
"Meskipun terlihat konyol, akan ku lakukan sampai tuntas pada apa yang telah ku yakini sejak awal"
"Kamu sudah tiga hari tidak makan, sebaiknya makan makanan itu dan jangan membuat tuan muda Revan marah," ucap salah seorang penjaga.
"Biar saja, biarkan aku mati sekalian!" balasku dengan ketus.
"Hahhhh...menyusahkan saja," katanya lagi sambil menghela napas panjang.
Memang benar bahwa aku sudah dikurung selama tiga hari. Dan selama itu juga aku tidak makan dan minum sama sekali. Bukannya memilih makanan enak atau apa, tapi aku tak memiliki selera makan sama sekali. Yang kuinginkan hanyalah pulang ke rumah bertemu orangtuaku dan juga Yuna.
"Keras kepala sekali kamu ini," ucap Revan menghampiri.
"Memang aku keras kepala, terus kenapa?" balasku tak senang.
"Hoo...kita liat sampai kapan kamu bisa bertahan tanpa ada makanan dan juga minuman," ucapnya menantang.
"Kalian, jangan pernah beri makanan ataupun minuman pada Kania lagi. Kita liat, sampai kapan dia mampu bertahan," perintah Revan pada para penjaga.
"Dan kamu, jangan harap bisa keluar dari sini," tambahnya lagi dan beranjak pergi.
"Hahaha..., aku lebih rela mati daripada harus mendekam di sini selamanya," teriakku pada Revan.
"Sayangnya, aku tak mengizinkan hal itu terjadi, karena kamu dibutuhkan dalam keadaan hidup," timpalnya dan langsung pergi.
Dulu, aku pernah bermimpi hidup dan tinggal di negeri dongeng. Menjadi putri kerajaan yang di sayang banyak orang. Sekarang aku berhasil, namun bukan menjadi putri, melainkan tahanan. Yang lebih menyakitkan lagi, aku ditahan oleh seorang yang kuanggap sebagai teman.
"Sudah hari kelima, ternyata kamu gak main-main," kata Revan yang secara rutin datang dan mengecek ku.
"Tentu saja, seperti yang kubilang aku lebih senang mati dibanding mendekam di sini selamanya"
__ADS_1
"Terserah kamu, tapi aku peringatkan bahwa kamu tak akan bisa melakukan itu karena aku tak mengizinkannya terjadi," kecam Revan.
Hari ini, tepat hari ketujuh sejak Revan tak memperbolehkan para penjaga memberi makanan atau minuman. Sebenarnya, aku tak masalah sama sekali karena aku tak akan menyentuh apapun yang mereka suguhkan. Tapi aku tak tau sampai kapan aku bisa bertahan, yang pasti aku harus bertahan pada apa yang telah aku yakini.
"Penjaga, buka pintunya!" perintah Revan.
"Tapi tuan....," sela penjaga itu.
"Buka sekarang, ini perintah saya," tegas Revan lagi.
"Baik tuan," ucap penjaga itu dengan ketakutan.
"Bravo, delapan hari kamu berhasil bertahan. Saya salut dengan kamu"
"Jangan bercanda, aku harus bertahan sampai titik darah penghabisan," balasku dengan yakin.
"Yahh..., Aku tak dapat berkata-kata dengan semangat yang telah kamu tunjukkan. Tapi aku telah memperingatkan kamu sebelumnya, sebaiknya kamu hentikan hal ini. Karena sampai kapanpun kamu gak akan berhasil lolos ataupun mati di sini," kecam Revan dengan tatapan tajam.
"Kamu tak memiliki hak untuk mengomentari atas apa yang aku lakukan. Meskipun bodoh, aku akan berpegang teguh pada apa yang telah aku yakini sejak awal. Dan kamu, aku bakal membalas semua perbuatan yang telah kamu lakukan padaku," ucapku dengan kesal sembari menarik kerah bajunya dengan energi yang mungkin sudah tak ada lagi.
"Iya, aku tak akan pernah menyerah," balasku menatap punggungnya sampai akhirnya terlihat samar-samar.
Gedebruk!!
"Gimana? Masih belum bangun juga dia?" tanya seorang pria.
"Keadaannya sudah jauh lebih baik, kita tinggal menunggu sampai dia bangun," balas pria lainnya yang terdengar samar-samar.
"Ughhh...kepalaku sakit banget," lirihku.
"Bangun juga akhirnya" ucap Revan.
__ADS_1
"Aku ada dimana? Kenapa kamu ada di sini?" balasku dengan bertanya.
"Kamu berada di salah satu kamar kastil dan aku di sini untuk mengawasi kalau-kalau kamu kabur saat siuman nanti," jawabnya dengan santai.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanyaku lagi.
"Banyak tanya!" ketus Revan.
"Gak papa jika kamu tak ingin menjawab, aku hanya ingin mengetahui kenapa aku bisa berada di sini karena aku tau kamu tak akan berbaik hati untuk menempatkan aku di kamar mewah seperti ini," jelasku lagi.
"Intinya kamu telah kalah karena tepat di hari kedelapan, kamu jatuh pingsan. Untuk itu kamu dirawat di sini," paparnya dengan singkat.
"Kenapa? Kenapa kamu tak membiarkan aku mati saja?"
"Aku sudah bilang sebelumnya, aku membutuhkan kamu dalam keadaan hidup. Tak mungkin aku membiarkan kamu mati begitu saja. Dan lagi, kamu tau sudah berapa lama kamu pingsan?"
"Berapa?" tanyaku lagi dengan bingung.
"Tiga hari, selama tiga hari kamu telah menyusahkan semua orang termasuk aku. Jadi, kamu harus mengganti semua biaya yang telah dikeluarkan untuk merawat kamu," jelas Revan lagi.
"Kenapa aku harus mengganti uang yang sudah dikeluarkan untuk merawatku? Aku tak pernah meminta semua yang ada di sini untuk merawatku," balasku tak mau kalah.
"Jangan membantah! Setelah sembuh total, lakukan semua pekerjaan rumah sebagai pengganti uang ganti rugi," ucap Revan lagi.
"Ya, di sini aku tak memiliki hak untuk memilih"
"Bagus jika kamu sadar diri, bersikaplah yang baik selama di sini. Jangan berbuat kekacauan," kecam Revan yang beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa kamu berubah Van?"
"Bukan urusanmu!" ketus Revan.
__ADS_1
Aku tau setiap orang bisa berubah sewaktu-waktu. Tapi, aku tak menyangka bahwa Revan berubah secepat dan sedrastis itu. Sifatnya berbanding terbalik dengan Revan yang aku temui di kota Petra. Meskipun terlihat kejam, aku masih merasakan sisi baik darinya. Ntahlah, aku tak tau mana Revan yang asli. Yang kutahu, Revan bukan temanku lagi.
Revan kenapa tiba-tiba berubah gitu ya? Sebenarnya apa yang dia butuhkan dari Kania?