
"Jangan tertipu dengan penampilan luar, bisa jadi yang kita anggap baik justru itulah keburukan yang sebenarnya"
"Revan, besok sudah waktunya untuk kita melakukan rencana itu"
"Iya Yah, jangan sampai rencana yang sudah kita susun sejak lama ini berujung dengan kegagalan"
"Pastikan agar Kania tak melawan"
"Iya, Revan akan pastikan Kania agar menuruti perkataan Revan"
Hatsyiii...
"Siapa disana?" tanya Revan sambil mencari sumber suara.
"Haduhh...gawat, bisa-bisanya nguping pembicaraan orang dan sekarang malah bersin. Harus kabur sekarang," gumamku dalam hati dan langsung berlari pergi.
"Hampir aja ketahuan. Acara apa yang dimaksud oleh Pak Louis dan Revan ya, kenapa juga harus sebut-sebut nama aku. Kelihatannya ini bukan hal yang baik, pokoknya aku harus keluar dari kastil ini pada saat semua orang sudah tidur," pikirku dengan yakin.
Di saat semua orang telah terlelap dan tenggelam dalam mimpi. Aku malah ingin meloloskan diri dari jeratan rantai yang telah mengukungku.
"Oke, sekarang semua orang yang ada di sini udah pada tidur. Sebaiknya aku harus cepat sebelum ketahuan," pikirku sambil mengendap-endap.
"Sihir pelindung yang dipasangi Revan masih berlaku gak ya, bodo ah coba aja dulu," pikirku lagi menerobos gerbang utama kastil.
"Sihirnya udah gak ada lagi, sejak kapan ya? Kalo tau gini mending aku keluar dari kemaren-kemaren," umpatku lagi sambil keluar dari lingkungan kastil.
"Yessss....akhirnya aku berhasil keluar, gak nyangka ternyata mudah banget keluar dari sini. Gak ada yang ngeliat aku juga. Sekarang aku bebas," ucapku dengan girang.
Namanya juga tengah malam, semua orang tengah terlelap dalam mimpi. Sedangkan aku, tak tau harus pergi kemana.
"Gelap banget di sini, mana sepi lagi. Aku harus cari tempat untuk tidur dulu," pikirku sembari menyusuri jalanan kota.
"Kamu pikir, kamu bisa keluar dari kastil hah?" ucap seorang lelaki yang suaranya sangat kukenal.
"Revan," ucapku tak percaya.
"Berani juga kamu kabur. Ternyata, kamu memang gak bisa dibaikin ya. Ikut aku pulang," paksa Revan yang menarik tanganku.
"Gak, aku gak mau," berontak ku melepas cengkraman Revan dan langsung berlari.
"Tidak semudah itu. Kemana pun kamu pergi, aku akan menemukan kamu," balas Revan yang akhirnya menyusulku.
"Huhuhu...aku gak mau balik kesana lagi. Biarkan aku pulang Revan, aku sudah terlalu lama di sini," pintaku.
__ADS_1
"Enggak, kamu harus di sini setidaknya sampai besok"
Sepertinya, aku tak memiliki hak untuk memilih. Aku dijadikan kelinci percobaan tanpa tau apa yang akan mereka lakukan padaku. Tak ada yang bisa kulakukan selain menumpahkan semuanya lewat air mata yang jatuh membasahi pipi.
Brukk!
"Kamu diam di sini, jangan keras kepala," tegas Revan.
"Sakit tahu, kamu kasar banget ngelempar aku gitu aja," kesalku pada Revan.
"Memang hal itu penting sekarang?"
"Gak penting sih, cuma kan sakit"
"Jangan banyak ngeluh, terima aja nasib kamu di sini"
"Oke, aku akan terima. Tapi kasi tau aku untuk apa aku di sekap di sini. Sudah hampir tiga minggu, tapi gak ada yang memberitahu padaku akan hal ini"
"Sebelum aku kasi tau, aku mau nanya satu hal. Kamu suka nolong orang kan?"
"Iya, selama aku bisa membantu orang lain, aku akan berusaha semaksimal mungkin"
"Nah itu dia, tujuan kamu di sini untuk menolong orang lain"
"Nolong apa? Sejak awal kamu tak pernah menyebutkan kata-kata tolong"
"Terus aku bisa bantu apa? Aku juga bukan seorang dokter," balasku santai.
"Aku tau. Yang kami butuhkan itu darah kamu. Karena darah kamu bisa menjadi obat penawar bagi warga yang terkena wabah penyakit"
"Hahaha....darah aku? Emang darahku itu darah suci apa? Apa gak bisa orang lain yang menyembuhkan wabah itu," balasku dengan heran.
"Darah suci sih bukan, cuma kamu adalah putri Camilla keturunan langsung dari raja Korvaxep III"
"Apa maksudnya Camilla, aku adalah Kania. Kamu juga tau akan hal itu," balasku membantah.
"Aku tau, cuma tuan Louis bilang bahwa kamu adalah putri Camilla, dan ia tak memberitahukan alasan kenapa dia bilang begitu"
"Aneh, kenapa juga kamu gak nanya hal itu sama pak Louis," ucapku dengan kesal.
"Kamu terlalu banyak bertanya. Sudah terlalu banyak hal yang kuberitahu. Nikmati hari ini, dan besok kamu akan dianggap sebagai pahlawan," ucap Revan meninggal ruang tahanan.
"Putri Camilla lagi, sebegitu istimewanya kah dia sampe semua hal ini berhubungan dengannya. Padahal, dia gak ada di sini. Tau ah, tidur aja kali ya, urusan besok dipikirkan besok lagi. Toh, jika memang aku di sini untuk menyembuhkan warga yang terkena wabah aku tak keberatan juga," pikirku sebelum merebahkan badan pada sebuah tikar.
Malam tak selalu kekal, akan ada pagi yang hadir menemani. Lihat saja, kejadian apa yang akan menanti esok hari.
__ADS_1
"Bangun, bangun," teriak seorang penjaga.
"Tuan muda Revan sudah menunggu," tambahnya lagi.
Tak ingin ambil pusing, aku melangkahkan kaki tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Tumben diem, biasanya kamu yang paling berisik," ucap Revan dengan heran.
"Hmm...," balasku melihatnya.
Ya, di sinilah aku. Dikorbankan demi mengobati warga yang terkena wabah penyakit. Terlihat Revan, pak Louis dan pengurus kastil ada di sana. Pak Louis sedang membacakan mantra yang tak kuketahui apa maksudnya.
"Akhirnya, setelah sekian lama aku bisa membangkitkan pasukan Manuela," seru pak Louis.
"Apa! Pasukan Manuela? Ayah gak salah ngomong kan? Itu pasukan terlarang yang telah menghancurkan Skandinavia beribu-ribu tahun yang lalu," ucap Revan dengan kagetnya.
"Hahahaha....kamu bodoh, tujuanku untuk membangkitkan pasukan Manuela beserta jendral Banderas yang akan dibangkitkan sebentar lagi. Sebelum itu, aku akan mengambil jantung Kania," jelas pak Louis.
"Jangan bercanda! Hentikan ini semua Ayah, bukan itu tujuan kita sebenarnya," larang Revan lagi.
"Kamu tak berhak memerintah. Sejak awal, penawar untuk wabah itu telah ditemukan. Cuma kamu yang cukup bodoh untuk dimanfaatkan"
"Untuk apa semua ini?"
"Tentu saja balas dendam atas kejadian yang menimpa keluargaku"
"Tak bisa dibiarkan," marah Revan dan langsung menusuk pak Louis dengan pedang.
"Ughh...seharusnya aku tau pernah mengajari kamu menggunakan pedang"
"Kania, kamu tak pantas berada di sini. Ayo kita pergi," ucap Revan yang telah membebaskanku dari rantai.
"Gak bisa, aku lemas sekali," balasku.
"Oke, aku akan gendong kamu," ucapnya lagi dan langsung bergegas meninggalkan kastil
"Kejar Revan dan bawa gadis itu kemari. Kita membutuhkan dia," ucap pak Louis pada pasukan Manuela.
"Hahh..hah...aku tak tau apakah mereka akan mengejar sampai sini atau tidak," ujar Revan dengan napas terengah-engah.
"Ntahlah, aku lemas sekali. Dan luka ini semakin lama semakin perih," ucapku lemas.
Gubrak!!
"Kania bangun. Kamu gak boleh mati di sini!" teriak Revan.
__ADS_1
Akankah Kania mati dengan semudah ini?