
*"Aku pernah bermimpi, gimana serunya jika aku hidup di zaman kerajaan. Namun aku tak pernah berpikir untuk pergi dengan cara begini"
"Revan!" kagetku dan Vino secara bersamaan.
"Revan, kamu kenapa bisa ada di sini?" tanyaku dengan heran.
"Aku kesini mau bertemu dengan kalian berdua," balasnya dengan santai.
"Untuk apa?" tanya Vino dengan dingin.
"Santai dong kak, aku datang kesini karena kangen sama kakak loh"
"Sejak kapan kamu kangen sama aku? Kita pulang aja yuk Ni," ajak Vino yang menghiraukan Revan begitu saja.
"Tunggu, kamu dan Revan Abang adik?"
"Iya, kamu kok bisa kenal sama dia?" tanya Vino.
"Jadi waktu itu aku sempat koma di rumah sakit, sepertinya aku berada di alam bawah sadarku, disitu aku ketemu sama Revan," jelasku pada Vino.
"Kamu tau kenapa kamu bisa sampe kesana?"
"Gak tau, waktu itu aku juga bingung karena di sana aku gak bisa keluar dari kota Petra bahkan keluar dari gerbang utama ibukota aja aku gak bisa"
"Ini pasti ulah Revan," kata Vino dengan yakin.
"Kenapa? Revan baik kok"
"Kamu gak bisa nilai orang dari penampilan luarnya aja"
"Kok kamu gitu sih sama adik kamu sendiri? Kayanya kalian punya masalah!"
"Ya, kurang lebih begitu"
"Ceritakan ke aku dong Vin, aku penasaran kenapa kalian kaya musuh bebuyutan gitu"
"Nanti aja aku ceritakan ke kamu, aku harus pulang dulu"
"Hmm...yaudah deh, tapi janji harus cerita"
"Iya," balasnya singkat dan langsung pergi.
__ADS_1
"Heran deh, kenapa bisa Revan adiknya Vino? Terus gimana ceritanya Revan bisa muncul di dunia nyata, bukannya dia hanya tokoh dalam duniaku sendiri?" gumamku sembari memasuki apartemen.
"Kemana aja lo Kan?" tanya seseorang yang membuyarkan lamunanku.
"Ehh..Yuna, aku habis dari luar kok"
"Dari pagi udah ngilang, lo buat gue khawatir tau gak?"
"Iya, aku habis ketemuan sama teman kampus buat ngerjain tugas kuliah, terus kita sempat ke taman bermain juga"
"Enak banget ya lo pergi ke taman bermain sendirian gak ngajak-ngajak gue," cemberut Yuna.
"Aku gak sendirian kok, bareng sama teman kampus"
"Maksud gue lo pergi sendirian tanpa adanya gue, tega banget lo Kan"
"Kamu tadi ngampus, sedangkan aku gak ada kelas hari ini, makanya di manfaatkan buat ngerjain tugas," jelasku pada Yuna.
"Yaudah deh, kali ini lo gue maafin lain kali lo harus ajak-ajak gue," tekan Yuna.
"Siap bos," balasku tanpa pikir panjang.
"Untung aja Yuna gak nanya yang aneh-aneh, dia gak boleh tau soal Vino bisa-bisa dia histeris banget," batinku.
Senja hadir membawa warna indahnya, menggusur posisi matahari sore pertanda malam akan segera datang.
"Iya Kan, gue tadi pulangnya lebih awal jadi gue masak aja buat makan malam"
"Uluhhh...uluhh... senangnya aku yang bisa dimasakin sama kamu Na"
"Biasa aja kali Kan, gak usah pake nyindir segala," cemberut Yuna.
"Aku gak nyindir kok, kan aku senang karena kamu masakin makan malam spesial buat kita," ucapku dengan senang.
"Oh iya Kan, emang lo pergi sama siapa ke taman bermain?"
"Itu....sama teman kampus lah," jawabku dengan gugup.
"Iya, teman kampus siapa maksud gue"
"Adalah, kamu gak kenal Na"
"Siapa sih, kayanya rata-rata gue tau deh sama teman sekelas lo"
__ADS_1
"Tapi kali ini kamu gak bakal tau"
"Jangan-jangan pacar lo ya, atau gebetan?"
"Apaan sih Na, emang cuma teman kok"
"Kok mencurigakan ya," kata Yuna yang tampak tak percaya.
"Oh iya, ini sisa makanannya masih banyak loh, aku bawa ya"
"Bawa kemana?" tanya Yuna dengan heran.
"Itu...aku mau ngasi ke anak yatim yang ada di ujung jalan sana"
"Hahh...emang ada?, Mau gue temenin sekalian?"
"Gak usah Na biar aku sendiri aja lagian gak jauh kok," tolak ku sambil buru-buru memasukkan makanan ke dalam rantang.
"Yaudah, aku pergi dulu ya. Assalamualaikum," ucapku lagi dan langsung pergi.
"Kenapa sih sama Kania, aneh banget dari tadi pagi," heran Yuna melihatku berlalu pergi.
Memang benar kata pepatah, jika sekali berbohong maka kebohongan lainnya akan mengikuti. Seperti yang kulakukan sekarang, aku telah membohongi Yuna agar dia tak mengetahui tentang Vino. Sebenarnya, aku tak bermaksud melakukan itu, tapi jika Yuna mengetahui nya dia pasti tak percaya akan kehadiran Vino.
"Setelah menyakiti putri Camilla, kamu mau nyakitin Kania juga?"
"Berpikiran negatif mulu sih kak, aku kesini gak mau nyakitin Kania, malah sebaliknya aku mau ketemuan sama Kania karena dia teman aku juga"
"Halahh.... omong kosong, semua ucapan yang keluar dari mulut kamu itu gak ada yang bener"
"Zaman udah berubah kak, masa iya kak Alvi masih berpikiran negatif terus terhadap aku"
"Gak usah pura-pura lagi, aku tau semua hal yang telah kamu lakuin terhadap Skandinavia, putri Camilla bahkan aku. Bilang sekarang juga, kamu mau ngapain datang jauh-jauh kemari?"
"Memang kak Alvi paling pinter ya, kebohonganku selalu diketahui oleh kakak. Ya, aku memang datang untuk membawa Kania ke Skandinavia untuk dikorbankan"
"Jangan macam-macam kamu Revan, aku gak bakal biarin kamu nyentuh Kania sedikit pun"
"Kita lihat saja nanti, aku yang berhasil bawa Kania ke Skandinavia atau kak Alvi yang berhasil melindungi Kania. Oh iya aku baru ingat, putri Camilla aja kamu gak berhasil melindunginya, apalagi Kania yang hanya seorang manusia biasa"
"Apa kamu bilang!" ucap Vino yang tampaknya sangat marah.
Aku tau, menguping pembicaraan orang lain itu gak baik, tapi aku masih tak percaya pada apa yang kudengar barusan. Revan yang selama ini kuanggap baik malah mau mengorbankanku. Sebenarnya apa masalah diantara Vino dan Revan? Kenapa juga aku harus terlibat di dalamnya?
__ADS_1
**Revan dan Vino kakak adik? 😱
Tinggalkan jejak dan tambahkan ke favorit ya😋**