
"Hidup itu dipenuhi banyak misteri ya, hal ini pun aku tak mampu untuk memahaminya"
***
"Rindu juga aku sama kampus".
"Heran gue, kampus aja bisa di rinduin".
"Iya dong, ini kan kampus yang paling aku impikan ya jelas lah aku rindu apalagi sama orang-orangnya," jelasku pada Yuna.
"Serah lo dah," balas Yuna dengan heran.
Langit itu tampak begitu indah dan menakjubkan. Perpaduan sempurna antara sinar matahari yang hangat, langit yang menenangkan, serta awan putih bagaikan salju.
"Huhh...capek juga ya belajar setelah 1 semester libur," keluhku.
"Siapa tadi yang katanya rindu kampus, tau-tau nya capek juga kan," kesal Yuna.
"Ya maaf, aku gak tau kalo udah kelamaan cuti terus mulai belajar lagi rasanya berat dan melelahkan".
"Itu makanya sebisa mungkin gue gak pernah libur meskipun gue orang yang malas, karena nanti bisa keterusan".
"Iya sih, baru 6 bulan aku gak di sini, ternyata banyak juga yang berubah," kataku lagi sambil melihat sekitar.
"Ya gitulah, setiap kampus pasti ingin memberikan fasilitas terbaik mereka bagi mahasiswa agar mereka pada betah".
"Pengen cepat-cepat pulang, huaa...,".
"Oh iya Kan, gue gak bisa pulang bareng lo soalnya gue ada persiapan sama anak musik buat pentas seni nanti".
"Pensi? Kapan?".
"Kurang lebih sekitar satu bulan lagi".
"Yahhh...gue gak bisa ikut partisipasi dong," sedihku.
"Tahun depan lo bisa ikutan kok," hibur Yuna.
"Masih lama," sedihku.
Hari yang lumayan melelahkan akhirnya terlewati juga.
"Kania, bolos yuk," kata Yuna dengan tiba-tiba.
"Hah...ngapain bolos, kan kamu sendiri yang bilang kita harus rajin datang. Kenapa mendadak ngajakin bolos".
"Gue lagi pusing banget, bentar lagi pensi bakal diadain gue banyak kerjaan yang jadi panitia pensi lah, persiapan buat pertunjukan musik lah. Butuh istirahat sejenak gue".
"Senior apa yang ngajakin juniornya buat bolos".
"Permasalahannya tuh beda Kan, ayo dong bolos sekalliii aja," mohon Yuna.
"Janji ya, kamu gak bakalan bolos lagi setelah ini".
__ADS_1
"Iya, aku janji kok," senyum Yuna.
"Mau kemana emangnya?".
"Pantai yuk".
Cukup kali ini saja aku ikut bolos dengan Yuna. Meskipun aku tau itu hal yang salah, tetap saja Yuna adalah sahabat yang paling tak bisa aku abaikan. Aku tau, dia sudah bekerja keras untuk pentas seni kampus.
"Yeayyyy...udah lama gue gak main ke pantai," girang Yuna.
"Aku masih gak enak karena bolos nih".
"Yaelah, santai aja napa Kan".
"Tapi kan aku masih ada kelas," kataku lesu.
Tring...
"Yes, ternyata pak Albert gak bisa masuk hari ini," kataku semangat setelah melihat pesan dari grup kelas.
"Tuh kan apa gue bilang, santai aja. Dan ternyata pak Albert gak datang jadi lo gak perlu khawatir lagi".
"Iya Na," balasku singkat.
"Lomba lama-lamaan nyelam yuk" tantang Yuna.
"Oke, siapa takut," kataku dengan yakin.
"Benda apa itu yang berkilauan, samperin ah," batinku menyelam mendekati benda yang berkilau itu.
"Gue tau lo jago nyelam Kan, tapi gak selama ini juga kali," celoteh Yuna.
"Ya sorry Na, aku nemuin kalung nih," tunjukku pada Yuna.
"Wahh..warnanya mencolok banget ya, buat gue aja sini," rampas Yuna.
"Enak aja, aku yang nemuin kalung ini. Jadi ini milikku," rampasku balik.
"Tapi kan lo gak suka sama yang warnannya merah mencolok kaya gini," kilah Yuna.
"Untuk yang satu ini, aku suka," balasku lagi".
"Yaudah deh," kata Yuna lesu.
Seperti kata Yuna, aku memang tak begitu menyukai warna mencolok seperti warna merah ini. Tapi entah mengapa rasanya aku seperti terhipnotis akan indahnya kalung ini. Sayang disayangkan jika kalung ini menjadi milik Yuna.
"Halo, hmmm...iya besok kita ada pertemuan lagi," ucap Yuna pada seseorang di sebrang telepon.
"Pasti capek banget ya Na harus ngerjain ini itu".
"Iya Kan, gue tidur duluan ya. Badan gue pegel-pegel semua," katanya lagi sambil merebahkan badannya di kasur.
"Langit malam ini cerah ya, ada bulan dan
__ADS_1
banyak bintang," gumamku melihat langit dari sebuah balkon.
"Ngapain lo diluar Kan, tidur gih," teriak Yuna.
"Katanya mau tidur, kenapa masih bangun?".
"Itu karena gue merasa terganggu ngeliat lo di luar, masuk sini lalu tidur," perintah Yuna.
"Dasar bawel," kesalku.
Gubrak!
"Hahh...suara apa itu," ucapku yang langsung terbangun akan suara tersebut.
"Yuna, bangun kayanya ada suara yang jatoh deh, temani aku liat keluar. Takutnya ada maling," kataku khawatir sambil menggoyang tubuh Yuna.
"Mana ada maling yang masuk ke lantai tiga Kan, palingan itu suara tetangga sebelah," ucap Yuna dengan berat.
"Gak kok, suaranya dekat dari sini".
"Yaudah, lo liat aja sendiri sana. Gue mau lanjut tidur lagi".
"Haduhh...Yuna gak bisa diandelin banget sih, dia gak khawatir apa kalo ada orang asing atau maling yang masuk kemari," batinku mencari sumber suara sambil memegang sebuah sapu.
Krompyang!
"Hehh...maling, ngapain kamu di sini, pergi sana," teriakku sambil memukul orang itu dengan sapu.
"$۴ôۣ^" ucapnya sambil menoleh.
"Hahh...kamu siapa sih, dan kamu ngomong pake bahasa apa? Kamu alien ya?" kataku gelapapan.
"Putri Camilla," ucapnya lagi.
"Putri Camilla siapa? Gak ada di sini yang namanya Camilla".
"Putri Camilla, ini saya Alvino Pradipta".
"Aneh banget sih, masa iya maling pake baju ksatria di jaman kerajaan. Pergi kamu dari sini, husshh... husshh...," usirku.
"Saya datang kesini untuk menjemput Putri Camilla".
"Papa nyuruh kamu jemput aku?. Ehh..tunggu dulu, kenapa mendadak namaku berubah jadi Camilla?".
"Itu memang nama Putri, Camilla Zaqueen," tandasnya.
"Hahahaha....bercanda kamu tuh gak lucu. Dan lagi, kamu kenapa bisa masuk kesini?" tanyaku heran.
"Saya berasal dari kalung batu yang di sana," tunjuknya pada kalung yang kutemukan tadi.
"Kamu gak usah bercanda deh".
"Saya gak bercanda putri Camilla, malam ini adalah malam purnama yang ke 48. Saya telah menunggu selama ini agar putri dapat menemukan saya," jelasnya yang membuatku bingung.
__ADS_1
"Haha....kok aku bingung ya. Kayaknya aku mimpi deh, kalo gitu aku balik tidur lagi ya supaya hal aneh ini segera hilang," kataku heran dan berjalan menuju tempat tidur.
Setelah membaca, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys seperti like dan komen agar author lebih semangat lagi dalam menulis. Terima kasih ☺️😊