
"Seperti hujan, masalah terus saja berdatangan. Tapi ingatlah, hujan pasti akan reda pada waktunya"
"Revan, Vino!" teriakku.
"Kania, ngapain kamu kemari, lebih baik kamu pergi sekarang!" perintah Vino.
"Gimana bisa aku pergi jika yang kalian bahas itu aku"
"Kamu datang disaat yang tepat, tanpa basa-basi aku akan bawa kamu ke Skandinavia," terang Revan.
"Jangan coba-coba!" larang Vino.
"Aku gak tau apa permasalahan kalian, tapi aku gak akan mau ikut dengan kamu Van," tegasku pada Revan.
"Mau atau enggak, aku bakal paksa kamu," ucap Revan lagi.
"Nia, yuk kita pergi dari sini," ajak Vino.
"Berhenti di sana," kata Revan lagi.
"Kurang ajar, kau menggunakan sihir padaku. Kembalikan waktu yang telah kau ambil"
"Lebih baik berdiam diri saja kak, jangan terlalu ngotot"
"Kania, pergi sekarang!" perintah Vino lagi.
Tanpa pikir panjang, aku langsung pergi dari tempat Vino. Namun sayang, Revan berhasil menangkapku.
"Mau pergi kemana hah?"
"Revan, lepaskan aku. Sampai kapanpun aku gak akan ikut kamu ke Skandinavia atau apalah itu," jelasku yang tengah mencoba melepaskan cengkraman Revan.
"Emang kamu punya hak untuk memutuskan itu? Di sini, aku yang memutuskan semuanya. Kalian, ikut perintahku!" tegas Revan padaku dan Vino.
__ADS_1
"Lepas gak, aku gak bisa bernapas tau"
"Ayo, kita pergi sekarang!" jelas Revan lagi yang sedang menuju sebuah lubang hitam.
"Vinoooo....tolong aku," ucapku dengan nada rendah.
"Kaniaaa...," teriak Vino yang berhasil menggerakkan tubuhnya.
"Lepaskan dia Revan!" tegas Vino lagi dan langsung menonjok wajah Revan.
Berkat Vino, Revan lengah dan kehilangan keseimbangan lalu jatuh. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, langsung saja aku berlari menuju pintu yang jaraknya lumayan jauh dari tempatku berdiri.
Gubrakk!
Satu kelemahan yang kupunya, aku terlalu ceroboh apalagi saat panik. Lihat saja, dalam keadaan begini pun aku masih sempat-sempatnya jatuh seperti tokoh-tokoh dalam sebuah sinetron.
"Kenapa kamu bandel banget sih, jatoh kan jadinya," ucap Revan yang menjeratku dengan akar-akar pohon yang keluar dari tangannya.
"Jika kamu mau Kania tetap di sini, ambil dia dariku sekarang!" perintah Revan pada Vino.
"Terserah, aku gak ingin bermain-main, sampai jumpa lagi, kakak," ucap Revan lagi sebelum membawaku masuk kedalam lubang hitam tersebut.
Aku tak tau harus bagaimana lagi, bahkan sekarang aku tak dapat menolak ajakan Revan, karena aku tak bergerak sama sekali. Kau tau apa yang terjadi pada Vino? Aku melihat dia tertimpa reruntuhan rumah yang baru dibuatnya kemarin, itu semua ulah Revan, adiknya sendiri.
Gelap dan dingin, itulah yang kurasakan sekarang. Aku tak pernah menyukai hal-hal seperti ini. Tampaknya, aku dikurung dengan penjagaan yang sangat ketat. Sampai sekarang pun, aku tak tau apa maksud dan tujuan dari Revan untuk membawaku kesini. Yang pasti, ini semua berhubungan dengan putri Camilla yang namanya sering disebut oleh Revan.
"Makan nih," sodor sepiring nasi oleh seorang penjaga.
Aku hanya menatap sepiring nasi itu dengan tatapan kosong, siapa yang memiliki selera makan saat terkurung begini? Aku pun tak memiliki selera makan sama sekali.
"Kenapa gak dimakan, Kania?" tanya seseorang bernama Revan yang mukanya tak ingin kulihat sama sekali.
"Siapa juga yang mau makanan busuk seperti itu," jawabku dengan sinis tanpa melihat wajahnya.
__ADS_1
"Terserah, cepat atau lambat kau akan makan makanan yang kau sebut busuk itu"
"Kenapa?" tanyaku lirih.
"Kenapa apanya?" balas Revan yang seolah-olah tidak tau maksudku.
"Kenapa kamu bawa aku kesini hah?" ucapku yang tanpa sadar menarik kerah bajunya.
"Lepaskan tanganmu dari bajuku! perintah Revan dengan wajah yang cukup membuatku merasa takut
"Kau tanya kenapa? Untuk sekarang, kau tak perlu tau alasannya, suatu hari nanti kau akan mengerti kenapa aku membawamu kemari," tambahnya lagi.
"Kenapa harus nanti jika bisa dikatakan sekarang?"
"Kau sebaiknya bersikap baik selama ada di sini," ujarnya lagi dan langsung melangkah pergi.
"Tunggu, gimana dengan Vino? Keadaannya seperti apa sekarang?"
"Vino? Ahhh...kak Alvi maksudnya. Jika tidak mati, dia hanya akan mengalami luka-luka yang cukup berat atau bahkan mengalami patah tulang," balas Revan dengan santai.
"Ternyata, kamu gak sebaik yang aku kira. Bahkan, kamu tega menyakiti kakak kamu sendiri tanpa merasa bersalah sedikitpun"
"Tau apa kau tentang aku dan dia, jangan pernah mengkritik setiap perbuatanku. Karena kau tak punya hak untuk melakukan itu"
"Aku memang tak memiliki hak itu, namun aku bebas menilai siapapun dan kapanpun!" tegasku pada Revan.
"Berani juga kau ngomong gitu. Sudahlah, aku tak perlu meladeni orang seperti kau yang sok peduli dengan orang lain" ucap Revan lagi dan langsung pergi.
Saat di kota Petra, sikap Revan begitu baik kenapa sekarang sikapnya berubah 180 derajat. Sebenarnya apa penyebab dibalik sifatnya yang begitu, dan apa masalah antara dia dan Vino sehingga dia begitu tak menyukai keberadaan Vino.
"Kania bodoh, masih sempat-sempatnya kamu memikirkan orang lain. Pikirkan diri kamu sendiri, dan cari cara agar bisa keluar dari tempat aneh ini," batinku sambil mencari celah dari ruangan yang layak disebut penjara ini.
Seketika, aku mengingat kejadian aneh yang menimpaku akhir-akhir ini. Mulai dari kota Petra, kemunculan Vino, bahkan Skandinavia. Semua itu berhubungan satu sama lain, tapi mengapa harus aku yang mengalami ini semua? Apakah ini sebuah takdir atau hanya sebuah kebetulan dan ketidaksengajaan? Apapun itu, aku tak ingin terikat diantara Revan dan Vino.
"Semangat Kania, semuanya akan segera berlalunya. Ingat, dibalik setiap kejadian, pasti ada hikmah yang terkandung didalamnya," batinku yang tengah mencoba menyemangati diri sendiri.
__ADS_1