Another World

Another World
Episode 11


__ADS_3

"Bagi kita, suatu hal dianggap kecil. Tapi bagi orang lain justru dianggap hal besar yang bisa membuatnya tersenyum meski dengan hal-hal yang sederhana".



"Lah, kenapa keliatannya lo jadi kurang tidur Kan," heran Yuna.


"Iya, aku kemaren gak bisa tidur," balasku.


"Hmm, eh roti kita abis nih. Gue ke mini market dulu ya. Tungguin gue," celoteh Yuna lagi.


"Oke, jangan lama-lama, aku udah laper nih," balasku lagi.


"Iya," jawab Yuna singkat sebelum keluar menuju mini market.


"Gara-gara si Dito, aku jadi kurang tidur," ucapku dengan kesal.


"Tapi, dia sekarang ada dimana ya, aku cuma suruh dia bikin rumah gak tau dia buatnya dimana," pikirku.


"Tunggu, ngapain aku khawatirin si Dito sih, biarin ajalah dia mau ngapain juga bukan urusan aku," ocehku lagi.


"Kaniaaaaaaaa," heboh Yuna.


"Apaan Na, cepat panggangin aku roti".


"Sabar napa, lo tau gak...".


"Enggak," sela ku.


"Gue tadi ketemu cogan Kan, cogan," histeris Yuna.


"Astaghfirullah, ingat sama Radith Na".


"Iya iya, gue kan cuma mau bilang kalo gue ketemu sama cogan," cemberut Yuna.


"Emang seganteng apa sih, sampe kamu heboh banget kaya gini?" tanyaku heran.


"Dia tuh orangnya tinggi, hidungnya mancung, badannya lumayan tegap, terus rambutnya coklat kepirang-pirangan yang paling gue suka darinya apa coba?".


"Ya apa, mana ku tau".


"Matanya Kan, matanya".


"Emang kenapa sama matanya, buta?".


"Istighfar lo Kan, gak boleh lo kaya gitu".


"Ya maaf, abisnya kamu ngoceh mulu. Aku udah laper tau".


"Iya iya, sabar napa sebentar".


"Hmm".


"Entah kenapa, aku langsung keingat sama si Dito, kurang lebih ciri-ciri yang bilang Yuna mirip dengan Dito," pikirku lagi.


"Oh iya Na, kamu tadi bilang kalo suka mata cogan yang kamu sebut tadi".


"Iya, kenapa? Penasaran ya?" tanya Yuna dengan nada yang membuatku kesal.


"Enggak, cuma pengen tau aja".


"Warna matanya emerald loh Kan".

__ADS_1


Uhuukk...uhuukk....


"Kenapa lo Kan? Ni minum dulu," menyodorkan segelas air putih.


"Serius kamu matanya emerald? Gak salah liat kan?".


"Enggak lah, mata gue masih sehat tau. Emang kenapa sih?".


"Gak papa, oh iya kamu tadi ketemu dia dimana?".


"Di dekat gapura yang ada di ujung jalan mini market".


"Oke, aku pergi sekarang ya Na. Kubawa juga roti ini," sambarku pada beberapa roti panggang yang tergeletak di piring".


"Hehh..lo mau kemana? Roti gue juga kenapa lo bawa Kan," teriak Yuna.


"Aku ingat ada urusan penting dan harus berangkat sekarang. Soal roti, kamu panggang aja lagi. Dah Yuna cantik," ucapku meninggalkan Yuna yang tampak heran atas kelakuanku.


"Dimana ya, kata Yuna di dekat gapura di ujung jalan, kok gak ada sih," gumamku sambil celingak-celinguk.


"Loh, dia bukan sih yang di taman itu. Samperin aja deh kalo gitu. Ditoo...," teriakku sambil berjalan menghampiri.


"Hmm," tolehnya.


"Nah kan bener, kamu Dito," semangatku.


"Dito siapa ya, aku tuh Alvino," jelasnya.


"Hah... Alvino atau Dito sama ajalah," cuekku tak peduli.


"Beda Kania, Dito tuh nama orang lain, bukan aku," bantahnya lagi.


"Yaudah deh terserah, kamu belum sarapan kan? Ni aku bawain kamu roti panggang," kataku sambil menyodorkan kotak bekal.


"Tenang aja, aku gak bakal ngeracunin kamu. Cobain deh, pasti kamu suka".


"Hmm...," mengambil sebuah roti.


"Gimana?".


"Wahh...enak, aku suka. Tadi namanya apa?"


"Bener kan enak, namanya tuh roti panggang. Kalo mau, abisin aja semuanya".


"Yang benar?".


"Iya, abisin aja".


Ternyata, bahagia itu sederhana ya. Dengan melihat seseorang yang begitu bersemangat akan sebuah roti panggang rasanya lucu juga.


Kruyukk...


"Kamu lapar ya Ni?".


"Haha...enggak kok," balasku malu.


Kruyukk... kruyukk....


"Kayaknya kamu emang laper deh Ni".


"Haha..mungkin sih, soalnya aku tadi belum sarapan," kataku dengan jujur.

__ADS_1


"Yaudah nih," ucapnya sembari menyodorkan kotak bekal tadi.


"Enggak deh, untuk kamu aja. Aku bisa buat lagi di rumah," tolakku.


"Gak papa, aku juga udah makan kok. Enak, aku suka".


"Aku ambil nih?" tanyaku ragu.


"Iya, roti buatan Kania enak," katanya lagi.


"Ehh.., bukan roti buatan ku tapi buatan Yuna, sahabatku," bantahku yang tengah mengunyah roti.


"Bukan buatan Kania, aku harus berterima kasih sama orang yang bernama Yuna itu".


"Udah gak usah, nanti aku sampein ke orangnya," cegahku agar dia tak menemui Yuna.


"Hmm..kalo misalnya aku buatin kamu roti panggang, kamu mau makan....".


"Iya, aku mau," jawabnya tanpa pikir panjang.


"Oke, nanti kapan-kapan aku buatin kamu roti panggang yang banyak deh".


"Oh iya, kemarin kamu tidur dimana?" tanyaku lagi.


"Dengan sihirku kemaren, aku buat rumah kecil di ujung jalan sana," tunjuknya pada jalan tersebut.


"Baguslah, untung kamu bisa milih tempat yang gak terlalu mencolok. Ternyata kamu pinter juga ya".


"Jadi maksud kamu aku itu bodoh ya?".


"Mungkin, hahaha," ledekku.


"Aku gak bodoh tau Ni," balasnya tak terima.


"Kemaren Camilla, sekarang Ni, besok siapa lagi? Sebenarnya berapa banyak cewek yang ada di dekat kamu coba?".


"Ni kan nama kamu".


"Hah...jangan ngasal deh Dit, namaku Kania Diyana gak ada kata Ni disitu".


"Aku panggil kamu dengan nama belakang dari Kania. Maksudku itu Nia, jadi aku panggil Ni. Satu lagi, jangan panggil aku Dito namaku itu Alvino Pradipta," protesnya.


"Nama kamu terlalu susah untukku ingat," sanggahku.


"Panggil Alvi aja," katanya lagi.


"Alvi?, Vino ajalah biar gampang".


"Yaudah terserah kamu".


"Oh iya, mau jalan-jalan gak?".


"Gak, aku harus cari cara supaya bisa pulang ke Skandinavia," tolak Vino.


"Buru-buru banget, santai aja dulu di sini. Nanti aku tunjukin ke kamu gimana kehidupan zaman modern. Pokoknya jauh beda sama tempat yang kamu tinggali itu.


"Iya sih, aku juga heran liat semua orang pada naik kuda dan gerobak besi".


"Hahahaha...apaan kuda dan gerobak besi. Kamu mau kan liat kehidupan zaman modern?".


"Iya, tapi kamu harus bantuin aku cari cara agar bisa pulang ke Skandinavia".

__ADS_1


"Hmm..gak janji sih kalo itu," kataku dengan suara pelan.


Tinggalkan jejaknya ya


__ADS_2