
"Sebentar lagi, kekacauan yang sedang terjadi akan segera pergi. Dan pelaku sebenarnya akan dieksekusi"
"Lebih baik minggir atau saya akan menghabisi kalian," ucap Ares lagi.
"Jangan harap, kalian tak diizinkan masuk lebih jauh dari ini," tegas prajurit tersebut.
"Jangan salahkan saya jika kalian mengalami luka-luka ataupun patah tulang," seru Ares dengan senyuman yang licik.
Dengan sekejap, Ares berhasil mengambil tombak prajurit tersebut yang digunakan untuk menodong kami bertiga.
"Sekali lagi saya peringatkan, mundur sekarang atau kalian akan merasakan akibatnya," ucap Ares lagi sembari menodongkan tombak tersebut.
"Memang anda adalah orang kepercayaan raja Skandinavia, tapi di sini anda tak memiliki hak apapun," ucap prajurit lain dan langsung menghunuskan pedangnya pada Ares.
Tanpa berpikir lagi, aku dan Revan langsung memukul para prajurit yang menghadang. Menjatuhkan pedang yang akan menghilangkan nyawa kami terutama Ares.
"Crasshhh...," serang Ares melukai salah seorang prajurit dengan pedang yang tergeletak di tanah.
Memang tak salah jika Ares adalah orang kepercayaan raja Carey Mulligan, selain cakap juga jago dalam hal bela diri terutama memainkan pedang. Dalam sekejap, beberapa prajurit dapat di lumpuhkan tanpa bisa berkutik lagi.
"Fyuuhh...sudah saya ingatkan pada kalian. Pedang ini akan saya ambil," ucap Ares lagi.
"Ayo kita pergi menuju sumur api naga," ajaknya padaku dan Revan.
Untuk berjaga-jaga, kami mengambil pedang dan tombak dari beberapa prajurit yang menghadang dan telah dikalahkan oleh Ares.
"Keren banget kamu Res, dalam sekejap berhasil melumpuhkan mereka. Padahal kita berdua belum melakukan apa-apa, lain kali ajarin aku main pedang kaya gitu," ujar Revan takjub.
"Kenapa gak minta ajarin Alvi? Dia kan juga jago," balas Ares.
"Kak Alvi mah jagonya bela diri, kalo mainin pedang dia agak lemah. Tapi meski gitu, dia berhasil jadi orang kepercayaan putri Camilla," tambah Revan lagi.
"Kapan-kapan deh saya ajarin kamu memainkan pedang, untuk sekarang kita fokus mencari sumur api naga," timpal Ares lagi.
__ADS_1
"Iya, aku yang akan membunuh Alexander Louis dengan tanganku sendiri," emosi Revan.
Tak terasa, kami telah tiba di perbukitan Graham.
"Kenapa bukitnya terjal dan curam gini sih," kesal Revan.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya, perbukitan Graham ini banyak bebatuannya. Masyarakat juga jarang datang kesini karena cukup berbahaya," jelasku lagi.
"Cepat susuri bukit ini. Gua itu pasti berada tak jauh dari sini," perintah Ares.
Dengan susah payah, kami mencari letak dimana sumur api naga itu berada.
"Warghhh...," teriak Revan tergelincir dari bukit dan jatuh kedalam jurang.
"Revan, kamu gak papa?" teriakku memastikan keadaan Revan.
"Gak papa kak, aku coba cari di sini siapa tau sumur naga berada tak jauh di sekitar sini. Kalian tunggu saja, aku akan kembali setelah memastikannya," seru Revan berlalu pergi.
"Yakin sumur api ada di bawah jurang sana?" tanya Ares tak yakin.
"Aku juga gak yakin sih, tapi biarkan Revan mencari di sana siapa tau memang ada," balasku.
"Karena Revan tinggal di kastil Serilya bersama dengan Alexander Louis yang menjadi biang dari masalah ini"
"Tunggu, jadi dia tinggal bareng Alexander Louis itu? Bagaimana bisa kita mempercayai Revan? Kalo dia hanya mata-mata gimana?"
"Gak mungkin, Revan sendiri bilang kalo dia sudah tak percaya lagi pada Alexander Louis bahkan mau membunuh Alexander Louis dengan tangannya sendiri"
"Saya tak berhak tau masalah internal kalian, tapi saya juga percaya kalau Revan memiliki tekad yang kuat pada Alexander Louis itu"
"Iya, Revan merasa sakit hati karena telah dibohongi oleh ayah angkatnya itu"
"Saya ngerti perasaan Revan yang dibohongi oleh orang yang paling kita percaya. Semoga Revan membawa kabar baik dari jurang sana"
"Iya, semoga saja"
__ADS_1
Membutuhkan waktu yang agak lama untuk Revan mengecek jurang tersebut.
"Hoii... sepertinya aku telah menemukan sumur api naga itu," teriak Revan sumringah sambil melambaikan tangannya.
"Yang benar?" tanyaku dan Ares dengan tak percaya.
"Iya, cepetan turun sekarang juga," perintah Revan.
Mendengar kabar baik dari Revan, aku dan Ares langsung turun memasuki jurang.
"Dimana sumur api itu berada?" tanya Ares tak sabar.
"Di dalam hutan sana, lumayan jauh juga menuju gua bawah tanah itu," jelas Revan.
"Kamu sudah mengecek kedalam?" tanyaku memastikan.
"Belum sih kak, soalnya kan kalian nungguin aku juga. Kalo kelamaan, bisa-bisa kita ketangkap sama prajurit Mestre. Dan lagi, cuma di sini yang ada gua yang cukup besar," jelas Revan lagi.
"Ayo bergegas kesana," ajakku dengan semangat.
Seperti kata Revan tadi, gua ini terlihat begitu besar dan luas. Meskipun tak terjamah tapi gua ini cukup indah dihiasi banyak stalaktit dan stalakmit.
"Wahh...besar banget gua nya, gak nyangka kalo di dalamnya bisa seluas ini," takjub Revan melihat keadaan sekitar gua.
"Sepertinya memang inilah gua yang kita cari. Seperti kata Alvi, tempat ini cukup tersembunyi pasti tak ada orang yang datang kesini. Dan naga di sumur api itu pastilah penjaga gua ini dari tangan-tangan manusia yang akan mengotori tempat ini," jelas Ares memperhatikan setiap sudut gua.
"Iya, kalo orang lain tau di sini ada gua yang kaya gini bisa-bisa dijadikan tempat untuk ritual dan pemujaan lagi," ucap Revan menerka-nerka.
Kricikk...kricikk
Terdengar suara air mengalir tak jauh dari tempat kami berdiri. Sepertinya suaranya berasal dari bawah tanah.
"Kalian dengar? Sepertinya itu adalah sumur api yang kita cari-cari," seru Ares yang tampak girang.
"Iya bener-bener, pasti itu sumur api naga. Kira-kira naga penunggu sumur itu lagi tidur atau mandi ya? Kalo tidur mah kita gak perlu susah-susah untuk melawannya tinggal potong aja tuh tanduk," cerocos Revan menerka-nerka.
__ADS_1
"Jangan menerka terus Van, lebih baik kita pastikan langsung," ucapku berjalan berjalanan menuju sumber suara.
"Ternyata benar ini adalah sumur api!" seru Revan dengan girang.