emang mau tidur, kamu tidur aja"
"Enggak ah, aku mau nemenin kamu aja. Kan aku udah bilang kalo aku udah cukup istirahatnya," ucap Kania bersikeras.
"Tapi muka kamu pucet lo. Apa kamu demam ya?" tanyaku khawatir sembari memegangi jidat Kania.
"Ehh...enggak kok, aku gak kenapa-kenapa," balas Kania yang tampak canggung.
"Ohh...iya maaf," ucapku melepaskan tangan.
"Ngomong-ngomong, kamu umur berapa ya Vin?" tanya Kania.
"Kurang lebih 150 tahun lah," balasku santai.
"Hahh..yang bener? Kenapa muka kamu masih muda banget kaya orang umur 20-an lebih," balas Kania tak percaya.
"Iya bener aku 150 ahun, kan perbedaan antara Skandinavia dan dunia modern itu jauh"
"Iya sih, kalo Revan berapa?"
"Aku gak tau pasti, palingan sekitar 100 tahun"
"Oh gitu, aku penasaran deh kenapa Revan bisa tinggal di kastilnya Alexander Louis?"
__ADS_1
"Hmm," balasku berdehem.
"Ehh...tapi kalo kamu gak mau cerita juga gak papa kok," tambah Kania lagi.
"Bukannya aku gak mau cerita ke kamu, cuma ini masalah pribadi Revan, lebih baik kalo dia sendiri yang cerita. Karena aku gak mau melangkahi privasi dari Revan," jelasku pada Kania.
"Ohh...iya, aku ngerti kok," balas Kania lagi.
"Kamu benci sama Revan?" tanyaku memastikan.
"Hmm...ntahlah, aku juga gak tau. Meskipun aku kesel sama sikap dia yang dingin dan cuek saat mengurungku di kastil Alexander Louis, tapi dia hanya melakukan perintah dan sekarang aku melihat ketulusan hatinya untuk menebus kesalahan itu. Aku gak mau benci dia, tapi logikaku menolak atas apa yang dilakukannya padaku karena itu semua hanya kebohongan," jelasnya panjang lebar.
"Ya, sifatnya memang seperti itu. Dingin dan cuek, tapi aku tak pernah tau kalo dia dengan tulus ingin menebus kesalahannya"
"Memang Revan orang seperti apa?"
"Seperti yang aku bilang tadi, aku gak bisa menceritakannya karena hal ini berhubungan dengan masa lalu Revan yang mungkin bisa dibilang cukup menyakitkan"
"Ohh iya, aku ngerti kok. Gak perlu dibahas ya kalo gitu," balas Kania yang tampak kecewa.
Ya, begitulah perjalanan malam yang panjang menuju istana kerajaan. Aku cukup senang karena bisa ditemani oleh Kania, tapi aku tak bisa menghiraukan raut wajah Kania yang tampak kecewa atas apa yang kuucapkan. Aku yakin, dia tak bermaksud menggali luka orang lain, namun ia hanya ingin mengetahui apa yang terjadi agar bisa mengambil sikap, terutama terhadap Revan.
"Semua bangun, kita sudah memasuki wilayah kerajaan," seruku.
"Iya, tapi ini masih terlalu gelap untuk kita datang ke istana, kita bisa dikira sebagai penjahat," tambahku lagi.
"Terus, mau gimana lagi? Kita harus segera kasi tau pihak istana," ucap Radith.
"Bener kata kak Alvi, kesana pun, kita hanya membuang-buang waktu dan tenaga karena para penjaga istana tak akan membiarkan kita masuk," jelas Revan.
"Yaudah deh, mending kita makan dulu. Gue laper banget nih," seru Yuna lagi.
"Makan apa Na? Hari masih gelap gini, siapa yang buka warung," ucap Kania yang akhirnya membuka suara.
"Iya juga sih, kalo gitu kita masak aja dari bahan yang seadanya," tambah Yuna.
"Oke, biar gue dan yang lain yang cari bahannya sama kayu bakar," seru Radith.
Tampaknya, hari ini kami akan belajar hidup mandiri dari alam.
"Bangun woy bangun," teriak Radith heboh.
__ADS_1
"Apaan sih Yang, masih pagi udah teriak-teriak aja," ucap Yuna malas.
"Iya lah, kita kan harus bergegas menuju istana," tambah Radith lagi.
"Iya sih, cuman biarin yang lain pada istirahat dulu kek," kesal Yuna.
"Kenapa pada ribut-ribut sih," seru Kania dari bangun tidurnya.
"Ribut lah, kita harus bergegas menuju istana. Gak ada waktu buat malas-malasan," tegas Radith.
"Dia bener, kita harus berangkat sekarang," timpal Revan.
Begitulah perjalanan kami yang panjang dan melelahkan.
"Huftt...akhirnya sampe juga ke gerbang istana," lelah Yuna.
"Menurut kalian, apa kita bisa lewat begitu saja?" khawatir Kania.
"Memang susah kalo orang awan memasuki istana begitu saja. Tapi tenang, kita di sini ada kak Alvi, kita pasti dibiarkan lewat dengan mudah," jelas Revan.
"Hahaha iya ya, kita kan punya kartu as yang sangat berguna," ucap Radith dengan tawa.
"Ketawanya biasa aja kali Dith," ketus Kania.
"Suka-suka gue kali Kan," ketus Radith lagi.
"Jangan ngobrol terus, yuk langsung masuk aja," ucap Revan.
"Maaf, kalian tidak bisa menemui baginda raja sekarang," ucap salah seorang penjaga istana.
"Hahh...kenapa gak bisa?" tanya Radith dengan sangat terkejut.
"Ini masalah penting, sebaiknya kalian izinkan kami bertemu dengan Baginda raja," tambah Revan lagi.
"Iya, kami tak kan membuat kekacauan, izinkan kami masuk. Kalian kan juga tau bahwa saya adalah pengawal pribadi Putri Camilla," jelasku lagi.
"Kami tau, cuma sekarang baginda raja sedang meninjau lokasi pembangunan pusat pertahanan negara," jelas penjaga itu lagi.
"Kenapa bisa? Kami sudah datang jauh-jauh kesini malah rajanya pergi," ucap Revan dengan kesal.
"Maaf, kalian kembali saja lain waktu," ucap penjaga itu lagi.
__ADS_1
Siapa yang tau jika perjalanan kami yang panjang dan melelahkan itu tidak mendapat hasil yang sesuai dengan ekspektasi.